Ayatullah Larijani: Pembantaian Muslim Myanmar, Contoh Nyata Genosida
https://parstoday.ir/id/news/iran-i44521-ayatullah_larijani_pembantaian_muslim_myanmar_contoh_nyata_genosida
Ketua Lembaga Kehakiman Republik Islam Iran mengatakan, kekerasan dan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar adalah contoh nyata dari genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
(last modified 2026-03-07T18:24:46+00:00 )
Sep 19, 2017 10:51 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sadeq Amoli Larijani ,Ketua Lembaga Kehakiman Republik Islam Iran
    Ayatullah Sadeq Amoli Larijani ,Ketua Lembaga Kehakiman Republik Islam Iran

Ketua Lembaga Kehakiman Republik Islam Iran mengatakan, kekerasan dan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar adalah contoh nyata dari genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ayatullah Sadeq Amoli Larijani mengatakan hal itu dalam rapat para pejabat tinggi kehakiman Iran pada Senin (18/9/2017). Ia mengecam keras kejahatan terhadap Muslim Rohingya.

"Kejahatan ini terjadi dengan dukungan seorang individu yang memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian, dan masyarakat internasional juga hanya bungkam atas tragedi ini," imbuhnya.

Ia menjelaskan, masyarakat internasional menjatuhkan sanksi terberat terhadap penyanderaan beberapa orang di sebuah negara, namun ketika menyikapi kejahatan keji terhadap Muslim Rohingya, mereka hanya cukup mengungkapkan "Penyesalan yang sederhana."

Di bagian lain pernyataannya, Ketua Lembaga Kehakiman Iran mengucapkan selamat atas kemenangan-kemenangan Front Muqawama di Suriah dan Irak dalam melawan kelompok-kelompok teroris takfiri.

Ia menuturkan, kelompok-kelompok teroris yang muncul dan difasilitasi sejumlah negara regional dan rezim Zionis (Israel) sedang menuju kehancuran penuh berkat upaya dan bantuan pasukan relawan Irak dan Suriah serta dukungan bernilai Iran.

Ayatullah Amoli Larijani juga menyinggung upaya Amerika Serikat untuk melanggar perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif).

"Pelaksanaan kewajiban Republik Islam Iran dalam JCPOA dibenarkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), namun AS tetap tidak konsisten terhadap komitmennya. Kami menasihati AS untuk merevisi kebijakan hegemonik dan ingkar janjinya," pungkasnya. (RA)