Pesan Iran kepada Dunia Islam
Kondisi di kawasan tidak lagi mentolerir adanya ketegangan baru. Semua pemain regional di Asia Barat memahami dengan baik masalah ini, namun tampaknya para pemain trans-regional berusaha untuk mengembalikan kondisi ketegangan dan konflik di kawasan.
Suasana ketegangan dan konflik di Asia Barat perlahan berkurang, bahkan Arab Saudi yang terjebak dalam kubangan yang dibuatnya sendiri di Yaman juga berusaha untuk keluar dari kondisi saat ini. Riyadh menyambut perundingan dengan Ali Abdullah Saleh, mantan Presiden Yaman agar bisa keluar dari masalah yang melilitnya itu dengan cara yang layak dan diplomatis.
Arab Saudi juga terlihat mundur dari upayanya untuk menciptakan krisis dan ketegangan di Lebanon dan krisis ini bisa dianggap berakhir setelah batalnya pengunduran diri Saad al-Hariri dari jabatan Perdana Menteri Lebanon.
Contoh terbaru lainnya adalah Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Menteri Luar Negeri Qatar dalam sebuah pernyataan, juga menyinggung beberapa persoalan regional. Ia mengatakan, persoalan ini harus diselesaikan melalui jalur diplomatik dan dialog.
Sebelum meletusnya krisis dan perang saudara di negara-negara regional, Republik Islam Iran telah berulang kali menegaskan dukungannya kepada cara-cara damai untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Meskipun Arab Saudi selalu berusaha menciptakan konflik dengan Republik Islam, namun pemerintah Tehran selalu menahan diri dan mengajak negara-negara Muslim untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur diplomatik.
Strategi tersebut merupakan interpretasi diplomatik dari ide persatuan di dunia Islam, di mana diplomasi adalah pengganti perang, sementara dialog di antara negara-negara Muslim adalah pengganti bentrokan dan pencegah perekrutan para aktor trans-regional.
Hassan Rouhani, Presiden Iran dalam pidatonya pada Sabtu (2/12/2017) menyinggung Pekan Persatuan dan menegaskan pentingnya untuk mengakhiri konflik di kawasan. Jika pesan ini didengar dengan baik oleh para aktor regional, maka kemungkinan untuk mengatasi kelompok-kelompok ekstrem di kawasan akan meningkat dan jalur untuk kerjasama regional serta mengubah negara-negara Muslim menjadi sebuah kekuatan dunia.
Meski demikian, jelas bahwa para pendukung sistem unipolar internasional di dunia Barat tidak ingin ada kekuatan lain yang terlibat dalam proses isu-isu global. Oleh karena itu, mereka menyuarakan perpecahan di antara negara-negara Muslim. Salah satu contohnya adalah klaim-klaim kontroversial dari Adel al-Jubeir, Menteri Luar Negeri Arab Saudi.
Menlu Arab Saudi yang kurang berpengalaman itu mengira bahwa dengan menuding Iran, ia akan bisa memulihkan stabilitas di kawasan. Al-Jubeir –yang memiliki hubungan erat dengan dinas-dinas keamanan Amerika Serikat ketika ia menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Washington– bertanggung jawab atas perannya sebagai kontraktor perang di kawasan. Ia juga bertanggung jawab atas perannya yang menghambat kerjasama regional dan menghalangi upaya untuk mengubah dunia Islam menjadi kutub berpengaruh di dunia.
Masyarakat dunia Islam yang telah lelah dengan perang dan konflik tertarik dengan pesan, seruan dan ajakan Republik Islam untuk menjalin kerjasama dan berdialog untuk menyelesaikan segala bentuk persoalan yang dihadapi. Yang pasti, dengan mengesampingkan "wajah-wajah" ekstrem dan bergerak ke arah persatuan dunia Islam akan menguntungkan semua aktor regional, dan melalui cara ini, pemikiran takfiri dan terorisme serta para penyebarnya akan terisolasi. (RA)