Jubir Kemlu Iran Minta P-GCC Memahami Realitas di Kawasan
-
Bahram Ghasemi, Jubir Kemlu RII.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menyarankan Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) untuk memahami secara teliti tentang realitas di kawasan ketimbang menyebar kebohongan dan tuduhan palsu.
Bahram Ghasemi mengungkapkan hal itu pada Rabu (6/12/2017) malam untuk mereaksi pernyataan akhir pertemuan para pemimpin negara-negara anggota P-GCC di Kuwait.
"Pernyataan ini adalah contoh nyata dari ketidakpahaman atas realitas di kawasan dan juga menunjukkan inefisiensi P-GCC)," kata Ghasemi seperti dikutip IRNA.
P-GCC di akhir sidangnya di Kuwait pada Selasa mengeluarkan pernyataan yang menuding Iran sebagai ekstrem dan menerapkan kebijakan ekspansionis.
Dalam pertemuan para pemimpin P-GCC, alih-alih dibahas mengenai isu Palestina dan kecamanan terhadap keputusan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat tentang al-Quds serta krisis Yaman, namun mereka justru menegaskan komitmennya untuk bekerjasama dengan Washington.
"P-GCC alih-alih membahas persoalan utama dunia Islam dan dukungan kepada rakyat tertindas Palestina serta rencana kontroversial pemindahan Kedutaan Besar AS ke Baitul Maqdis al-Sharif, namun justru membicarakan hal-hal yang tidak berguna dan dengan jelas telah berlepas tangan dari kewajiban Islam dan kemanusiananya terkait dengan Palestina," kata Ghasemi.
Jubir Kemlu Iran menuturkan, P-GCC alih-alih menyinggung berbagai kejahatan yang dilakukan setiap hari oleh Arab Saudi dan sekutunya terhadap rakyat tak berdosa Yaman, namun justru mengeluarkan pernyataan tesebut, di mana ini menunjukkan bahwa mereka telah menutup mata atas pembunuhan anak-anak dan perempuan tak berdosa Yaman serta kelaparan dan menyebarnya penyakit di antara jutaan orang di negara ini, bahkan mereka berdiri di samping para penjahat.
"Republik Islam Iran selalu mengumumkan kesiapannya untuk berdialog dan konsultasi dengan anggota-anggota P-GCC untuk mengurangi ketegangan dan mencapai solusi akhir persoalan di kawasan. Republik Islam juga meyakini bahwa penggunaan kekerasan dan pembunuhan terhadap banga-bangsa serta meminta bantuan asing tidak akan mampu untuk menyelesaikan persoalan, di mana sejarah di kawasan penuh dengan pengalaman pahit seperti ini, dan tentu saja gagal," pungkasnya. (RA