Iran Sebut Kehadiran AS di Suriah Picu Perpecahan Etnis
-
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, krisis Suriah harus diakhiri melalui cara politik dan melibatkan rakyat negara itu.
Dia mengungkapkan hal itu di bandara Ankara sebelum menghadiri pertemuan trilateral dengan menlu Rusia dan Turki untuk membahas Suriah.
"Tugas pemerintah negara-negara lain adalah mempercepat proses mencapai solusi politik dan tidak membuat keputusan atas nama rakyat Suriah atau mendefinisikan undang-undang dasar dan memprovokasi kelompok-kelompok perunding," ujar Zarif.
Menurutnya, pihak asing terutama negara-negara Barat yang menganggap dirinya sebagai pemimpin negara lain, tidak boleh mengizinkan dirinya untuk melencengkan proses Suriah dari jalur aslinya yang sudah mencapai hasil saat ini, dengan campur tangannya.

"Satu-satunya inisiatif yang sukses sejak pecahnya krisis Suriah sampai sekarang adalah pertemuan Astana dan Sochi. Tahun lalu, perang di Suriah mereda lewat proses di Astana, tapi proses ini seharusnya berubah menjadi sebuah proses politik. Namun, pertemuan Sochi sudah dilaksanakan dalam konteks ini," jelas menlu Iran.
Mengenai perkembangan di daerah Afrin, Zarif menandaskan sama sekali tidak ada pembenaran yang bisa diterima atas pelanggaran wilayah teritorial Suriah.
"Berkurangnya teroris di Suriah terlihat nyata, tapi perkembangan negatif yang terjadi setelah pertemuan Sochi adalah bentuk kehadiran AS di kawasan. Kehadiran ini telah menciptakan perpecahan antar etnis di Suriah dan dampaknya sudah menyebar luas di kawasan," ujarnya.
Menurut Zarif, metode terbaik untuk melawan manuver Amerika ini adalah memperkuat pemerintah pusat Suriah dan mendukung kedaulatan pemerintah pusat sehingga dapat mengontrol wilayah Suriah dan mencegah meningkatnya perpecahan etnis.
Berkenaan dengan serangan rezim Zionis ke Suriah, menlu Iran menegaskan mitos Israel tak terkalahkan telah hancur dengan perlawanan rakyat Suriah. (RM/PH)