Rahbar: Pembebasan Palestina dan Kekalahan Amerika Sudah Pasti!
-
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menegaskan, Insya Allah, Palestina akan dibebaskan dari cengkeraman musuh dan Amerika bersama antek-anteknya tidak akan mampu berbuat apapun karena kebenaran dan Sunnah Allah.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei hari Kamis (17/5) dalam sebuah acara dengan para qari al-Quran di Tehran, pada hari pertama bulan Ramadhan menekankan, pelbagai masalah dunia Islam saat ini, termasuk penderitaan Palestina dan kejahatan rezim Zionis, terutama dalam beberapa hari terakhir adalah hasil dari jauhnya umat Islam dari al-Quran. Menurut Rahbar, Amerika Serikat dan banyak pemerintah Barat terlibat dalam kejahatan Zionis Israel yang dilakukan di Palestina. Rahbar mengingatkan, umat Islam, pemerintah dan negara-negara Islam harus mengambil sikap terkait kejahatan rezim zionis Israel.
Masalah Palestina adalah titik pertemuan antara umat dan pemerintah Islam, sementara perhatian dan sensitivitasnya adalah kebijakan berprinsip negara-negara Islam. Tetapi beberapa negara Islam telah membuka jalan bagi Zionis untuk semakin menunjukkan pendekatan teroris mereka.
Peringatan 70 tahun Hari Nakba menunjukkan puncak kebrutalan Israel. Kompromi sejumlah negara-negara Arab dan dukungan nyata Amerika atas rezim zionis Israel menciptakan kondisi ini. Dukungan politik Amerika atas rezim kriminal Israel dan bersamaan dengan itu, rezim zionis Israel yang merasa tenang dengan lingkungan regional telah mengubah peringatan Hari Nakba menjadi hari Senin Kelam. 63 orang gugur syahid dan lebih dari 2.000 orang cedera pada hari Senin (14/5), berbarengan dengan pemindahan Kedubes AS ke Quds merupakan hasil dari kerjasama segi tiga jahat Israel, Amerika dan Arab pro-normalisasi.
Saleh al-Nuami, analis politik dalam artikel yang dimuat surat kabar Qatar Alaraby Aljadeed menulis, dengan menyembunyikan tindakan rezim Zionis di tingkat internasional, Amerika Serikat telah membuat rezim ini membayar harga politik kecil untuk pelanggaran berat hak asasi manusia dalam menumpas demonstran Palestina. Lingkungan regional juga memungkinkan Israel menggunakan opsi militer dalam menangani protes Hak Kepulangan tanpa khawatir.
Rezim Zionis yang beralih ke opsi militer menunjukkan efektivitas perlawanan Palestina yang kini telah ditampilkan dalam demonstrasi "Hak Kepulangan" di Jalur Gaza dan Palestina pendudukan dan telah menantang Zionis. Meningkatnya penguatan gerakan perlawanan Palestina dari hari ke hari telah mengganggu perimbangan rezim Zionis, meskipun ada dukungan AS untuk rezim penjajah Palestina. Pemindahan kedutaan AS ke Quds dalam kerangka "Kesepakatan Abadi" dengan tujuan akhir untuk menyingkirkan perlawanan dan membentuk negara Palestina dengan ibukota Quds.
Kesigapan rakyat dan Muqawama Palestina mampu menyadarkan opini publik dunia akan konspirasi ini. Pencerahan ini dan dampak dari demonstrasi "Hak Kepulangan menyebabkan ketakutan Zionis. Sekaitan dengan hal ini, Ismail Haniyah, Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) memuji demonstrasi mendukung Quds dan menekankan Hak Kepulangan para pengungsi Palestina. Haniyah mengatakan, demonstrasi besar-besaran ini telah menyebabkan ketakutan para pejabat Zionis dan runtuhnya perimbangan mereka.
Mengenai fakta bahwa tidak ada satu suara dari dunia Islam yang mendukung perjuangan rakyat Palestina, perlawanan dalam berbagai bentuknya adalah hak legal rakyat Palestina untuk membebaskan tanah air mereka, membentuk negara Palestina dengan ibukota Quds dan mengembalikan para pengungsi ke tanah air mereka. Dalam situasi dimana Israel bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab, mencoba untuk menghilangkan fakta-fakta ini, ada kebutuhan lebih kepada negara-negara independen Islam .
Dalam kerangka ini, hari Jumat (18/5), Istanbul akan menjadi tuan rumah sidang luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Opini publik berharap sidang ini dapat mengambil sikap transparan soal Palestina, mengecam kejahatan rezim zionis Israel yang membantai warga Palestina dan pemindahan Kedubes AS ke Quds. Negara-negara Islam berharap ada keputusan memboikot rezim Zionis dan menyebutnya sebagai rezim kriminal di KTT Istanbul.