Shamkhani: Iran Tinjau Ulang Kebijakan Jika Eropa Menekan
-
Ali Shamkhani
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (22/5/2018) mengatakan, jika terbukti Eropa tidak mampu menjaga komitmennya atau menyalahgunakan keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA untuk menekan Tehran di masalah selain nuklir, maka Tehran akan meninjau ulang kebijakan luar negerinya.
Ali Shamkhani menambahkan, Presiden Amerika, Donald Trump keluar dari JCPOA karena mengira bisa memaksakan kehendaknya pada Eropa dan menduga kebijakannya akan diikuti oleh banyak negara dunia, juga berkhayal akan didukung oleh rakyatnya, padahal bukan hanya Eropa, tapi ternyata negara dunia lain tidak mengikutinya, bahkan menurut jajak pendapat yang dilakukan, dua pertiga warga Amerika menentang keputusan Trump.
Shamkhani menganggap upaya Amerika membatasi pengaruh Iran, sebagai indikasi kelemahan dan kekalahan Washington serta bukti kekuatan Iran di berbagai arena di dalam maupun luar negeri.
Ia menambahkan, Badan Energi Atom Internasional, IAEA sebagai satu-satunya otoritas berwenang di bidang nuklir, berulangkali menegaskan bahwa program nuklir Iran bertujuan damai, dan Amerika sebagai negara yang menganggap dirinya berhak menggunakan senjata nuklir terhadap warga sipil dan mempersenjatai rezim Zionis Israel dengan senjata atom, tidak punya kelayakan untuk mengomentari program nuklir Iran.
Menurut Shamkhani, program pengayaan nuklir Iran diakui secara resmi oleh dunia dalam kerangka resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.
Ia menegaskan, mekanisme kelanjutan program nuklir Iran sudah dijelaskan berdasarkan kesepakatan internasional JCPOA dan perundingan nuklir Iran yang sudah final ini tidak mungkin dibuka kembali dengan alasan apapun.
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran juga menyinggung kehadiran penasihat militer Iran di Irak dan Suriah atas permintaan pemerintah sah kedua negara dengan maksud memerangi terorisme.
"Dunia mengakui bahwa peran determinan Iran merupakan faktor utama yang mencegah meluasnya cakupan wilayah Daesh di Irak, Suriah dan Lebanon, bahkan di Eropa, oleh karena itu kemarahan Amerika sebagai negara yang membidani kelahiran Daesh dan pendukung asli terorisme Takfiri, serta kegagalanya di medan tempur, sangat bisa dipahami," tandasnya. (HS)