Khutbah Jumat Tehran, 25 Januari 2019
https://parstoday.ir/id/news/iran-i66955-khutbah_jumat_tehran_25_januari_2019
Khatib Shalat Jumat Tehran Hujjatul Islam wal Muslimin Kazem Seddiqi mengungkapkan penentangannya terhadap akses Republik Islam Iran terhadap FATF (Financial Action Task Force on Money Laundering), sebuah badan yang mengklaim memiliki tujuan memerangi pencucian uang dan pendanaan terorisme global. Pasalnya, badan itu dinilai hanya menciptakan mekanisme untuk melacak informasi sumber dana Republik Islam Iran dan negara-negara lainnya.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 25, 2019 21:58 Asia/Jakarta
  • Shalat Jumat Tehran, 25 Januari 2019.
    Shalat Jumat Tehran, 25 Januari 2019.

Khatib Shalat Jumat Tehran Hujjatul Islam wal Muslimin Kazem Seddiqi mengungkapkan penentangannya terhadap akses Republik Islam Iran terhadap FATF (Financial Action Task Force on Money Laundering), sebuah badan yang mengklaim memiliki tujuan memerangi pencucian uang dan pendanaan terorisme global. Pasalnya, badan itu dinilai hanya menciptakan mekanisme untuk melacak informasi sumber dana Republik Islam Iran dan negara-negara lainnya.

"Mereka [musuh] dalam perang ekonomi ingin memantau sumber pendapatan dan pengeluaran kita guna melihat bagaimana dan di mana kita mendapatkan uang serta dengan siapa kita berhubungan dan dengan siapa kita menjalin hubungan ekonomi," kata Seddiqi dalam khutbah kedua di Mushalla Besar Imam Khomeini di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Jumat, 25 Januari 2019.

 

Imam Jumat Tehran itu mengkritik para pejabat pemerintah karena mendorong parlemen dan aparat hukum lainnya untuk menyetujui RUU mengenai FATF.

 

Dia menambahkan, musuh ingin "melucuti kita" dan berusaha menuduh kita berdasarkan dokumen yang telah kita tandatangani sendiri sebelumnya.

 

Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi lebih lanjut menuturkan, penandatanganan perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) alih-alih bisa mencabut sanksi tetapi juga menambahkannya dan meningkatkan kesulitan ekonomi terhadap masyarakat Iran.

 

Jumat pekan lalu, Khatib Shalat Jumat Tehran Ayatullah Mohammad Ali Movahedi Kermani juga mengatakan bahwa hakikat pembentukan FATF adalah untuk menciptakan mekanisme untuk melacak informasi sumber dana Republik Islam Iran dan negara-negara dunia lain, terutama Front Muqawama.

 

"Standar FATF dimaksudkan untuk membantu Amerika Serikat melakukan penguasaan atas informasi keuangan dan ekonomi negara lain, dan memperpanjang sanksi terhadap Republik Islam Iran," ujarnya.

 

Ayatullah Movahedi Kermani menjelaskan, sementara AS dan negara-negara Eropa mengklaim bahwa tugas FATF dimaksudkan untuk memantau transaksi keuangan guna melawan pencucian uang dan terorisme, namun sebenarnya mereka menggunakan standar FATF untuk membenarkan tindakan mereka sendiri dan menekan orang lain.

 

FATF adalah sebuah badan antarpemerintah yang tujuannya mengembangkan dan mempromosikan kebijakan nasional dan internasinal untuk memerangi pencucian uang dan pendanaan teroris.

 

Lembaga ini didirikan pada tahun 1989 dan memiliki 190 negara anggota. Tujuan FATF adalah untuk menetapkan standar dan mempromosikan implementasi yang efektif dari tindakan hukum, peraturan dan operasional untuk memerangi pencucian uang, pendanaan teroris dan ancaman terkait lainnya terhadap integritas sistem keuangan internasional.

 

Sejak 2008, FATF telah memasukkan Iran dalam daftar hitamnya. Sebelumnya, hanya Iran, Korea Utara dan Kuba yang dimasukkan dalam daftar hitam FATF. Namun Kuba kemudian dihapus dari daftar tersebut.

 

Pada tahun 2016, FATF menghapus Iran dari daftar hitamnya dan memberikan peluang untuk mereformasi hukum dan struktur sistem perbankannya. (RA)