Realisasi Perdamaian dalam Bingkai Solidaritas, Bukan Hegemoni
https://parstoday.ir/id/news/iran-i67992-realisasi_perdamaian_dalam_bingkai_solidaritas_bukan_hegemoni
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, "Pemikiran tentang menghegemoni dan menggunakan senjata-senjata destruktif, harus diubah menjadi pemikiran dialog dan solidaritas."
(last modified 2026-02-03T09:42:30+00:00 )
Mar 01, 2019 17:42 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
    Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, "Pemikiran tentang menghegemoni dan menggunakan senjata-senjata destruktif, harus diubah menjadi pemikiran dialog dan solidaritas."

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran pada hari Kamis (28/02) pada Konferensi Internasional "Nowrouz World" di Tehran menekankan, "Marilah kita katakan kepada seluruh dunia dengan bahasa Iran, dengan bahasa tanah Nowrouz (tahun baru Iran) dan budaya Nowrouz bahwa perdamaian tidak mungkin diperoleh lewat hegemoni, dan era penjajahan serta hegemoni telah berakhir."

Menteri luar negeri Iran menambahkan, "Mereka yang sudah menggelontorkan uang senilai 7 triliun dolar dan kondisinya lebih buruk dari hari pertama, harus tahu meski menghabiskan 70 atau 700 triliun dolar, kondisi masih tetap sama."

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Ungkapan Menlu Zarif mengacu pada Amerika Serikat yang tengah berusaha mendorong kebijakannya di berbagai belahan dunia dengan kekuatan dan arogansi. Salah satu kawasan penting di dunia ini adalah kawasan strategis Asia Barat, yang menghabiskan miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak ada yang diraih kecuali kegagalan negara itu dan ketidakamanan yang berlanjut.

Pemerintah Amerika Serikat saat ini yang dipimpin oleh Donald Trump, sekali lagi hanya mengejar unilateralisme dan hegemoni di kancah internasional. Sebuah pendekatan yang menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global dan menyulut respons masyarakat internasional.

Ketidakpedulian pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap hukum dan perjanjian internasional serta keinginan keras untuk menjual senjata kepada sekutu-sekutunya di berbagai wilayah, termasuk Asia Barat, dengan alasan menjamin keamanan mereka, bukan hanya tidak menguntungkan perdamaian dan keamanan global, tetapi justru memperluas kekerasan dan ketidakamanan.

Di Asia Barat dan kawasan Teluk Persia, Amerika Serikat mengejar tujuan dan kepentingannya dalam bentuk proksi dan dengan berbekal ancaman, ia mendefinisikan keamanan rezim-rezim, seperti rezim Arab Saudi, dalam bingkai pembelian senjata dari Amerika Serikat. Pendekatan ini telah menyebabkan perlombaan senjata di wilayah ini dan meskipun faktanya miliaran dolar senjata dijual ke beberapa rezim regional, tidak mungkin untuk membayangkan pandangan positif untuk perdamaian dan keamanan.

Pendekatan yang gagal ini sedang diupayakan terus oleh pemerintah Donald Trump, meskipun harus menanggung biaya yang mahal, presiden AS ini hanya dapat melakukan kunjungan di malam hari ke Irak. Selain itu, terlepas dari dukungan komprehensif Amerika Serikat dari berbagai kelompok teroris di Suriah untuk memajukan hegemoninya, sekarang tidak ada jalan lain, kecuali harus keluar dari negara itu.

Dalam hal ini, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds, Korps Garda Revolusi Islam Iran pada hari Rabu (27/02) mengatakan, "Amerika Serikat menghabiskan 7 triliun dolar di kawasan, sekalipun demikian, presiden negara ini harus melakukan kunjungan ke Irak di malam hari secara rahasia."

Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds, Korps Garda Revolusi Islam Iran

Pengalaman saat ini di wilayah Asia Barat adalah pertanda kuat bahwa perdamaian tidak akan terwujud dengan senjata dan hegemoni serta era unilateralisme yang bertumpu pada hegemoni telah berakhir. Dengan mencermati kenyataan ini, menteri luar negeri Iran pada konferensi "Nowrouz World" menyatakan bahwa dialog dan konvergensi negara-negara merupakan cara yang pasti untuk mencapai perdamaian.

Berdasarkan pendekatan ini, interaksi dan menciptakan hubungan bermartabat, damai dan multilateral dengan dunia tanpa pemaksaan hegemoni dan penerimaan hegemoni adalah dasar dari kebijakan luar negeri dan strategi Republik Islam Iran untuk mencapai perdamaian dan keamanan global yang berakar pada budaya dan pemikiran Nowrouz.