Tujuan AS Melabeli Pasdaran Iran sebagai Organisasi Teroris
-
Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam sebuah latihan. (dok)
Pemerintah AS dalam sebuah tindakan yang tidak biasa, mengumumkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) – pasukan resmi sebuah negara – sebagai organisasi teroris internasional.
Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran kemudian, memperkenalkan pemerintah AS sebagai sponsor terorisme dan menganggap Komando Pusat AS di Asia Barat (CENTCOM) dan afiliasi mereka sebagai organisasi teroris.
"CENTCOM bertugas melaksanakan kebijakan terorisme pemerintah AS di wilayah Asia Barat, yang mengancam keamanan nasional Republik Islam dan nyawa warga sipil Iran dan non-Iran dalam memaksakan kebijakan konfrontatif AS. Di antara (kejahatan) itu adalah serangan mengerikan dan sengaja terhadap pesawat penumpang Iran pada 1988, partisipasi dalam membantai rakyat Yaman, dan warga sipil lainnya di Asia Barat," tambahnya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Washington memasukkan lembaga militer resmi dari sebuah negara merdeka dan berdaulat dalam daftar organisasi teroris.
Media-media AS sebelum ini melaporkan bahwa Pentagon, CIA, dan juga sejumlah politisi dari Republik dan Demokrat menentang keputusan pemerintahan Trump terhadap Pasdaran Iran.
Tindakan Gedung Putih ini telah melangkahi garis merah yang tentu saja akan memiliki implikasi serius bagi Amerika.
Komandan Pasdaran, Brigadir Jenderal Mohammad Ali Jafari sebelumnya memperingatkan bahwa jika kebodohan seperti itu terjadi, maka pasukan AS di Asia Barat tidak akan lagi menikmati ketenangan seperti hari ini.
Lalu, mengapa AS tetap membuat keputusan gegabah meskipun sudah ada penentangan dan peringatan.
Pertama, AS mengetahui bahwa Pasdaran Iran – sebuah pasukan tangguh yang berbasis rakyat – telah membuktikan pengaruhnya mulai dari medan perang yang dipaksakan sampai misi-misi sulit menumpas teroris serta menjaga keamanan dan teritorial negara.
Oleh karena itu, AS meluncurkan kampanye anti-Pasdaran ketimbang berhadapan langsung dengan pasukan yang tangguh dan berpengalaman tersebut. AS berharap bisa merusak legitimasi salah satu dari kekuatan utama militer dan pertahanan Iran, tetapi ini hanya sebuah khayalan.
Dan kedua, keputusan tersebut adalah sebuah langkah reaktif dan bentuk frustasi AS yang telah membentur jalan buntu. AS menyadari bahwa kebijakan untuk menerapkan tekanan maksimum atas Iran telah melenceng dari jalurnya. Dengan demikian, Gedung Putih perlu menarik perhatian dari para politisi radikal dan menciptakan iklim untuk memuaskan rezim Zionis dan Arab Saudi di kawasan.
Beberapa pengamat internasional memandang keputusan AS memasukkan nama Pasdaran Iran dalam daftar organisasi teroris sebagai langkah simbolis. Lembaga-lembaga intelijen AS bahkan meragukan keberhasilan keputusan Trump.
Sebelum ini, AS melarang semua lembaga internasional dan perusahaan bisnis untuk melakukan transaksi keuangan dengan Iran dan Pasdaran. Sejumlah anggota dan petinggi Pasdaran juga berada di bawah sanksi AS.
Kantor berita Associated Press dalam sebuah laporan menulis, "Tindakan seperti itu akan memiliki risiko yang besar bagi personel AS dan kebijakan negara itu di Timur Tengah dan tempat-tempat lain."
Pada dasarnya, tindakan AS sama sekali tidak akan menjatuhkan posisi Pasdaran sebagai sebuah kekuatan yang berasal dari rakyat, tetapi justru akan semakin memperlihatkan rasa frustasi para pejabat Gedung Putih.
Pasdaran selalu terdepan dalam melawan al-Qaeda, Daesh, Front al-Nusra, dan organisasi teroris lainnya di kawasan, berbeda dengan AS dan sekutu regionalnya yang selalu mendukung kelompok teroris di Asia Barat. Pasdaran juga senantiasa mendapat apresiasi dari rakyat dan pemerintah yang menjadi korban terorisme di kawasan.
Jelas sangat sulit bagi AS untuk menerima kemenangan Pasdaran di medan perang. Masyarakat di kawasan dan media-media independen juga mengetahui bahwa ketika Daesh melakukan kejahatan di Irak dan Suriah, pasukan AS justru memberikan dukungan kepada mereka, bukannya menumpas teroris. (RM)