Seruan Iran untuk Lawan Unilateralisme Trump
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif memperingatkan implikasi jangka panjang keputusan AS menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris, dan mendesak aksi global untuk melawan petualangan Washington.
"Republik Islam mengutuk tindakan ilegal dan provokatif AS serta memperingatkan tentang implikasi jangka panjang dari tindakan itu. Kami menyeru dunia untuk mengambil langkah-langkah yang sistematis dan tepat sesuai dengan hukum (internasional) untuk melawan petualangan AS baru-baru ini," kata Zarif dalam sebuah surat yang ditujukan kepada rekan-rekannya di seluruh dunia, Rabu (17/4/2019).
Dia mengatakan bahwa pelabelan angkatan bersenjata Iran – yang merupakan anggota PBB dan konvensi kemanusiaan internasional – sebagai organisasi teroris dapat menyebabkan dampak hukum dan politik yang berbahaya.
Selama berkuasa, Trump telah mengabaikan perjanjian, hukum, dan lembaga-lembaga internasional, termasuk keluar dari beberapa kesepakatan dan badan-badan PBB, dan sekarang memasukkan angkatan senjata resmi dari sebuah negara berdaulat dalam daftar organisasi teroris.
Tindakan Trump menunjukkan bahwa ia tidak hanya menargetkan negara tertentu saja, tetapi juga mengancam keamanan dan perdamaian global.
Perilaku pemerintah AS saat ini adalah sebuah langkah menuju unilateralisme mutlak. Sikap diam terhadap petualangan Trump akan melahirkan sebuah fenomena baru yang berbahaya di dunia. Dalam konteks ini, AS akan menargetkan setiap negara independen dan penentang kebijakan Paman Sam.
Saat ini saja, Trump secara terbuka mencampuri urusan negara-negara independen seperti Venezuela. Dia juga memperingatkan Rusia dan Turki untuk mengubah perilakunya.
Oleh karena itu, negara-negara dunia perlu mengadopsi pendekatan yang tegas dan terkoordinasi untuk melawan perilaku pemerintah AS. Perlu dicatat bahwa sikap Trump tidak hanya menargetkan Iran, tetapi bisa menyasar negara mana pun yang tidak disukai oleh AS.
Kelanjutan dari pendekatan ini adalah kembalinya realisme invasif ke kancah hubungan internasional, yang diwakili oleh Trump. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dunia akan dirugikan jika tidak ada upaya perlawanan bersama.
Unilateralisme presiden AS akan menjadi ancaman bagi PBB dan lembaga internasional lainnya, dan tindakan ini juga berpotensi memperbanyak konflik di dunia. (RM)