Iran Aktualita, 4 Mei 2019
https://parstoday.ir/id/news/iran-i69791-iran_aktualita_4_mei_2019
Perkembangan Iran pekan lalu diwarnai sejumlah peristiwa penting seperti pertemuan Rahbar dengan mahasiswa dan para guru bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional.
(last modified 2026-04-29T10:04:52+00:00 )
May 04, 2019 13:10 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Rahbar dengan para Guru
    Pertemuan Rahbar dengan para Guru

Perkembangan Iran pekan lalu diwarnai sejumlah peristiwa penting seperti pertemuan Rahbar dengan mahasiswa dan para guru bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional.

Isu lainnya adalah kritik wakil tetap Iran di PBB terkait penyalahgunaan resolusi 2231 oleh Amerika, disusul dengan respon menteri perminyakan Iran terkait upaya Amerika untuk menutup total ekspor minyak Iran dan peringatan menlu Iran atas petualangan Amerika di kawasan Asia Barat serta kebijakan sepihaknya.

Rahbar, Ayatullah Khamenei

Peran Guru dalam Membangun Peradaban Menurut Rahbar

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran pada hari Rabu (01/05), pada malam menjelang Hari Guru, bertemu dengan ribuan guru dan tenaga pendidik dari seluruh Iran dan menyebut peran guru membangun peradaban.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menekankan fakta bahwa modal terpenting bagi sebuah bangsa adalah sumber daya manusia. Menurut Rahbar, "Para guru peletak dasar peradaban modern dan termasuk orang yang berjihad di medan perang melawan kebodohan dan buta huruf, yang merupakan identitas budaya bagi masyarakat dan generasi mudanya.

 

Saat ini, Republik Islam Iran adalah salah satu negara terkemuka dalam produksi sains dan ilmu pengetahuan. Masa depan cemerlang bangsa Iran tidak diragukan lagi merupakan kelanjutan dari pertumbuhan dan perkembangan di bidang ini.

 

Penolakan berulang kali oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran terhadap agenda pendidikan global UNESCO 2030 dan menjelaskan alasan desakan nyata dan tersembunyi dari pihak asing untuk mengkonsolidasikannya pada hubungan negara-negara, termasuk negara-negara Islam dan Iran, sangat penting dari sisi ini.

 

Sekaitan dengan hal ini, Rahbar mengingatkan, "Inti dari agenda 2030 yang bab terpentingnya terkait dengan pendidikan adalah sistem pendidikan harus disusun sedemikian rupa, di mana falsafah, gaya hidup dan konsep kehidupan –yang didasarkan pada pondasi, prinsip-prinsip dan pemikiran Barat– untuk diajarkan kepada anak-anak dan remaja."

 

Dari sudut pandang Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, "Apa yang membuat kita menganggap pola kemajuan Barat bagi masyarakat kita tidak memadai adalah pertama-tama, bahwa pandangan masyarakat Barat dan filosofi Barat terhadap manusia sama sekali berbeda dari pandangan Islam dan satu perbedaan mendasar dan berakar."

 

Fakta lapangan menunjukkan bahwa Republik Islam Iran memiliki kemampuan, bakat, dan kreativitas yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan untuk pendidikan generasi muda, sesuai dengan tujuan dan aspirasi sistem Islam tidak mengalami kekurangan teladan. Pengalaman selama empat puluh tahun terakhir telah menunjukkan bahwa dengan mengandalkan kapasitas intelektual, kreativitas dan nilai-nilai agama dan budaya, dimungkinkan untuk merumuskan dan mengimplementasikan program dan pola kemajuan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi regional dan internasional di bidang pendidikan sumber daya anak muda. Tetapi syarat untuk sukses di semua bidang ini adalah persatuan bangsa Iran melawan konspirasi musuh.

 

Ayatullah Khemenei menyinggung perang dan invasi yang dilancarkan musuh di bidang ekonomi, politik, intelijen, dan peretasan di dunia maya. Menurut Rahbar, "Amerika Serikat dan Zionis sedang merencanakan dan bertindak di semua dimensi, dan langkah ini tidak (hanya dilakukan) khusus pada pemerintahan Amerika sekarang ini. Pemerintah sebelumnya juga melakukan hal yang sama dengan sarung tangan beludru, tetapi bantuan yang diberikan oleh presiden Amerika Serikat saat ini adalah mencopot sarung tangan tersebut dan semua dapat menyaksikan besi yang tersembunyi di bawah sarung tangan Amerika."

 

Tindakan bodoh Trump menunjukkan bahwa ia tidak memiliki pemahaman realistis tentang masalah masa lalu dan sekarang. Karena Iran, di masa ketika Obama berbicara soal perubahan kekuasaan di Iran dan menurut Rahbar, ia menyembunyikan kepalan besi di balik sarung tangan beludru, tidak kaget, sehingga sekarang harus takut dengan ancaman dan omongan Trump.

 

Sebagaimana ditekankan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, "Untuk menghadapi serangkaian perang yang dilancarkan musuh terhadap rakyat Iran ini, kita harus melakukan persiapan perang. Semua pejabat rakyat dan orang-orang yang memiliki kemampuan dan para elit harus bekerja di setiap bidangnya masing-masing dan masuk ke medan (perang) ini dengan penuh kesiapan dan rasa tanggung jawab."

Majid Takht-Ravanchi

Takht-Ravanchi: Upaya AS Salahgunakan Resolusi 2231 pasti Gagal

 

Wakil tetap Republik Islam Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Majid Takht-Ravanchi mengatakan, upaya Amerika untuk menuding Iran melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB tidak akan berhasil.

 

Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB diratifikasi 20 Juli 2015 usai tercapainya kesepakatan nuklir Iran dan kelompok 5+1. Berdasarkan resolusi ini, enam resolusi sebelumnya yang menjatuhkan sanksi terkait isu nuklir Iran dibatalkan.

 

Majid Takht-Ravanchi Kamis (2/5) saat diwawancarai IRIB menambahkan, AS melalui dialog dengan anggota Dewan Keamanan dan sekretariat PBB berusaha menciptakan atmosfer negatif terkait aktivitas rudal Iran.

 

Seraya menjelaskan bahwa rudal Iran tidak ada kaitannya dengan resolusi 2231 Dewan Keamanan Takht-Ravanchi menjelaskan, resolusi ini meminta pembuatan rudal tidak dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir dan Iran berulang kali menyatakan bahwa rudalnya tidak didesain untuk membawa hulu ledak nuklir.

 

Ia juga menyinggung proyeksi ketika keluar dari JCPOA dan pelanggaran terhadap resolusi 2231 Dewan Keamanan serta menambahkan, sikap Iran sepenuhnya transparan, dan penyalahgunaan resolusi ini oleh AS telah disampaikan kepada anggota Dewan serta Kami memiliki kontak dengan para anggota tersebut.

 

Wakil tetap Iran di PBB menekankan, kemampuan rudal Iran sepenuhnya isu defensif dan tidak dapat dinegosiasikan.

Menteri Perminyakan Iran Zangeneh

Zanganeh: AS Tidak akan Bisa Cegah Ekpor Minyak Iran ke Titik Nol

 

Menteri Perminyakan Republik Islam Iran Bijan Namdar Zanganeh mengatakan Amerika Serikat tidak akan bisa mengurangi ekspor minyak Iran ke titik nol.

 

Hal itu ditegaskan Zanganeh pada upacara pembukaan Pameran Internasional Minyak, Gas, Pengilangan dan Petrokimia ke-24 di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Rabu, 1 Mei 2019.

 

Dia juga menegaskan kembali komitmen Iran untuk mengekspor minyak meskipun ada sanksi sepihak AS. Zanganeh menuturkan, pasar minyak tidak bisa hanya dikelola oleh pernyataan para pejabat AS.

 

"Urusan global tidak semudah yang dipikirkan oleh AS dan penghasutnya. Pasar minyak tidak dapat dikendalikan oleh pernyataan belaka," tegasnya.

 

Menteri Perminyakan Iran menambahkan kerentanan pasar minyak tidak dapat dikompensasi oleh pidato dan kecakapan memainkan pertunjukan dan menciptakan atmosfer psikologis.

 

Zanganeh menjelaskan, sekutu-sekutu AS di OPEC melebih-lebihkan kapasitas cadangan minyak mereka dengan mengklaim bahwa mereka akan memasok cukup minyak ke pasar untuk menggantikan minyak Iran yang disanksi AS.

 

Menteri Perminyakan Iran memperingatkan bahwa siapa pun yang menggunakan minyak sebagai alat politik maka dia harus menerima konsekuensinya.

 

"Mereka yang menggunakan minyak sebagai senjata melawan dua anggota pendiri OPEC (Iran dan Venezuela), akan mengganggu kesatuan OPEC dan menciptakan kematian dan kehancuran OPEC, di mana tanggung jawab atas hal ini berada di pundak mereka," pungkasnya.

 

Pemerintah AS mengumumkan bahwa negara-negara eksportir utama minyak Iran harus menghentikan pembelian minyak dari negara ini pada 1 Mei atau jika tidak, mereka akan menghadapi sanksi.

 

Sebelumnya, delapan pembeli terbesar minyak Iran: Turki, Cina, Yunani, India, Italia, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan mendapat pengecualian sehingga bisa membeli minyak dari Iran selama enam bulan terakhir. Namun AS tidak akan memperpanjang pengecualian tersebut.

 

Harga minyak mencapai level tertinggi sejak November 2018 setelah keputusan Washington tersebut.

 

Cina -pembeli terbesar minyak mentah Iran- mengumuman bahwa pihaknya telah mengajukan representasi kepada AS mengenai langkah tersebut. Sementara Turki menegaskan kembali penentangannya terhadap "semua jenis sanksi."

Menlu Mohammad Javad Zarif

Iran tidak akan Biarkan AS Rusak Keamanan Selat Hormuz

 

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan Republik Islam tidak akan membiarkan Amerika Serikat merusakan keamanan Selat Hormuz.

 

Berbicara di sela-sela pertemuan Dialog Kerja Sama Asia (ACD) di Doha, Qatar, Kamis (2/5/2019), Zarif menambahkan bahwa bukan sesuatu yang baru jika Penasihat Nasional AS John Bolton ingin berperang dengan Iran, karena pada 2015 lalu di surat kabar The New York Times, ia juga mengancam Iran dengan perang nuklir.

 

"Tehran tidak menginginkan peningkatan ketegangan dengan Washington," ujarnya dalam wawancara dengan televisi Aljazeera.

 

Teluk Persia dan Selat Hormuz, lanjut Zarif, adalah masalah vital bagi Iran dan kami menginginkan navigasi yang aman dan bebas untuk pelayaran semua negara.

 

"Pemerintah AS telah menghancurkan Timur Tengah dan banyak warga Amerika mati sia-sia di wilayah ini," ungkapnya mengacu pada biaya tujuh triliun dolar perang AS di kawasan ini.

 

Zarif tiba di Doha sejak Selasa lalu untuk mengikuti pertemuan menlu Dialog Kerja Sama Asia (ACD) ke-16.