Lawatan Zarif ke Moskow dan Hubungan Bilateral
https://parstoday.ir/id/news/iran-i77030-lawatan_zarif_ke_moskow_dan_hubungan_bilateral
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif dilaporkan berkunjung ke Moskow. Lawatan ini dalam koridor lobi berkesinambungan antara kedua negara.
(last modified 2026-04-21T09:03:56+00:00 )
Des 30, 2019 08:37 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif
    Mohammad Javad Zarif

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif dilaporkan berkunjung ke Moskow. Lawatan ini dalam koridor lobi berkesinambungan antara kedua negara.

Kunjungan Zarif ke Rusia digelar ketika tinggal satu pekan dari tenggat waktu 60 hari langkah keempat Iran kepada pihak-pihak yang tersisa di kesepakatan nuklir JCPOA.

Republik Islam Iran 8 Mei 2019, setahun setelah keluarnya Amerika secara sepihak dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan setelah terbukti kemandulan mekanisme usulan Eropa untuk menjamin kepentingan Iran di JCPOA, memutuskan untuk menangguhkan sejumlah komitmennya di kesepakatan ini berdasarkan pasal 26 dan 36 perjanjian tersebut.

Langkah ini mencakup produksi uranium melebihi batas 300 kg dan pengayaan di atas 3,64 persen menjadi 4,5 persen, serta pencabutan pembatasan terkait aktivitas riset dan pengembangan nuklir.

Langkah keempat penurunan komitmen JCPOA Iran juga dimulai sejak bulan November 2019 dengan penyuntikan gas ke sentrifugal di instalasi Fordow dan pengayaan uranium sebesar 4,5 persen.

Menurut pandangan Rusia, kondisi saat ini JCPOA hasil langsung dari langkah tidak konstruktif Amerika keluar dari kesepakatan ini. Iran dan Rusia selain isu JCPOA, juga memiliki lobi berkesinambungan terkait transformasi regional. Sekaitan dengan ini, penyelenggaraan manuver gabungan Iran, Rusia dan Cina di Laut Oman dan utara Samudera Hindia yang berakhir hari Ahad (29/12), juga kerja sama kedua negara di perang kontra terorisme di kawasan serta penindaklanjutan proses Dialog Astana terkait Suriah termasuk isu lain yang dikejar secara serius dalam diplomasi Iran dan Rusia.

Petinggi kedua negara juga menekankan pentingnya solusi politik krisis dan memulihkan stabilitas serta keamanan di kawasan. Terkait hal ini, pertengahan pekan depan akan digelar forum Tehran dengan agenda perdamaian Hormuz yang digagas Presiden Iran Hassan Rouhani di sidang Majelis Umum PBB baru-baru ini. Forum ini akan dihadiri cendikiawan dan elit politik dari berbagai negara dunia.

Sarkis Tsaturyan, pengamat politik Rusia seraya mengisyaratkan statemen Presiden Vladimir Putin di KTT terbaru Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO) terkait pentingnya meningkatkan jumlah sahabat organisasi ini mengatakan, "Terkait isu peningkatan minat untuk memperluas kerja sama antara Organisasi Traktat Keamanan Kolektif dan negara sahabat, Iran termasuk negara yang dibicarakan. Dan isyarat ini patut diperhatikan dengan mengingat penyelenggaraan manuver gabungan Iran, Rusia dan Cina di Laut Oman."

Saat ini, kerja sama Iran dan Rusia cukup luas mulai dari isu energi, pembangunan pembangkit listrik dan instalasi nuklir, pariwisata, transportasi hingga navigasi. Setelah bergabungnya Iran dengan Uni Ekonomi Eurasia, juga digulirkan usulan pembentukan uni perdagangan antara Iran dan Rusia.

Menurut pandangan Alireza Nouri, pengamat politik, kerja sama ini dapat berujung pada partisipasi lebih aktif dan kerja sama efektif antar kedua negara di bidang keamanan Asia Barat yang memiliki nilai khusus untuk menjaga keamanan kawasan.

Urgensitas level hubungan ini selain elemen keamanan, juga ditekankan untuk perluasan kerja sama ekonomi khususnya untuk melawan unilateralisme Amerika. Resistensi di hadapan arogansi Amerika di bidang politik, keamanan dan ekonomi sebuah gerakan bermakna yang mampu menciptakan peluang untuk menekan perubahan perilaku Amerika di seluruh isu internasional.

Menurut perspektif politik keselarasan dan lobi diplomatik berkesinambungan kedua negara ini memiliki nilai strategis di kondisi ketika AS berupaya mencegah konvergensi dan perluasan hubungan Iran dan negara-negara kawasan.

Iran dan Rusias ebagai kekuatan penting dan berpengaruh telah menunjukkan bahwa mereka mampu meningkatkan interaksi bilateral dan multilateral di atmosfer regional yang ada dengan bersandar pada unsur politik dan ekonomi. Lawatan Zarif ke Moskow harus dicermati dalam koridor ini. (MF)