Sanksi Baru AS terhadap Iran
-
sanksi baru AS terhadap Iran, ilustrasi
Meskipun muncul seruan internasional untuk mencabut sanksi sepihak AS terhadap Iran yang sedang berjuang menangani Covid-19, tapi Washington terus bersikeras untuk melanjutkan pendekatan yang tidak manusiawi tersebut. Bahkan, Washington baru-baru ini kembali menjatuhkan sanksi terhadap Tehran.
Kementerian Keuangan AS hari Kamis, 26 Maret 2020 menjatuhkan sanksi baru terhadap individu dan institusi yang berafiliasi dengan Iran, termasuk Komite Rekonstruksi Makam Suci. Sanksi terbaru AS tersebut mencakup 15 orang dan lima institusi yang terkait dengan Iran. Washington berdalih langkah ini diambil sebagai bagian dari perang melawan terorisme.
Amerika Serikat telah memasukkan sejumlah orang yang sedang atau pernah bekerja di Komite Rekonstruksi Makam Suci dalam daftar sanksi. Selain itu, sanksi kementerian keuangan AS juga dijatuhkan terhadap beberapa perusahaan jasa maritim dan transportasi Iran dan Irak.
Pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi ini untuk mengurangi pengaruh Iran di Irak, termasuk membatasi aktivitas perusahaan-perusahaan Irak dan Iran yang memiliki hubungan dengan pemerintahan Tehran. Washington secara terus-menerus memberlakukan sanksi terhadap Iran, sehingga nyaris tidak ada ruang di Iran yang tidak dijatuhi sanksi. Bahkan sekarang menyasar ke negara lain, termasuk Irak. Namun, sanksi terhadap Komite Rekonstruksi Makam Suci mengejutkan, karena lembaga ini hanya memfokuskan aktivitasnya untuk merenovasi makam suci di Irak dan didanai oleh bantuan sukarela masyarakat.
Perluasan sanksi terhadap Iran berlangsung di saat negara ini sedang berjuang mengatasi Covid-19. Langkah ini berasal dari pandangan pemerintahan Trump yang melihat saat ini sebagai waktu yang paling tepat untuk meningkatkan tekanan terhadap Tehran. Pemerintahan Trump telah menggunakan tindakan tidak berperikemanusiaan untuk menjustifikasi pendekatan ilegalnya terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Rabu menuduh Iran berusaha untuk meraih senjata nuklir, dan bersikeras melanjutkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran, sekaligus mengklaim kebijakan Washington bertujuan mencegah hal itu terjadi.

Padahal laporan IAEA mengkonfirmasikan pemenuhan komitmen Iran yang bertentangan dengan klaim Washington. IAEA mengkonfirmasi tidak ada penyimpangan dalam program nuklir Iran dari status sipilnya.
Sanksi baru Washington terhadap Tehran juga datang sesaat setelah delapan negara, termasuk Rusia dan Cina mengirimkan surat kepada PBB, yang menggarisbawahi dampak negatif sanksi AS terhadap kemampuan Iran untuk mengatasi Covid-19.
Utusan Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Austria, Mikhail Ulyanov, menulis di akun Twitter, "Para pendukung kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Iran berupaya menjustifikasi sepak terjangnya. Mereka mengatakan bahwa pengiriman makanan dan obat-obatan ke Iran tidak dilarang. Sepintas statemen tersebut benar, tetapi faktanya barang-barang kemanusiaan murni tidak dapat dikirim ke Iran dengan cara biasa karena mengalami kendala keuangan. Oleh karena itu, pemerintahan Trump praktis telah melakukan "terorisme medis" bersama "terorisme ekonomi" yang dilancarkan terhadap bangsa Iran.(PH)