Motif Di Balik Lawatan Diplomatik dan Militer Iran-Irak
https://parstoday.ir/id/news/iran-i85681-motif_di_balik_lawatan_diplomatik_dan_militer_iran_irak
Seiring dengan kehadiran Menlu Irak di Tehran, Wakil Kepala Staf Umum Urusan Internasional Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran juga melakukan perjalanan ke Baghdad dan bertemu dengan Menteri pertahanan Irak.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Sep 28, 2020 08:27 Asia/Jakarta

Seiring dengan kehadiran Menlu Irak di Tehran, Wakil Kepala Staf Umum Urusan Internasional Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran juga melakukan perjalanan ke Baghdad dan bertemu dengan Menteri pertahanan Irak.

Pada Sabtu (26/9/2020) Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melakukan kunjungan dua hari ke Tehran dan bertemu dengan mitranya dari Iran, Mohammad Javad Zarif, serta Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Brigadir Jenderal Qadir Nezami, Wakil Kepala Staf Umum Urusan Internasional Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran juga melakukan perjalanan ke Baghdad hari Minggu  bertemu dengan Menteri Pertahanan Irak untuk membahas mekanisme perluasan kerja sama pertahanan, militer dan hubungan kontra-terorisme. Pertanyaan pentingnya, apa tujuan perjalanan diplomatik dan militer antara pejabat kedua negara?

Tampaknya, perjalanan resmi ini terkait dengan peningkatan hubungan bilateral dan dengan situasi internal di Irak. Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi melakukan perjalanan ke Tehran Juli lalu dan menandatangani beberapa perjanjian dengan pejabat Republik Islam.

Kini, tujuan terpenting kunjungan Fuad Hussein ke Tehran untuk menindaklanjuti hasil kunjungan Al-Kadhimi. Saat ini hubungan Tehran dan Baghdad dipengaruhi oleh aktor yang meresahkan seperti Amerika Serikat. Mungkin juga Fuad Hussein membawa pesan dari Amerika Serikat atau kebijakan AS di Irak selama kunjungannya ke Tehran.

Kunjungan Wakil Kepala Staf Umum Urusan Internasional Angkatan Bersenjata Iran ke Irak sebagian besar mengenai situasi internal Irak serta kerja sama pertahanan kedua negara. Irak, khususnya dalam sebulan terakhir dilanda berbagai serangan terhadap pangkalan-pangkalan diplomatik yang berada di negeri ini.

Sementara itu, beberapa pihak merancang plot untuk menciptakan keretakan antara angkatan bersenjata Irak dan pemerintah Baghdad, dengan menyatakan bahwa angkatan bersenjata merencanakan kudeta terhadap pemerintah Irak. Republik Islam Iran tidak hanya mengutuk serangan terhadap fasilitas diplomatik di Irak, tetapi juga selalu menekankan persatuan internal Irak, serta interaksi antarkelompok politik, terutama kubu yang dekat dengan Republik Islam dan pemerintah Baghdad.

 

 

Bendera Iran dan Irak

 

Persoalan lainnya mengenai konspirasi dan hasutan baru yang mulai terbentuk oleh penentang stabilitas Irak dalam bentuk serangan terhadap pusat diplomatik di negara ini.

Dalam hal ini, Sheikh Akram Al-Kaabi, Sekretaris Jenderal Gerakan Perlawanan Islam Al-Nujaba Irak mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu (27/9/2020) yang menyatakan bahwa gerakan perlawanan menganggap penyerangan ke pusat-pusat diplomatik sebagai pelanggaran terhadap aturan internasional.

"Amerika menginstruksikan tentara bayarannya yang telah mereka latih dan mempersenjatainya untuk memprovokasi opini publik dan menodai citra perlawanan dengan menargetkan rumah-rumah di sekitar kedutaan AS," ujar Sheikh Al-Kaabi.

Poin penting lainnya mengenai dukungan poros Arab dan Barat terhadap beberapa kubu di Irak yang mencoba mencoreng citra Republik Islam Iran dalam pemerintahan Baghdad. Jaringan media Al-Arabiya dan Al-Hurra dukungan Amerika dan Arab Saudi baru-baru ini menuding kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran di Irak berusaha untuk menggulingkan pemerintah al-Kadhimi.

Kunjungan diplomatik dan militer baru-baru ini antara kedua negara bertujuan untuk menggagalkan konspirasi tersebut sekaligus memperkuat kepercayaan dalam hubungan kedua negara.(PH)