Amerika Tinjauan Dari Dalam 26 Januari 2019
-
National Intelligence Strategy, January 2019.
Dinamika Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting antara lain; AS Rilis Strategi Intelijen Nasional 2019, Kudeta Amerika Menumbangkan Pemerintah Venezuela, Penduduk Asli Amerika Protes Diskriminasi, dan Trump Setuju Akhiri Shutdown Pemerintah AS.
AS Rilis Strategi Intelijen Nasional 2019
Pemerintah AS mengeluarkan Strategi Intelijen Nasional terbarunya pada hari Selasa (22/1/2019). Dokumen ini mengatur ancaman yang dihadapi Amerika Serikat, menetapkan prioritas, dan merinci bagaimana pemerintah harus merespons dalam waktu dekat.
"Kita menghadapi tantangan signifikan dalam lingkungan domestik dan global; kita harus siap untuk menghadapi tantangan abad ke-21 dan mengenali ancaman dan peluang yang muncul," tulis Direktur Dinas Intelijen Nasional AS, Dan Coats dalam mengumumkan strategi tersebut. "Untuk menavigasi lingkungan strategis yang bergolak dan kompleks saat ini, kita harus melakukan berbagai hal secara berbeda," tambahnya.
Strategi ini dirilis setiap empat tahun sekali dan dokumen terbaru adalah yang keempat yang dikeluarkan oleh Dinas Intelijen Nasional setelah peristiwa 11 September. Isu yang diangkat masih tetap konsisten dengan dokumen tahun 2014 yaitu AS masih menganggap Cina, Rusia, Korea Utara, dan Iran sebagai ancaman terbesar.
Menurut dokumen itu, upaya Rusia untuk memperluas pengaruhnya dan modernisasi militer Cina adalah di antara ancaman "yang semakin beragam" yang dihadapi AS.
Dokumen yang ditujukan untuk berbagai lembaga yang membentuk komunitas intelijen AS ini mencatat bahwa Amerika menghadapi dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti di mana ancaman menjadi semakin beragam dan saling berhubungan.
Dan Coats mengatakan komunitas intelijen harus meningkatkan kerja sama di antara lembaga-lembaga anggota dan mendorong lebih banyak inovasi. "Lembaga-lembaga intelijen harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan transparansi sehingga memperbesar kepercayaan publik pada pekerjaan mereka," tambahnya.
Dokumen ini tidak memberi peringkat ancaman, tetapi bagian pertama dikhususkan untuk ancaman yang ditimbulkan oleh "musuh tradisional" yang berusaha mengambil keuntungan dari melemahnya tatanan global pasca Perang Dunia II dan kecenderungan isolasionis yang meningkat di Barat.
Strategi ini menyatakan Cina dan Rusia terus mengejar senjata anti-satelit untuk melemahkan militer dan keamanan AS. Dan Coats juga menuturkan ancaman dari peretasan semakin meningkat karena semakin banyak musuh yang memperoleh teknologi untuk mengganggu sistem komputer AS.
Kudeta Amerika Menumbangkan Pemerintah Venezuela
Sejak berkuasanya pemerintah berhaluan kiri di Venezuela tahun 1999, Amerika Serikat selalu berusaha untuk melemahkan dan menggulingkan pemerintahan saat ini dan sebelumnya. Washington bukan hanya mendukung oposisi, tetapi juga memobilisasi sekutunya di Amerika Latin melawan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan menuntut pengunduran dirinya atau menggulingkannya.
Presiden Maduro sebelum ini mengatakan bahwa Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton diberi tugas untuk mendesain aksi kerusuhan di Venezuela dengan tujuan penggulingan pemerintah.
Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido pada hari Rabu (23/1/2019) menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela dan kemudian mengucapkan sumpah. Beberapa menit setelah itu, Presiden AS Donald Trump dalam sebuah pernyataan mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.
Langkah Washington itu dipandang sebagai kudeta politik terhadap pemerintah dan presiden Venezuela yang sah. Tujuan pemerintah Trump adalah untuk mempersiapkan landasan bagi kemungkinan intervensi di Venezuela untuk menggulingkan Maduro. Dalam konteks ini, Trump mengklaim bahwa ia tidak mempertimbangkan langkah melawan Venezuela, tetapi semua opsi ada di atas meja.
Setelah AS, beberapa negara Amerika Latin termasuk Peru, Chili, Kolombia, Paraguay, Brasil dan Argentina mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela. Wakil Presiden AS Mike Pence pada Selasa (22/1/2019) malam, menyebut Maduro sebagai diktator dan menyatakan Washington mendukung aksi kerusuhan untuk menggulingkan pemerintah Venezuela.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo secara terbuka melakukan intervensi terkait urusan dalam negeri Venezuela dan mendukung kelompok oposisi serta memprovokasi mereka melawan pemerintah Karakas.
Joe McMonigle, seorang pakar energi mengatakan, "Sekarang mereka yang berkuasa di Gedung Putih ingin melakukan tindakan serius terhadap Venezuela. Jika mereka ingin mengambil tindakan, mereka akan mengambil tindakan sekeras mungkin."
Presiden Maduro mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan AS, dan menyatakan bahwa Washington telah memberikan perintah untuk kudeta di negara itu. Selama siaran radio dan TV nasional pada hari Rabu, dia memerintahkan Menteri Luar Negeri Jorge Arreaza untuk memulai revisi total hubungan dengan Washington.
Penduduk Asli Amerika Protes Diskriminasi
Pekan lalu, Penduduk Asli Amerika (Native American) mengadakan demonstrasi menentang ketidakadilan dan diskriminasi yang terus meningkat di negara itu. Ketimpangan dan diskriminasi adalah salah satu tantangan serius yang dihadapi masyarakat Amerika, di mana dampaknya sangat dirasakan oleh perempuan dan penduduk asli Amerika.
Para anggota komunitas penduduk asli Amerika di Washington memprotes ketidakadilan dan meminta pihak berwenang untuk menghormati hak-hak mereka. Para demonstran yang diorganisir oleh American Indian Movement (AIM) mengecam pembatasan hak untuk memilih, pemisahan keluarga melalui tembok pembatas, perdagangan manusia, dan kekerasan aparat keamanan terhadap penduduk asli.
Komunitas penduduk asli juga memprotes rencana pemerintah AS membangun jalur pipa minyak di daerah mereka.
Pada 20 Januari lalu, sebuah video viral menunjukkan siswa yang mengenakan topi Make America Great Again, slogan yang digemakan Donald Trump selama kampanye pilpres, mengejek dan mengelilingi seorang veteran Perang Vietnam penduduk asli Amerika.
Seorang remaja terlihat berdiri di depan Phillips, menatapnya sambil tersenyum. Sementara terlihat rekan-rekan remaja yang mengenakan topi tersebut, bersorak dan berteriak "bangun tembok, bangun tembok."
Trump Setuju Akhiri Shutdown Pemerintah AS
Setelah Presiden AS Donald Trump sedikit melunak soal penutupan pemerintahan federal, Senat pada hari Jumat (25/1/2019) mensahkan rancangan undang-undang untuk menghentikan penutupan pemerintahan AS. Senat meloloskan RUU tersebut tanpa mengalokasikan anggaran untuk pembangunan tembok di perbatasan Meksiko, yang diminta Trump.
Kini giliran DPR AS untuk melakukan pemungutan suara terhadap RUU tersebut. Senat telah mengambil langkah pertama sebagai upaya untuk mengakhiri penutupan pemerintah federal, yang sudah berlangsung 35 hari.
Trump sebelum ini setuju untuk membatalkan penutupan pemerintah selama tiga minggu dan selama masa itu, Kongres AS akan membahas permohonan anggaran Gedung Putih untuk pembangunan tembok.
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa jika tidak mencapai kesepakatan dengan Kongres terkait anggaran pembangunan tembok, ia akan mengumumkan kondisi darurat di AS. Dia meminta Kongres untuk menyetujui anggaran 5,7 miliar dolar untuk pembangunan tembok di perbatasan Meksiko untuk mencegah arus imigran ke wilayah Amerika. (RM)