Iran Aktualita 10 Februari 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i67405-iran_aktualita_10_februari_2019
Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya: Pertemuan Rahbar dengan personel Angkatan Udara Iran, Iran Capai Kemajuan Signifikan di Bidang Nuklir, Menlu Iran Bertemu Utusan PBB untuk Suriah di Tehran, dan Iran Siap Berdialog dengan Semua Negara Kawasan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 10, 2019 13:11 Asia/Jakarta
  • Kamal Kharrazi.
    Kamal Kharrazi.

Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya: Pertemuan Rahbar dengan personel Angkatan Udara Iran, Iran Capai Kemajuan Signifikan di Bidang Nuklir, Menlu Iran Bertemu Utusan PBB untuk Suriah di Tehran, dan Iran Siap Berdialog dengan Semua Negara Kawasan.

Pertemuan Rahbar dengan Personel Angkatan Udara Iran  

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menganggap 22 Bahman tahun ini (HUT Revolusi Islam/11 Februari) sangat penting, karena permusuhan dan kejahatan AS masih terus berlanjut.

Dalam pertemuan dengan para komandan dan personel Angkatan Udara Republik Islam Iran di Tehran, Jumat (8/2/2019), Rahbar mengatakan perayaan ulang tahun revolusi di tempat lain dilakukan dengan parade militer di hadapan sekelompok orang, tetapi di Iran sudah 40 tahun masyarakat terjun ke jalan-jalan di seluruh negeri dan menegaskan kelanjutan jalan revolusi.

Acara ini dilaksanakan setiap tahun untuk mengenang pertemuan bersejarah personel Angkatan Udara Iran dengan Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra pada 8 Februari 1979.

"Kebersamaan militer dengan rakyat selama peristiwa Revolusi Islam adalah sebuah nikmat besar dan angkatan udara memainkan peran besar dalam hal ini. Angkatan udara berkontribusi dalam kemenangan Revolusi Islam dan pada fase-fase setelah revolusi," ujar Ayatullah Khamenei.

Sejak kemenangan Revolusi Islam sampai sekarang, musuh-musuh revolusi termasuk Amerika terus mengobarkan permusuhan mereka terhadap bangsa Iran dan musuh semakin agresif dari waktu ke waktu.

Dari 1979 sampai sekarang, pemerintah AS mengadopsi berbagai cara untuk melawan rakyat dan sistem Republik Islam Iran. Pengalaman 40 tahun revolusi menunjukkan bahwa Amerika belum meninggalkan permusuhan ini.

Di mata rakyat Iran, Amerika adalah musuh nomor satu mereka. Rakyat Iran masih menggemakan slogan "Matilah Amerika" sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap arogansi Paman Sam.

Ayatullah Khamenei menyebut rezim Amerika sebagai simbol kejahatan, kekerasan, pertikaian, dan pengobar krisis dan perang di dunia. "Selama rezim AS melakukan kejahatan, kerusakan, dan campur tangan, maka slogan 'Matilah Amerika' tidak akan hilang dari lisan bangsa Iran. Kami tidak punya masalah dengan rakyat Amerika, tetapi dengan orang-orang yang memerintah di sana," tegas Rahbar dalam pertemuan tersebut.

Pada 22 Bahman tahun ini, rakyat Iran akan kembali menunjukkan dukungan mereka kepada Revolusi Islam dan secara kompak meneriakkan slogan "Matilah Amerika." Pawai 22 Bahman adalah manifestasi dari partisipasi aktif masyarakat, kebulatan tekad, dan persatuan nasional mereka.

Pertemuan Rahbar dengan personil militer Angkatan Udara Iran.

Iran Capai Kemajuan Signifikan di Bidang Nuklir

Di bidang nuklir damai, Republik Islam Iran saat ini memiliki kemampuan untuk membangun berbagai reaktor riset nuklir, dan Tehran siap membantu semua negara Muslim yang ingin mengembangkan reaktor riset.

Kepala Badan Energi Atom Iran (AEOI), Ali Akbar Salehi pada 6 Februari lalu mengatakan, Iran siap membantu negara-negara Muslim untuk membangun reaktor riset.

"Iran telah mencapai swasembada di bidang tertentu, termasuk pembangunan reaktor riset nuklir seperti reaktor Arak dan Tehran, dan sekarang kami siap membantu negara-negara Muslim," kata Salehi dalam wawancara dengan televisi berbahasa Arab, Al Mayadeen.

Dia juga menekankan kemampuan para ahli Iran untuk memperkaya uranium ke tingkat tinggi, dan mengatakan, "Hari ini, kami dapat melakukan perancangan di semua bidang nuklir. Iran dapat menjadi sebuah mitra dialog dengan para ilmuwan dari negara-negara kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak."

Dia menjelaskan bahwa para ilmuwan Iran di AEOI mampu menghasilkan bahan bakar dan peralatan, termasuk sentrifugal, berdasarkan desain mereka sendiri dan kebutuhan negara.

Menlu Iran Bertemu Utusan PBB untuk Suriah di Tehran

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif bertemu dengan Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen di Tehran, Selasa (5/2/2019). Kedua pihak berunding tentang berbagai isu yang berkaitan dengan Suriah, termasuk konstitusi baru, masa depan Suriah, masalah rekonstruksi, dan pemulangan pengungsi ke tanah airnya.

Zarif dan Pedersen juga bertukar pandangan tentang reformasi politik, perang melawan terorisme, penarikan pasukan AS dari Suriah, dan kerja sama Iran yang berkelanjutan dengan PBB untuk menyelesaikan masalah di negara Arab itu.

Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Muallem juga tiba di Tehran untuk melakukan pembicaraan dengan beberapa pejabat Iran. Pada Rabu lalu, Muallem bertemu dengan Presiden Hassan Rouhani untuk membicarakan perkembangan terbaru di Suriah.

Rouhani memberi selamat kepada Suriah atas kemenangannya dalam perang melawan terorisme, dengan mengatakan, "Kami tidak ragu bahwa kemenangan Anda dalam menghadapi konspirasi besar yang dirancang oleh AS dan beberapa negara lain adalah kemenangan bagi rakyat Suriah dan seluruh kawasan."

Sementara itu, Muallem mengatakan Iran telah terbukti mampu mengalahkan konspirasi Amerika berkat keyakinan dan keteguhannya. "Tidak diragukan lagi, keberhasilan Republik Islam dalam mengalahkan plot seperti itu adalah kemenangan besar bagi seluruh wilayah, termasuk Suriah," tambahnya.

"Pemerintah dan rakyat Suriah berterima kasih kepada Iran atas bantuannya yang tiada henti dalam perang melawan terorisme, dukungan untuk integritas wilayah Suriah, dan penentangan terhadap pendudukan asing," ujar Muallem.

Presiden Hassan Rouhani dan Walid Muallem.

Iran Siap Berdialog dengan Semua Negara Kawasan

Ketua Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran, Kamal Kharrazi mengatakan pada hari Sabtu (9/2/2019) bahwa Iran siap untuk pembicaraan dan kerja sama dengan semua negara kawasan di semua bidang.

Dia menyampaikan dalam sebuah seminar dengan tema "40 Tahun Revolusi Islam Iran; Kerja Sama Regional, Prospek dan Tantangan" di Al Rayyan Conference Hall, Hotel Sheraton, Doha, Qatar. Acara ini diadakan oleh Al Jazeera Centre for Studies (AJCS).

Mengacu pada pencapaian-pencapaian Revolusi Islam, Kharrazi menjelaskan bahwa Iran berhasil mencapai kesuksesan signifikan di bidang ilmiah, ekonomi, dan teknologi di tengah berbagai sanksi, dan sekarang Iran adalah sebuah negara yang sangat stabil di kawasan.

Republik Islam Iran, lanjutnya, siap bekerja sama dengan semua negara kawasan untuk berbagi pengalaman 40 tahun dengan mereka. Menurutnya, tidak ada pilihan lain kecuali mengesampingkan perbedaan dan memperkuat kepercayaan politik.

Kharrazi berharap konferensi ini akan menjadi awal pertemuan lain antara Iran dan Qatar untuk membantu mencapai perdamaian dan stabilitas regional. "Rasa hormat kami kepada Qatar adalah masalah mendasar dan perlawanannya terhadap sanksi cukup besar," tegasnya.

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa Iranophobia menyebabkan penghancuran kekayaan negara-negara tertentu dan memperkuat hubungan mereka dengan rezim Zionis Israel.

"Kami mendukung Hizbullah karena berperang dengan penjajah dan ini menyebabkan rezim Zionis meninggalkan Lebanon," katanya. (RM)