Transformasi Timur Tengah, 18 Mei 2019
-
Demonstrasi Hari Nakbah di wilayah Palestina.
Transformasi di Timur Tengah pekan lalu diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya: Hamas: Bangsa Palestina akan Melawan Kesepakatan Abad, Diserang Drone Yaman, Jalur Pipa Minyak Saudi Terbakar, Cara AS Dukung Teroris di Suriah, dan Hizbullah: Sebentar Lagi AS Tinggalkan Sekutunya Satu Persatu.
Hamas: Bangsa Palestina akan Melawan Kesepakatan Abad
Juru Bicara Hamas, Fauzi Barhoum mengatakan, bangsa Palestina terus menghalangi implementasi plot AS "Kesepakatan Abad", sehingga tidakan akan pernah terwujud selamanya.
"Orang-orang Palestina bersama gerakan perlawanan bahu-membahu menghadapi blokade dan mengakhiri agresi Israel, dan hingga akhir blokade dua juta orang Palestina di Gaza akan terus melanjutkan perlawanan terhadap rezim Zionis," ujar Barhoum, Rabu (15/5/2019).
Bertepatan dengan peringatan Hari Nakbah, orang-orang Palestina dari berbagai wilayah Palestina dari Ramallah hingga Gaza, melakukan aksi protes terhadap pendudukan rezim Zionis. Aksi ini dihadapi dengan tindakan represif oleh tentara Israel. Dilaporkan, 48 orang Palestina terluka akibat tembakan tentara rezim Zionis.
Ratusan ribu warga Palestina diusir dari tanah airnya pada 14 Mei 1948 dan sehari setelah itu, pembentukan rezim Zionis diumumkan di bumi Palestina.
Berdasarkan Kesepakatan Abad, Baitul Maqdis akan diserahkan kepada rezim Zionis, pengungsi Palestina tidak memiliki hak kembali ke tanah airnya dan rakyat Palestina hanya berhak atas tanah kecil yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Diserang Drone Yaman, Jalur Pipa Minyak Saudi Terbakar
Tujuh pesawat tanpa awak Yaman meluncur ke wilayah Arab Saudi dan menarget fasilitas vital negara ini di sektor minyak. Serangan ini merupakan balasan terhadap agresi militer dan blokade terhadap Yaman oleh koalisi pimpinan Arab Saudi.
"Kami siap melakukan lebih banyak serangan signifikan dan keras ini selama blokade terhadap Yaman berlanjut, “ kata sumber militer Yaman seperti dikutip televisi al-Masirah, Selasa (14/5/2019).
Arab Saudi dan sejumlah sekutu regionalnya melancarkan serangan militer ke Yaman sejak Maret 2015. Agresi ini telah menyebabkan 40.000 warga Yaman tewas dan belasan ribu lainnya terluka. Blokade penuh dari darat, laut dan udara terhadap Yaman juga telah menciptakan tragedi kemanusiaan di negara Arab tersebut.
Menanggapi serangan balasan Yaman tersebut, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan dua stasiun pompa minyak di jalur pipa minyak timur-barat negara ini diserang drone Yaman, dan serangan ini sebenarnya menargetkan pasokan minyak global.
Dia menambahkan sabotase terbaru di Teluk Arab ini tidak hanya menargetkan Arab Saudi, tetapi juga keamanan pasokan minyak global dan perekonomian dunia. Menurutnya, produksi dan ekspor minyak mentah serta olahan Arab Saudi akan terus berlanjut tanpa gangguan, namun perusahaan minyak nasional Saudi, Aramco telah menghentikan pemompaan minyak karena jalur minyak yang diserang sedang diperbaiki.
Pipa minyak Arab Saudi yang menjadi target serangan balasan Yaman itu memiliki panjang 1.200 kilometer, dan berfungsi menyalurkan minyak dari ladang minyak utama Saudi ke Yanbu di barat negara itu.
Sementara itu, jet-jet tempur koalisi agresor Saudi kembali menargetkan daerah pemukiman di Sana'a, ibukota Yaman. Menurut laporan televisi al-Mayadeen, jet-jet tempur koalisi Saudi pada Kamis (16/5/2019) membombardir rumah-rumah warga di jalan al-Rabat, Sana'a, yang mengakibatkan sejumlah orang tewas.
Serangan itu menewaskan enam orang termasuk empat anak-anak anggota sebuah keluarga dan dua pria, serta menciderai 71 lainnya termasuk 27 anak-anak, 17 perempuan dan 27 pria. Selain itu, banyak bangunan rusak parah akibat seragan brutal ini.
Cara AS Dukung Teroris di Suriah
Komite Koordinasi Suriah dan Rusia Urusan Pengungsi Suriah menyampaikan laporan mengenai dukungan Amerika Serikat terhadap kelompok teroris yang beroperasi di negara Arab ini dengan memfasilitasi penyelundupan minyak yang dilakukan demi mendanai kebutuhan operasionalnya.
Pasukan AS yang ditempatkan di Suriah kerap membantu mengamankan jalur pasokan minyak mentah selundupan yang dilakukan kelompok teroris keluar dari negara itu.
Oleh karena itu, pemerintah Suriah dan Rusia pada Rabu (15/5/2019) menyampaikan desakan supaya AS menghormati hak asasi manusia dan hukum internasional dengan menarik pasukannya segera dari Suriah.
"AS dan sekutunya menciptakan krisis energi di Suriah demi mengacaukan perekonomian negara ini. Mereka juga menggunakan kelompok-kelompok teroris untuk melancarkan berbagai aksi yang bertujuan untuk menghalangi rekonstruksi Suriah dan merusak stabilitas," kata komite koordinasi Suriah dan Rusia dalam urusan Pengungsi Suriah.
Pihak Rusia dan Suriah juga meminta organisasi kemanusiaan di bawah PBB untuk menekan Washington supaya mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah sesegera mungkin, serta membubarkan Kamp al-Hawl serta membebaskan penghuninya yang tinggal di kamp tersebut untuk kembali ke tempat tinggal mereka di Suriah.
Hizbullah: Sebentar Lagi AS Tinggalkan Sekutunya Satu Persatu
Wakil Sekjen Hizbullah Lebanon, Syeikh Naim Qassem mengatakan, Amerika Serikat tidak lama lagi akan meninggalkan negara-negara yang bergantung kepadanya terutama negara-negara Arab Teluk Persia yang merupakan sekutu finansial Washington.
Syeikh Qassem pada Selasa (14/5/2019) malam dalam wawancara dengan stasiun televisi al-Manar, menuturkan sebagaimana sebelumnya Amerika mencampakkan kelompok teroris Daesh, negara-negara yang bergantung ke Washington serta penyokong dana negara itu di kawasan juga akan bernasib sama.
Wakil Sekjen Hizbullah menegaskan, ancaman dan upaya menakut-nakuti tidak akan berguna bagi orang-orang yang tidak mau melepaskan haknya dan bertekad melindungi independensi serta tanah airnya dan demi tujuannya siap untuk mati.
"Paksaan dan ancaman Amerika sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menang dari kebenaran dan hakikat, dan saat kebenaran dan perlawanan bersatu, maka para penindas pasti kalah," tegasnya.
Menurut Syeikh Qassem, Amerika tahu bahwa kemampuannya untuk mengubah perimbangan di wilayah ini lemah, karena ada pejuang perlawanan dan front perlawanan. Oleh karena itu, AS tidak dapat mendikte apa yang diinginkannya dan memaksakan rencana Israel dan non-Israelnya.
Dia kemudian menyarankan para pemimpin Arab di Teluk Persia untuk meninjau ulang kebijakan luar negerinya, dan menekankan bahwa konspirasi AS di Timur Tengah akan gagal karena front perlawanan anti-Zionis menghadapi mereka dengan semua cara yang tersedia. (RM)