Amerika Tinjauan Dari Dalam 22 Juni 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i71263-amerika_tinjauan_dari_dalam_22_juni_2019
Transformasi Amerika sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya Senat AS menolak penjualan senjata kepada Arab Saudi. Menlu AS menolak memasukkan Arab Saudi ke Daftar Perekrut Anak dalam Perang.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 22, 2019 12:15 Asia/Jakarta
  • Amerika Tinjauan Dari Dalam 22 Juni 2019

Transformasi Amerika sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya Senat AS menolak penjualan senjata kepada Arab Saudi. Menlu AS menolak memasukkan Arab Saudi ke Daftar Perekrut Anak dalam Perang.

Isu lain dari AS terkait dengan desakan perusahaan Apple kepada Trump agar menghentikan perang tarif dengan Cina. Selain itu, Trump membatalkan rencana serangan militer ke Iran.

Senat AS Tolak Penjualan Senjata kepada Arab Saudi

Senat AS mendukung resolusi yang menentang rencana Presiden Donald Trump untuk menyelesaikan penjualan senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dengan menggunakan celah darurat nasional.

Resolusi pertama dan kedua disahkan dengan 53-45 suara pada Kamis lalu. Resolusi ini akan memblokir penjualan 8,1 miliar senjata yang diumumkan oleh Trump. Suara ketiga yang mencakup 20 resolusi disetujui oleh 51-45. Resolusi tersebut harus melewati Dewan Perwakilan Rakyat yang dikontrol Partai Demokrat.

Para pendukung resolusi, yang dipimpin oleh Senator Demokrat, Bob Menendez dan Senator Republik, Lindsey Graham, mengatakan mereka mengirim pesan ke Riyadh bahwa Washington tidak nyaman dengan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Turki.

Mereka juga menyatakan keprihatinan mendalam atas perang yang dikobarkan Saudi dan UEA di Yaman, di mana kedua negara telah melancarkan agresi terhadap Yaman sejak 2011.

Namun, para anggota parlemen mungkin gagal untuk mengumpulkan dua pertiga suara yang diperlukan untuk membatalkan kemungkinan veto oleh Trump. Presiden AS sebelum ini berjanji akan memveto tindakan Senat sehingga bisa melanjutkan kesepakatan.

Beberapa anggota parlemen AS juga meminta pemerintahan Trump untuk menahan penguasa Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, karena ia bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi.

Trump menolak setiap upaya untuk menghentikan penjualan senjata, dengan alasan bahwa Amerika membutuhkan Arab Saudi dan UEA sebagai sekutu strategis di kawasan untuk melawan Iran.

Donald Trump asyik menari tarian pedang dengan Raja Arab Saudi di Riyadh, Mei 2017.

Menlu AS Tolak Masukkan Saudi ke Daftar Perekrut Anak dalam Perang

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mencegah dimasukannya Arab Saudi dalam daftar negara yang merekrut anak dalam perang. Dia menepis temuan para ahli yang membuktikan bahwa Saudi menggunakan anak-anak di bawah umur dalam perang Yaman.

Seperti dilansir Reuters, 18 Juni 2019, keputusan menlu AS ini spontan memicu protes dari para aktivis hak asasi manusia dan seorang anggota parlemen dari Partai Demokrat. Menurut mereka, hal ini dapat memunculkan tuduhan bahwa pemerintah AS mengutamakan kepentingan bisnis penjualan senjata dengan Saudi.

Para ahli di Departemen Luar Negeri AS merekomendasikan Saudi untuk dimasukkan ke daftar negara perekrut anak dalam perang berdasarkan laporan sejumlah organisasi HAM, yang mengatakan Saudi telah merekrut anak-anak Sudan untuk berperang di Yaman.

Kantor Anti Perdagangan Manusia di Departemen Luar Negeri, memiliki peran penting dalam menyelidiki penggunaan tentara anak di seluruh dunia. "AS mengutuk perekrutan dan penggunaan tentara anak yang melanggar hukum. Kami ingin mengakhiri praktik ini di mana pun itu terjadi,” kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri dalam menanggapi pertanyaan Reuters.

Apple Ingatkan Trump soal Kerugian perang Tarif dengan Cina

Perusahaan Apple Inc mengatakan usulan tarif AS untuk barang-barang dari Cina, akan mengurangi kontribusi perusahaan terhadap ekonomi AS dan merusak daya saing globalnya.

"Pemerintah AS seharusnya tidak mengenakan tarif hingga 25% pada produk-produk Cina senilai 300 miliar dolar," kata Apple pada hari Kamis (20/6/2019).

Pembicaraan perdagangan antara AS dan Cina dimulai kembali setelah lebih dari satu bulan terhenti. Pemerintah AS mengatakan akan memberlakukan bea masuk pada produk-produk Cina jika kedua pihak tidak dapat mencapai kesepakatan perdagangan.

Para pemimpin kedua negara diperkirakan akan bertemu di G-20 di Jepang pekan depan. Presiden Donald Trump mengatakan dia akan mempertimbangkan untuk mengenakan tarif pada barang-barang China lainnya setelah pembicaraan gagal pada bulan Mei.

Apple mengatakan pesaing-pesaingnya dari Cina, termasuk Huawei tidak memiliki kehadiran signifikan di pasar AS dan tidak akan terpengaruh oleh bea AS. "Oleh karena itu, tarif AS akan memiringkan lapangan bermain dan menguntungkan pesaing global kami," tulis perusahaan tersebut.

Puing-puing drone Global Hawk AS yang melanggar wilayah Iran dan ditembak jatuh.

Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Setelah rapat darurat di Gedung Putih, para pejabat senior pemerintah AS mengatakan Presiden Donald Trump telah menyetujui serangan militer terhadap sejumlah target di Iran, tetapi rencana serangan itu dibatalkan pada menit-menit akhir.

Empat anggota Kongres AS juga meminta Trump untuk menghindari segala bentuk petualangan perang dengan Iran. Senator Bernie Sanders di laman Twitter-nya menulis, "Amerika harus berunding dengan Iran, bukan malah menyulut perang tak berujung dan melanggar konstitusi di kawasan Timur Tengah."

Sementara itu, Ilhan Omar menuturkan, seperti perang Irak, agresor dengan alasan fiktif menabuh genderang perang, dan sama seperti Irak, anak-anak akan mati, orang-orang Amerika kehilangan nyawa dan dunia akan semakin tidak aman.

Di sisi lain, senator Elizabeth Warren mengatakan, Trump provokator krisis ini dan kebijakan luar negeri yang congkak dengan mengirim cuitan di Twitter, telah memperburuk krisis. Dia menambahkan, "Saya pendukung upaya menurunkan eskalasi ketegangan dan kita tidak akan membiarkan orang-orang haus perang di pemerintahan AS menyulut perang dengan Iran."

Alexandria Ocasio Cortez memprotes sikap pemerintah Trump terhadap Iran dan menuturkan, orang-orang haus perang di tubuh pemerintah AS berusaha menyeret kita ke dalam konflik militer, dan ini sepenuhnya tidak bertanggung jawab.

Serangan terhadap Iran diyakini akan mendapat respon tegas dari Republik Islam seperti menjatuhkan drone Global Hawk, dan hal ini memaksa Gedung Putih bersikap lebih hati-hati.

Para pejabat tinggi Iran termasuk Pemimpin Besar Revolusi Islam, berulang kali menekankan bahwa mereka tidak mencari perang dengan negara mana pun dan tidak akan memulai perang. Namun, mempertahankan kedaulatan dan wilayah teritorial seperti zona udara dan perairan, merupakan garis merah Iran dan tidak peduli dari negara mana serangan itu datang.

Sikap tegas Iran menimbulkan keraguan serius di Gedung Putih dan di antara para pejabat AS. Kubu Demokrat bersama para mantan pejabat pemerintah AS dan gerakan anti-perang, sangat khawatir bahwa pendekatan Trump pada akhirnya akan menyeret AS dalam sebuah konflik yang tidak diinginkan di Asia Barat, dan itu pun dengan sebuah kekuatan seperti Iran. (RM)