AS Tinjauan dari Dalam, 1 November 2020
https://parstoday.ir/id/news/other-i86837-as_tinjauan_dari_dalam_1_november_2020
Dinamika di Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu penting antara lain: serangan Trump terhadap media karena laporkan angka korban Covid19, AS berniat menyebarkan rudal nuklir di Eropa untuk melawan Rusia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 01, 2020 14:58 Asia/Jakarta
  • Joe Biden (kiri) dan Donald Trump.
    Joe Biden (kiri) dan Donald Trump.

Dinamika di Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu penting antara lain: serangan Trump terhadap media karena laporkan angka korban Covid19, AS berniat menyebarkan rudal nuklir di Eropa untuk melawan Rusia.

Isu lain dari Negeri Paman Sam berkenaan dengan unggulnya Joe Biden dari Trump dalam sejumlah jajak pendapat menjelang pilpres AS, dan terakhir penilaian Noam Chomsky tentang kepribadian Donald Trump.  

Trump Menyerang Media atas Angka Korban Corona

Melanjutkan sikapnya terhadap media, Presiden AS mencuit bahwa media palsu tidak akan lagi melaporkan kematian Corona setelah pemilu. Menurut laporan YJC, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat hari Rabu (28/10/2020) dalam pesannya di lamat Twitternya menulis, "Pengulangan kata penyakit COVID-19 menjadi slogan padu dari berita bohong para media yang fanatik."

Dalam pesannya disebutkan, "Media tidak akan membicarakan hal lain hingga 4 November (satu hari setelah pemilihan presiden AS)." "Kemudian akan ada pembicaraan tentang tingkat kematian yang rendah, jumlah kamar rumah sakit yang tinggi dan sejumlah besar orang muda yang dites," tulis Trump.

Kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden, sementara itu, menyebut Trump sebagai "penipu" selama kampanye di Georgia.

Terlepas dari tingginya angka infeksi dan kematian akibat virus Corona di Amerika Serikat, Biro Sains Gedung Putih mengklaim bahwa wabah virus Corona berakhir dengan tindakan tegas presiden negara ini. Bertentangan dengan klaim Biro Sains Gedung Putih, AS masih menjadi pemimpin dunia dalam lebih dari 9 juta kasus penyakit Corona.

Sementara itu, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, memperingatkan tentang peningkatan kasus penularan virus Corona secara signifikan. Anthony Fauci, seperti dikutip Farsnews, Kamis (29/10/2020) mengatakan, "Sebentar lagi kita akan memasuki musim dingin dan kita akan menyaksikan situasi yang lebih buruk."

"Kita seharusnya berada di jalan untuk mengurangi kasus harian infeksi Covid-19, tetapi ini tidak terjadi," ujarnya.

Lawan Rusia, AS akan Sebarkan Rudal Nuklir di Eropa

Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert O'Brien mengatakan militer Amerika memiliki program untuk mengembangkan rudal balistik dengan tujuan melawan Rusia. "Kami telah keluar dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF), dan kami sedang mengembangkan senjata hipersonik dan sistem pengiriman rudal balistik," ujarnya pada hari Rabu (28/10/2020) seperti dikutip televisi al-Mayadeen.

O'Brien menekankan bahwa AS akan mengerahkan rudal yang sama ke Eropa jika diperlukan untuk mencegah Rusia.

AS secara resmi keluar dari Traktat INF pada 2 Agustus 2019. AS berulang kali menuduh Rusia melanggar perjanjian itu, tetapi Moskow membantah keras tuduhan tersebut dan menyatakan kekecewaan atas ketidakpatuhan Washington. Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan bahwa Traktat INF telah diakhiri oleh AS sejak 2 Agustus 2019.

Perjanjian New START juga akan berakhir pada Februari 2021 jika tidak ada kesepakatan yang dicapai antara AS dan Rusia. Berdasarkan Perjanjian New START yang disepakati pada 2010, kedua negara setuju untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklirnya tidak lebih dari 1.550 unit untuk 700 sistem rudal.

Joe Biden.

Biden Masih Unggul di Jajak Pendapat Amerika

Kandidat presiden di pilpres 2020 Amerika dari kubu Demokrat dilaporkan masih unggul di negara bagian Pennsylvania, Florida dan Caronila Utara dari Donald Trump, rivalnya dari kubu Republik.

Seperti dilaporkan Tasnimnews, hasil jajak pendapat bersama The Hill dan Harris X menunjukkan bahwa Biden unggul dari Turmp di tiga negara bagian tersebut secara berurutan sebesar 5, 3 dan satu persen.

Hasil mayoritas jajak pendapat di beberapa bulan terakhir di Amerika Serikat juga menunjukkan Biden unggul dari Trump. Kebijakan kontradiktif, skandal moral dan perilaku yang tidak dapat diprediksi, manajemen buruk Trump berujung pada menurunnya tingkat popularitas presiden Amerika ini.

Menurut para pengamat, rapor lemah Trump dalam menangani krisis Corona dan kinerjanya yang mengerikan di samping sikap kontradiktifnya terhadap aksi protes anti rasis baru-baru ini di Amerika dengan mudah dapat membuatnya gagal di pemilu presiden. Pemilu presiden Amerika akan digelar 3 November 2020.

Chomsky Sebut Trump Lebih Buruk dari Hitler

Pemikir terkemuka AS, Noam Chomsky menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai ancaman bagi kemanusiaan. Chomsky dalam sebuah wawancara dengan The Independent, menggambarkan Trump lebih buruk dari Adolf Hitler, diktator Nazi Jerman, yang mengancam kehidupan umat manusia.

"Langkah presiden AS dalam masalah lingkungan mengarah pada kehancuran peradaban manusia," ujar Chomsky.

Profesor emeritus MIT ini mengungkapkan, "Jika Trump memenangkan pemilu presiden AS pada 3 November, maka ia akan menimbulkan bencana lingkungan yang jauh lebih besar lagi.”

Menyinggung langkah Trump menarik AS keluar dari perjanjian iklim Paris, Chomsky menilai Trump dan Partai Republik sebagai satu-satunya kelompok politik konservatif utama di dunia yang menyangkal adanya perubahan iklim. Trump secara resmi menarik AS keluar dari Perjanjian Perubahan Iklim Paris pada 4 Agustus 2017.

Bentrokan antara pendukung Trump dan kelompok anti-Trump di Amerika.

Sementara itu, Richard Ford, penulis terkenal Amerika Serikat menyebut negara ini sebagai kekuatan yang mulai runtuh. Ford saat diwawancarai koran Spanyol, El Pais seraya mengisyaratkan keruntuhan kekuatan Washington di tingkat internasional, khususnya di era pemerintahan Donald Trump mengatakan, Amerika tidak lagi memiliki kebanggaan.

Penulis Amerika ini juga menyinggung berbagai ancaman terakhir Donald Trump bahwa dirinya tidak akan melepas kekuasaan dengan damai mengingatkan, "AS dewasa ini menghadapi kendala multipolar." "Bipolaritas di masayarakat Amerika sangat parah di mana munculnya kekerasan di persaingan pemilu sebagai hal yang mungkin dan dapat diprediksi," tambah Ford.

Sementara itu, Amnesty Internasional baru-baru ini dilaporannya seraya menyatakan bahwa aparat keamanan Amerika saat ini tidak mampu mencegah terganggunya unjuk rasa damai mengingatkan, sejak kepemimpinan Donald Trump, keamanan demonstran dan pemilih tidak lagi terjamin.

Amnesty Internaisonal di laporannya menyebutkan, antara bulan Mei hingga September 2020, di 75 persen kampanye pemilu presiden, terjadi aksi kekerasan dan bentrokan.

Sekaitan dengan ini, Dewan Hubungan Luar Negeri AS menyatakan, sejumlah pendukung presiden dan juga milisi bersenjata berjanji akan menggunakan kekerasan jika Trump kalah. (RM)