Mengapa Palestina Bersikeras Mengusir dan Israel Memperkuat Mahmoud Abbas?
Sementara sebagian besar rakyat Palestina menyerukan pencopotan Mahmoud Abbas dari jabatan kepala Otoritas Palestina, rezim Zionis berusaha memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan Palestina.
Menurut jajak pendapat yang dilakukan pada 15-18 September 2021, dari 1.270 warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat dan Jalur Gaza, 78% dari mereka yang tinggal di wilayah tersebut menyerukan pengunduran diri Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.
Sementara itu, kabinet Zionis Israel berusaha memperkuat Mahmoud Abbas di Palestina.
Sejak peresmian kabinet baru Zionis Israel, seruan untuk mendukung Otoritas Palestina telah terdengar dari para pejabat Israel. Secara khusus, Menteri Perang Israel Benny Gantz dan Presiden Israel Isaac Herzog telah secara resmi menyatakan bahwa pemerintahan Otoritas harus diperkuat.
Dalam hal ini, pertama kepala dinas intelijen Zionis Israel dan kemudian menteri perang rezim ini baru-baru ini bertemu dengan kepala Otoritas Palestina.
Baca juga: Warga Palestina di Ramallah Berdemonstrasi Tuntut Abbas Mundur
Pertanyaannya, mengapa warga Palestina bersikeras mengusir dan rezim Zionis bersikeras memperkuat Mahmoud Abbas?
Ada dua alasan penting dapat diberikan dalam hal ini.
Faktor pertama adalah bahwa Mahmoud Abbas dan Otoritas Palestina telah mempolarisasi masyarakat Palestina melalui tindakan mereka, sehingga menjadi dua kutub.
Masyarakat Palestina yang terpolarisasi sebenarnya telah menjadi pemandangan rutin dan tidak bergerak maju. Dalam masyarakat bipolar, komunikasi antara orang-orang terbatas.
Rakyat Palestina menentang dikotomi masyarakat, namun rezim Zionis menganggapnya sejalan dengan kepentingannya. Bahkan, Zionis berusaha untuk melemahkan perlawanan di Jalur Gaza dengan memperkuat Otoritas Palestina untuk menebus beberapa kelemahan yang muncul di dalam Palestina dengan perpecahan lebih lanjut.
Sementara sebagian besar rakyat Palestina menyerukan pencopotan Mahmoud Abbas dari jabatan kepala Otoritas Palestina, rezim Zionis berusaha memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan Palestina.
Faktor kedua adalah pola perilaku politik dan keamanan Mahmoud Abbas terhadap warga Palestina dan rezim Zionis Israel.
Pembatalan pemilihan umum parlemen Palestina yang dijadwalkan 16 Mei setelah 16 tahun, bersama dengan tindakan keras terhadap para kritikus dan pengunjuk rasa Palestina, menjadi pemicu protes anti-Mahmoud Abbas.
Dalam hal ini, Institut Riset Keamanan Nasional di Universitas Tel Aviv menulis dalam sebuah laporan bahwa keputusan Otoritas Palestina untuk membatalkan pemilu legislatif pada bulan Mei mengungkapkan kepada rakyat Tepi Barat bahwa Mahmoud Abbas tidak menguntungkan bagi kepentingan politik mereka dari pemilihannya sebagai kepala Otoritas Palestina pada tahun 2005.
Sementara Abbas menolak bekerja sama dengan kelompok politik, terutama di Jalur Gaza, ia justru menekankan kerja sama keamanan dengan rezim Zionis Israel. Otoritas Palestina saat ini menyediakan porsi yang signifikan dari kebutuhan keamanan rezim Zionis melalui kerja sama keamanan.
Sekalipun kekejaman rezim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, al-Quds yang diduduki, dan Jalur Gaza, Mahmoud Abbas dan Otoritas Palestina terus menekankan untuk melanjutkan koordinasi keamanan dengan rezim Zionis dan menolak untuk menindak pasukan keamanan rezim ini.
Sejatinya, Mahmoud Abbas telah memimpin sebuah gerakan yang menganggap aksi bersenjata melawan rezim Zionis Israel adalah ilegal dan menyerukan perlunya koordinasi keamanan dengan rezim penjajah untuk mengendalikan situasi.
Dengan demikian, rakyat Palestina saat ini menekankan penghapusan Abbas dan rezim Zionis menekankan perlunya ia tetap berkuasa dan memperkuatnya dalam struktur kekuasaan Zionis Israel.
Dalam hal ini, Institut Riset Keamanan Nasional Universitas Tel Aviv, yang menyebut protes di Tepi Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas sendiri, menyarankan institusi politik dan keamanan rezim Zionis untuk mencegah jatuhnya Mahmoud Abbas.