Dimensi Baru Fase Kedua Operasi Militer Yaman terhadap Saudi
Pasukan Yaman meluncurkan babak baru operasi militer untuk mematahkan blokade yang dijatuhkan Arab Saudi terhadap negaranya.
Hanya beberapa hari lagi perang koalisi Saudi terhadap Yaman akan memasuki tahun kedelapan. Penghancuran infrastruktur Yaman melalui serangan udara harian terus berlanjut. Bencana kemanusiaan di Yaman kian hari semakin parah.
Selain serangan udara koalisi agresor yang dilakukan setiap hari, blokade Yaman terus berlanjut. "Kami adalah satu-satunya negara di dunia yang menjadi sasaran agresi dan 25 juta orang di negara ini menjadi target blokade," kata Jalal al-Rawishan, Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman.
Orang-orang Yaman menunggu tindakan lembaga internasional untuk mematahkan blokade koalisi Saudi. Tetapi lembaga internasional, terutama Dewan Keamanan PBB, belum mengambil tindakan apa pun guna meredam bencana kemanusiaan di Yaman.
Akhirnya, Yaman bertumpu pada kekuatannya sendiri untuk mengakhiri blokade melalui operasi militer terhadap Arab Saudi. Al-Rawishan menekankan bahwa tentara dan komite rakyat Yaman tidak punya pilihan selain melakukan operasi pencegahan dalam menghadapi blokade tidak adil yang terus berlanjut.
Brigadir Jenderal Yahya Saree, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, hari Minggu (20/3/2022) menyatakan bahwa sejumlah fasilitas penting Perusahaan minyak Saudi Aramco di Riyadh, Yanbu dan sejumlah daerah lain di negara ini menjadi target beberapa rudal balistik, rudal jelajah dan UAV. Selain keberhasilan operasi tahap pertama ini, pasukan Yaman juga menyerang sejumlah target vital dan penting di Abha, Khamis Mushait, Jizan, Samta, dan Dhahran Selatan dengan rudal dan UAV.
Poin penting dari operasi ini bukan jangka pendek dan sementara, tetapi zona intelijen dan pengintaian tentara Yaman yang telah mengidentifikasi area sensitif dan strategis di Arab Saudi, yang akan mendukung keberhasilan operasi berikutnya.
Operasi tahap pertama untuk mematahkan bloakde dilakukan 10 hari lalu. Operasi tersebut menargetkan fasilitas Aramco di Riyadh, Jizan dan Abha. Dalam hal ini, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman mengatakan bahwa tentara Yaman memiliki informasi memadai mengenai target vital yang bisa melakukan serangan secara akurat kapan saja.
Penilaian terhadap operasi militer tersebut menunjukkan bahwa Yaman secara khusus menargetkan fasilitas minyak Saudi. Oleh karena itu, target serangan yang dilancarkan Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman bertujuan untuk memukul jantung yang memompa perekonomian Saudi, yaitu minyak. Dengan cara ini, mereka dapat menekan pemerintah Saudi untuk segera mengakhiri blokade terhadap Yaman.
Mengingat ketergantungan perekonomian Arab Saudi terhadap sumber daya minyak dan investor asing, maka serangan terhadap fasilitas minyak negara ini dapat menyebabkan kerusakan seperti pelarian modal asing dan penangguhan atau penundaan implementasi rencana ekonomi Riyadh.
Poin lainnya, fase kedua operasi militer Yaman untuk menghentikan blokade terjadi dalam situasi ketika Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) menggelar pertermuan di Riyadh baru-baru ini yang menyerukan agar Ansarullah ikut hadir dalam dialog Yaman-Yaman. Tapi tawaran ini sebelumnya sudah ditolak oleh pejabat Yaman. Sebab, Yaman percaya bahwa Arab Saudi tidak bisa menjadi mediator yang netral, karena bagian dari aktor dalam krisis Yaman.(PH)