Fakta Kelam AS di Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i148662-fakta_kelam_as_di_irak
John Kerry, Menteri Luar Negeri AS di era pemerintahan Barack Obama dan Utusan Khusus Washington untuk Perubahan Iklim, berbicara tentang agresi militer Rusia terhadap Ukraina dalam sebuah wawancara dengan televisi Prancis.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jun 29, 2023 16:02 Asia/Jakarta

John Kerry, Menteri Luar Negeri AS di era pemerintahan Barack Obama dan Utusan Khusus Washington untuk Perubahan Iklim, berbicara tentang agresi militer Rusia terhadap Ukraina dalam sebuah wawancara dengan televisi Prancis.

Tetapi ia berkelit ketika seorang jurnalis Prancis menyebut serangan pasukan AS di Irak sebagai agresi militer, dengan mengatakan, "Tidak, itu bukan agresi militer, karena tidak pernah ada tuduhan langsung terhadap Presiden George Bush saat itu,".

Menanggapi pertanyaan reporter LCI tentang apakah perang Irak adalah kejahatan agresi militer, John Kerry mengklaim, "Anda tidak bisa mengatakan itu kejahatan, tentu ada pelanggaran selama konflik ini; Tapi saya berbicara dan memprotes mereka".

Menurut survei yang dilakukan, invasi militer AS di Irak yang telah menewaskan lebih dari satu juta warga sipil negara Arab ini, pasukan AS melakukan kejahatan perang yang tak terhitung jumlahnya, termasuk menyiksa tentara yang ditangkap.

Dunia bereaksi terhadap perang yang dilancarkan Bush dan Blair dengan melakukan penentangan, tetapi hampir tidak melakukan apa pun untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Tidak ada sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara dunia atau organisasi internasional terhadap Amerika atau Inggris.

Tidak ada investigasi oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mengadili kejahatan perang. Beberapa organisasi hak asasi manusia menyerukan agar Blair didakwa melakukan kejahatan, tetapi tidak ada pemerintah yang mengajukan resolusi ke PBB  untuk membuka kasus pidana terhadap mereka.

Mengenai agresi militer AS dan Inggris terhadap Irak, perang itu tidak sah dan ilegal, serta dampaknya sangat menghancurkan dan tidak manusiawi, dan jumlah orang yang terbunuh dalam agresi militer ini jauh lebih tinggi daripada di era Saddam.

Pada tahun 2003, pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin oleh George Bush Jr. membuat dua tuduhan internasional terhadap pemerintah Irak mengenai adanya senjata kimia pemusnah massal di Irak dan hubungan pemerintah negara ini dengan teroris Al-Qaeda. 

Serangan ini memiliki serangkaian pembenaran jelas yang diumumkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dan serangkaian tujuan nyata dan tidak jelas yang menjadi alasan utama serangan AS ke Irak.

Mengenai alasan adanya senjata pemusnah massal, opini publik Amerika dan Inggris memiliki keraguan yang serius di bidang ini, yang tercermin dari demonstrasi besar-besaran anti perang di Inggris dan kemudian muncul dalam produksi film dan dokumenter beberapa media, termasuk di AS.

 

John Kerry

Di balik isu senjata pemusnah massal di Irak, ada hubungan yang signifikan antara minyak dan serangan Amerika ke negara ini. Sebab minyak Irak strategis bagi Amerika yang berupaya mempertahankan predikat kekuatan hegemoniknya di dunia.

Meskipun Jenderal Tommy Franks, Komandan Invasi AS ke Irak menyatakan bahwa pembebasan sumber daya industri dan sumur minyak untuk kepentingan rakyat Irak sebagai salah satu tujuan perang. Tetapi faktanya, segera setelah dominasi pasukan militer Amerika dan jatuhnya rezim Saddam, pemerintah Amerika mengerahkan perusahaan kontraktor militer seperti Blackwater, untuk mengamankan sumber daya minyak jarahannya di Irak, yang kemudian menyebabkan tragedi pembunuhan warga sipil Irak di bundaran Al-Nusra.

Pada tahun 2013, majalah National Geographic mengumumkan satu juta seratus ribu orang Irak telah mengungsi dan tinggal di kamp-kamp pengungsian. Palang Merah memperkirakan jumlah pengungsi Irak menjadi dua juta tiga ratus ribu orang. Pada 2015, jumlah ini mencapai empat juta empat ratus ribu orang. Inilah hasil dari operasi yang disebut "Pembebasan Irak"

Hanya dalam tiga tahun pertama serangan Amerika, lebih dari separuh dokter Irak meninggalkan negara mereka. Pada tahun 2007, gizi buruk anak mencapai 28 persen. Laporan resmi menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen anak Irak menderita masalah mental dan saraf.

Penelitian yang dilakukan peneliti internasional menunjukkan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh perang agresif AS di Irak meliputi kerusakan infrastruktur industri, pertanian, dan kesehatan, timbulnya penyakit akibat kualitas air yang tidak baik, dan serangan dengan senjata ilegal, terutama di provinsi Basra, dan kejahatan semacam ini, dengan tingkat kerugian mencapai 25 ribu miliar dolar.

 

Kerusakan lain yang tak terlupakan dari ulah pemerintah AS di Irak adalah penciptaan kelompok teroris Daesh di negara ini. Menurut Donald Trump, pemerintah AS adalah pencipta utama kelompok teroris ini dan telah lama membentuk dan melatih pasukan teroris itu. Di sisi lain, suasana tidak aman akibat invasi militer AS ke Irak menjadi landasan bagi munculnya kelompok teroris ini.

Kerusakan akibat serangan Daesh terhadap infrastruktur Irak dan penyelundupan minyak serta pencurian cadangan emas Irak oleh kelompok ini diperkirakan lebih dari 300 miliar. Di bidang pertanian saja, Daesh menghancurkan 40 persen pertanian Irak.

Menurut statistik ini, sangat jelas bahwa AS melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam agresi militernya terhadap Irak, dan statistik itu sendiri berbicara banyak hal yang tidak bisa ditutupi, bahkan oleh John Kerry, yang mengenyam pendidikan hukum, tapi berusaha menutupinya.(PH)