Mengapa Israel Menunda Serangan Darat ke Gaza ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i155414-mengapa_israel_menunda_serangan_darat_ke_gaza
Rezim Zionis seharusnya sudah memulai serangan darat ke Jalur Gaza sejak hari Minggu, namun keputusan ini ditunda.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 17, 2023 09:05 Asia/Jakarta

Rezim Zionis seharusnya sudah memulai serangan darat ke Jalur Gaza sejak hari Minggu, namun keputusan ini ditunda.

Jumat lalu, pada hari ketujuh perang Gaza, rezim Zionis mengumumkan bahwa mereka memberikan waktu 24 jam kepada penduduk Gaza utara untuk meninggalkan daerah tersebut, dan setelah itu akan memulai serangan darat pada hari Minggu.

 

Surat kabar New York Times mengutip tiga pejabat senior Israel hari Senin mengumumkan bahwa operasi darat rezim Zionis terhadap Jalur Gaza telah ditunda. Dengan demikian, rencana serangan darat ini tidak dikesampingkan melainkan ditunda.

Intensitas serangan rudal yang dilancarkan rezim Zionis dalam 9 hari terakhir sangat ganas, sehingga selama 9 hari tersebut hampir 3 ribu warga Palestina gugur, dan lebih dari 10 ribu orang luka-luka. Oleh karena itu, alasan penundaannya, bukan karena perang darat yang akan memakan ribuan korban jiwa, melainkan karena masalah lain.

The New York Times menyatakan bahwa alasan penundaan perang darat adalah kondisi cuaca yang tidak mendukung di wilayah tersebut.

Surat kabar ini mengutip statemen otoritas Zionis menulis bahwa kondisi cuaca tidak mendukung bagi serangan drone dan pilot pesawat yang seharusnya mendukung pasukan darat. Namun, ini bukanlah alasan utama penundaan serangan darat.

Salah satu alasan utama kehadiran sejumlah besar warga negara asing di Gaza, karena Amerika berusaha mengeluarkan orang-orang tersebut dari Gaza dengan membuka kembali penyeberangan Rafah.

 

 

Alasan penting lainnya adalah dampak perang darat terhadap rezim Zionis. Awal dari perang darat adalah sebuah erosi perang, dimana rezim Zionis belum siap menghadapinya saat ini. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa skenario dan keputusan terburuk yang dapat diambil oleh rezim Zionis adalah memasuki Gaza melalui jalur darat dan terlibat dalam perang selama beberapa bulan dengan banyak korban jiwa, yang tentunya di luar kemampuan geografis, teritorial dan strategis militer Israel. Selain itu, wilayah Gaza memiliki risiko serta tantangannya sendiri yang sangat besar bagi pasukan rezim Zionis.

Selain itu, Hamas telah membuat terowongan dan penyergapan di seluruh Gaza dan telah mengubah bawah tanah Gaza menjadi garnisun yang besar dan lengkap sehingga tidak memungkinkan bagi rezim Zionis untuk merebutnya selama beberapa hari atau beberapa pekan.

Lebih dari itu, jika rezim Zionis memasuki Jalur Gaza melalui jalur darat dan mencoba menduduki Gaza lagi, maka front perang baru akan terbentuk, termasuk di Tepi Barat.

 

 

Mengingat peran generasi muda yang membentuk kelompok perlawanan baru di Tepi Barat, ada kemungkinan untuk melakukan operasi perlawanan dan memasuki wilayah pendudukan serta menimbulkan dampak baru yang tragis bagi rezim Zionis.

Dalam perang 51 hari tahun 2014 dan juga perang 22 hari tahun 2008, tentara Israel mencoba memasuki Gaza melalui darat dan laut, namun mereka terjebak dalam perangkap dan terowongan yang mengandung bahan peledak dan banyak tentara Israel terbunuh.

Selama beberapa tahun terakhir, pasukan perlawanan Palestina menunjukkan bahwa mereka tumbuh dan meningkat di bidang perancangan operasi, persenjataan dan peralatan serta taktik militer. Semua faktor ini dianggap sebagai ancaman serius terhadap Tel Aviv. Perang darat dapat menjadi sebuah rawa besar bagi rezim Zionis dan merupakan kekalahan yang bahkan lebih besar daripada hari pertama Badai Al-Aqsa.(PH)