Trauma Perang Gaza: Data Psikologis Tentara Israel Bocor
-
Tentara Israel
Pars Today - Surat kabar Haaretz dalam sebuah investigasi terbaru melaporkan bahwa angkatan bersenjata rezim Zionis, meski menghadapi lonjakan tanpa preseden dalam masalah psikologis di kalangan pasukannya, menahan diri dari mempublikasikan data sebenarnya dan hanya merilis sebagian informasi setelah mendapat tekanan pengadilan.
Dilansir IRNA hari Kamis, 7 Mei 2026, Haaretz mengungkap upaya terstruktur militer rezim Zionis untuk menyembunyikan dimensi sebenarnya dari krisis kesehatan mental di antara pasukannya. Krisis ini, menurut sumber militer Israel, muncul dalam skala belum pernah terjadi sebelumnya selama perang Gaza dan kini telah berubah menjadi masalah serius bagi struktur militer.
Berdasarkan laporan tersebut, militer telah berbulan-bulan menolak memberikan statistik akurat mengenai jumlah prajurit yang diberhentikan dari dinas akibat masalah psikologis. Bahkan, permintaan resmi berdasarkan Freedom of Information Act (Undang-Undang Kebebasan Informasi) pun tidak direspons. Padahal, tenggat waktu hukum untuk merespons telah lama berlalu. Militer hanya merilis data yang tidak lengkap dan secara bertahap setelah mendapat tekanan yudisial.
Haaretz mengutip mantan perwira di divisi sumber daya manusia dan unit juru bicara militer yang menyatakan bahwa dalam struktur lembaga militer ini, terlihat kecenderungan jelas untuk mencegah publikasi informasi apa pun terkait topik tersebut, informasi yang jika terungkap dapat sangat merusak citra militer di mata publik Israel.
Seorang perwira cadangan juga mengungkapkan bahwa para ahli di militer ditugaskan untuk "menulis ulang dan memanipulasi statistik" agar volume sebenarnya dari tekanan psikologis yang dialami pasukan tetap tersembunyi.
Meski upaya penyembunyian ini, militer Israel akhirnya diwajibkan oleh putusan pengadilan untuk merilis sebagian data tahun pertama perang. Data tersebut menunjukkan bahwa 7.241 prajurit dan perwira telah diberhentikan dari dinas akibat masalah psikologis, dan ribuan lainnya telah dipindahkan dari unit tempur. Angka bunuh diri di kalangan pasukan juga dilaporkan meningkat dua kali lipat, statistik yang hingga akhir 2024 tetap dirahasiakan.
Sumber medis militer rezim Zionis menilai situasi ini sebagai dampak langsung dari guncangan akibat operasi berat di Gaza pasca-7 Oktober. Sejumlah prajurit juga mengakui bahwa mereka tidak mampu kembali ke medan tempur, memaksa militer memperluas unit dukungan psikologis dan mendirikan pusat perawatan khusus. Namun, militer berupaya hanya menyoroti "kesuksesan pengobatan" di media, bukan "dimensi krisis".
Haaretz juga menyinggung publikasi gambar baru yang menunjukkan kerusakan luas di kalangan pasukan Israel, seraya menulis bahwa kondisi pasukan di wilayah Gaza "sangat berat dan melelahkan". Namun, juru bicara militer hanya berkomentar bahwa "permintaan sedang dikaji" dan mengklaim militer berkomitmen pada transparansi, klaim yang menurut surat kabar ini bertentangan total dengan realitas lapangan dan hukum.
Sementara itu, rezim Zionis terus memperuncing ketegangan dengan pelanggaran berulang gencatan senjata dan kelanjutan serangan di Jalur Gaza. Mereka juga menghambat pelaksanaan fase berikutnya dan berniat melanjutkan kembali perang di Gaza.(Sail)