Operasi Pembebasan Mosul, Poros Perundingan Baghdad-Erbil
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i25111-operasi_pembebasan_mosul_poros_perundingan_baghdad_erbil
Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi bertemu dan bertukar pandangan dengan Pemimpin Wilayah Kurdistan Irak Masoud Barzani tentang perkembangan penting di negara Arab ini.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Nov 06, 2016 20:00 Asia/Jakarta
  • Operasi Pembebasan Mosul, Poros Perundingan Baghdad-Erbil

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi bertemu dan bertukar pandangan dengan Pemimpin Wilayah Kurdistan Irak Masoud Barzani tentang perkembangan penting di negara Arab ini.

Al-Abadi yang memimpin sebuah delegasi militer berkunjung ke Erbil, pusat wilayah Kurdistan Irak pada Sabtu (5/11/2016) malam untuk bertemu dengan para pejabat wilayah ini guna membicarakan isu-isu penting seperti operasi pembebasan kota Mosul dari pendudukan kelompok teoris Daesh (ISIS).

 

Lawatan ke Kurdistan Irak dilakukan PM Irak setelah mengunjungi medan-medan tempur di Mosul untuk membebaskan kota strategis ini dari pendudukan Daesh.

 

Fuad Hussein, Kepala Kantor Pemimpin Wilayah Kurdistan Irak dalam sebuah pernyataan, menyinggung partisipasi pasukan Peshmerga untuk membebaskan kota Mosul. Ia menegaskan, berdasarkan kesepakatan antara pemerintah Baghdad dan Erbil, pasukan Peshmerga tidak akan masuk ke kota Mosul.

 

Menarik bahwa Pemimpin Wilayah Kurdistan Irak beberapa waktu lalu meyakinkan PM negara ini bahwa ia tidak sedang mengejar untuk memperluas wilayah dalam perang dengan Daesh.

 

Barzani menjelaskan, sebelum dimulainya tahap akhir operasi pembebasan kota Mosul dari pendudukan Daesh, kesepakatan politik tentang pengelolaan kota Mosul pasca pengusiran kelompok teroris ini adalah penting agar tidak muncul krisis dan konflik.

 

Sikap Barzani sebelumnya memperkuat kekhawatiran atas kehadiran pasukan Peshmerga di Mosul dan intervensi mereka, namun ia kemudiaan meyakinkan al-Abadi terkait urusan Mosul dan kehadiran aktif pasukan Peshmerga dalam operasi pembebasan kota ini. Hal ini menunjukan bahwa maslahat Irak diutamakan ketimbang kepentingan kelompok.

 

Baghdad dan Erbil menghadapi musuh bersama dan untuk mengatasi ancaman bersama, maka perbaikan hubungan antarkedua belah pihak adalah sangat penting. Posisi baru ini menunjukan terbukanya babak baru dalam hubungan Baghdad-Erbil.

 

Adanya musuh bersama menjadi lingkaran penghubung antara pejabat-pejabat Baghdad dan Kurdistan. Pendekatan pandangan antarkedua belah pihak terutama dalam isu keamanan sangat penting bagi Irak dan berpengaruh pada penguatan kesepakatan nasional di negara ini, di mana ini adalah sebuah kesepakatan penting di Irak.

 

PM Irak menjelaskan bahwa pertemuannya dengan para pejabat Kurdistan untuk melakukan koordinasi dan kerjasama dengan mereka di sektor penanganan program bersama untuk membebaskan kota Mosul dari pendudukan Daesh.

 

Kehadiran para pejabat militer Irak bersama al-Abadi dalam kunjungan ke Erbil menunjukkan bahwa poros penekanan PM Irak dalam perundingan ini adalah memperkuat posisi milter-keamanan dalam menghadapi musuh bersama.

 

Meskipun tidak dipungkiri bahwa antara Baghdad dan Erbil terdapat perselisihan dalam isu-isu terkait dengan wilayah Kurdistan dan persoalan minyak, namun kondisi Irak yang dipengaruhi oleh kehadiran teroris Daesh menyebabkan para pejabat Baghdad dan Erbil mengesampingkan konflik tersebut dan mengedepankan kepentingan nasional.

 

Saat ini prioritas utama para pejabat Baghdad dan Erbil adalah mengusir Daesh dari berbagai wilayah Irak termasuk di utara negara ini. Pembebasan Tikrit –yang merupakan hasil kerjasama militer dan pasukan relawan dan suku – merupakan pengalaman bagik di sektor kerjasama militer bagi Kurdistan dan pemerintah pusat Irak.

 

Para pejabat Baghdad dan Erbil mengambil pelajaran berharga tersebut dan mereka ingin mengulang kembali kerjasamanya serta ingin menunjukkan bahwa Irak adalah milik semua warga negara ini. Kerjasama ini menunjukkan bahwa untuk membela negara, mereka harus mengesampingkan perbedaan etnis, agama dan suku.

 

Yang pasti, Irak saat ini memerlukan persatuan dan kerjasama semua rakyat dari berbagai lapisan masyarkaat, militer, pasukan relawan dan suku serta Peshmerga. Semua pejabat berpengaruh di arena politik memahami bahwa perkembangan ini bisa memberi tanda tentang peristiwa-peristiwa penting di arena politik Irak di masa mendatang. (RA)