Pentingnya Keseriusan Dunia untuk Memberantas Terorisme
Serangan bom mobil baru-baru ini di kota al-Hilla Irak yang menewaskan dan melukai ratusan peziarah Arbain Huseini (ra) menuai reaksi luas dari negara-negara dunia.
Insiden ini menegaskan kembali pentingnya negara-negara dunia untuk memberantas terorisme, di mana pemberantasan ini harus dilakukan dengan serius dan nyata dan tidak hanya sekedar klaim dan ucapan.
Ledakan bom mobil di distrik al-Shomali di kota al-Hilla, pusat Provinsi Babul Irak pada 24 November 2016 telah merenggut nyawa lebih dari 100 orang dan melukai puluhan lainnya. Kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan keji tersebut. Beberapa negara dunia termasuk Republik Islam Iran mengecam serangan ini dan menekankan pentingnya pemberantasan teroris Daesh dan kelompok-kelompok afiliasinya.
Jika transformasi selama setahun lalu diulas kembali, maka jelas bahwa terorisme bukan lagi ancaman khusus bagi kawasan Timur Tengah, namun fenomena buruk ini adalah ancaman bagi semua negara, sebab terorisme tidak mengenal batasan wilayah, dan jika tidak dicegah, maka akan menyebar ke wilayah lainnya.
Serangan teroris di Perancis, ancaman terorisme di negara-negara Eropa, jatuhnya pesawat penumpang Rusia di Mesir, jatuhnya pesawat Mesir di Mediterania dan serangan teror di kota Orlando Amerika merupakan contoh penting penyebaran terorisme di dunia. Dengan kata lain, kelompok-kelompok teroris selama setahun terakhir ini telah merealisasikan ancamannya di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Sangat disesalkan bahwa meskipun ancaman global terorisme telah menjadi nyata, namun hingga sekarang pemberantasan global terhadap terorisme belum berubah menjadi agenda praktis dunia, bahkan negara-negara Barat hanya mencukupkan dengan mengumumkan pentingnya pemberantasan terorisme tanpa melangkah ke tahap praktek.
Ketika kekuatan-kekuatan Barat hanya sebatas ucapan untuk memberantas terorisme, namun Republik Islam Iran, Rusia, Irak dan Suriah telah memasukkan pemberantasan serius terorisme ke dalam agendanya dalam berapa tahun ini, bahkan upaya ini telah menghabiskan biaya besar.
Kekuatan-kekuatan Barat juga mengadopsi kebijakan standar ganda dan membagi teroris menjadi baik dan buruk. Mereka memberikan dukungan politik, finansial, senjata dan media kepada kelompok-kelompok teroris yang dianggap baik.
Kekuatan-kekuatan Barat memiliki keinginan serius untuk memberantas terorisme hanya ketika ancaman teroris di negara-negara Eropa dan Amerika meningkat, namun ketika ancaman tersebut menurun, maka menjadi jelas bahwa mereka tidak memiliki keinginan serius untuk melakukannya. Kekuatan-kekuatan itu juga mengadopsi kebijakanstandar ganda atas isu terorisme dan menyalahgunakannya.
Kekuatan-kekuatan Barat lupa bahwa serangan bom seperti yang terjadi di kota al-Hilla Irak bisa juga terjadi di Eropa dan Amerika. Sebelum penyelenggaraan pemilu presiden Amerika Serikat, kelompok-kelompok teroris telah mengancam akan melancarkan serangan bom di negara ini. Ancaman tersbut sempat menimbulkan ketakutan masyarakat dan kekhawatiran para pejabat.
Sekarang, kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh di Irak dan Suriah dalam kondisi putus asa setelah pemerintah kedua negara Arab tersebut serius untuk memberantas terorisme. Dukungan udara Rusia dan penasihat militer Iran kepada pasukan Suriah untuk memberantas terorisme juga semakin membuat kelompok-kelompok teroris di negara ini semakin lemah.
Yang pasti, perubahan strategi negara-negara Barat dalam menyikapi kelompok-kelompok teroris akan mempercepat proses pelemahan kelompok-kelompok ini, bahkan seandainya mereka tidak berpartisipasi dalam pemberantasan terorisme, namun mereka bersedia untuk menghentikan dukungan senjata kepada kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah dan tidak menciptakan hambatan dalam proses pemberantasannya dengan alasan kemanusiaan, maka penghapusan kelompok-kelompok berbahaya itu sebenarnya akan mungkin dilakukan dengan cepat. (RA)