Suriah Tak Percaya Turki
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i29707-suriah_tak_percaya_turki
Ali Abdul Karim Ali, duta besar Suriah di Lebanon mengatakan, Suriah tidak percaya kepada pemimpin Turki saat ini, karena Ankara menjadi pilar utama pendukung finansial dan ideologi terorisme yang saat ini muncul di kawasan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 01, 2017 06:24 Asia/Jakarta
  • Suriah Tak Percaya Turki

Ali Abdul Karim Ali, duta besar Suriah di Lebanon mengatakan, Suriah tidak percaya kepada pemimpin Turki saat ini, karena Ankara menjadi pilar utama pendukung finansial dan ideologi terorisme yang saat ini muncul di kawasan.

Krisis Suriah menjadi tolok ukur untuk mengenal negara-negara kawasan khususnya kekuatan regional terkait kebijakan dan keamanan Timur Tengah dan juga dampak luas kekerasan serta instabilitas bagi keamanan kekuatan tersebut. Setelah sekitar enam tahun krisis Suriah, dapat dicapai analisa lebih detail mengenai kebijakan kekuatan di kawasan termasuk Turki.

 

Turki sebelum aksi protes anti pemerintah di dunia Arab tahun 2011, melalui strategi "tensi nol dengan tetangga" mampu meraih posisi di kawasan Timur Tengah serta memulihkan hubungannya dengan negara-negara tetangga khususnya dengan Suriah. Sebelum tahun 2011 ada tensi kecil di hubungan Turki dengan negara tetangga termasuk Suriah.

 

Pemerintahan Recep Tayyip Erdogan ternyata tak berbeda dengan negara lain di kawasan, tidak memiliki pandangan yang benar atas aksi protes warga anti pemerintah di tahun 2011 di dunia Arab khususnya transformasi Suriah. Turki bersama Arab Saudi dan kekuatan Barat termasuk Amerika Serikat, Perancis dan Inggris memilih kebijakan menggulingkan pemerintahan legal Bashar al-Assad di Suriah.

 

Pemerintah Turki berulang kali menjadi tuan rumah perundingan kubu anti Suriah. Bagaimana pun juga Turki memilih membuka perbatasannya bagi teroris dan pengiriman senjata serta anasir teroris ke Suriah. Hasil dari kebijakan Turki dalam menyikapi krisis Suriah bukan saja gagal menggulingkan Bashar al-Assad, namun malah menggoyang sistem keamanan Turki dan meningkatkan serangan teror di negara ini. Selain itu, kebijakan ini juga menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian Turki termasuk kondisi pariwisata di negara ini.

 

Dalam hal ini, kudeta Juli 2016 di Turki sedikit banyak membuka mata para pemimpin negara ini untuk mengenal musuh dan sahabat. Berbeda dengan kekuatan Barat dan sejumlah negara Arab, Rusia serta Republik Islam Iran sejak awal mengutuk kudeta di Turki. Sikap tegas dan transparan Republik Islam serta Rusia mengutuk kudeta gagal di Turki mendorong permainan pemerintah Erdogan di krisis Suriah dan penentangan terhadap Bashar al-Assad menjadi seimbang.

 

Meski Turki masih menentang pemerintah Suriah, namun penentangan tersebut menurun. Kinerja baru Turki bahkan disinyalir di statemen pejabat Suriah. Ali Abdul Karim Ali, dubes Suriah di Lebanon secara tersirat membenarkan penentangan Turki terhadap pemerintah Damaskus menurun juga yakin bahwa Turki dewasa ini terpaksa condong atas solusi perundingan terkait isu Suriah. Hal ini juga didorong oleh kegagalan ambisi Barat khususnya Amerika dan tumbangnya kelompok teroris.

 

Hal lain adalah meski ada perubahan relatif di kinerja Turki terkait krisis Suriah, pemerintah Ankara masih menggulirkan isu yang mendorong ketidakpercayaan Damaskus terhadap Turki. Di antara isu tersebut adalah prakarsa penarikan Hizbullah Lebanon dari Suriah yang digulirkan oleh pemerintah Erdogan.

 

Menteri Luar Negeri Suriah, Walid Muallem terkait kehadiran pasukan Hizbulllah Lebanon di Suriah mengatakan, Hizbullah berbeda dengan kelompok bersenjata yang memasuki wilayah Suriah dari Turki, namun kelompok muqawama ini berada di Suriah atas permintaan resmi dari pemerintah Damaskus. (MF)