Kesaksian Musuh Pada Keagungan Posisi Imam Shadiq as
-
Imam Shadiq as
Manshur Dawaniqi; khalifah kedua Abbasiah merupakan pemimpin zalim dan pembunuh dalam sejarah. Di zaman kekuasaannya, dia banyak melakukan kezaliman khususnya pada Imam Shadiq as dan membunuh banyak orang karena kecintaan mereka pada Ahlul Bait Rasulullah Saw.
Tapi pada saat yang sama ketika Imam Shadiq as mencapai syahadah pada usia enam puluh lima tahun, yakni pada tahun 138 HQ di Madinah, Muhammad bin Sulaiman gubernur Madinah mengirim surat kepada Manshur Dawaniqi yang berada di Bagdad untuk mengabarkan kematian Imam Shadiq as.
Abu Ayyub Khauzi sekretaris khusus Manshur mengatakan, “Saat itu pertengahan malam, keheningan menyelimuti semua tempat. Manshur memanggilku. Aku menemuinya. Dia sedang duduk di atas kursi dan lilin sedang menyala di sisinya. Sebuah surat ada di tangannya. Dia membaca dan menangis tersedu-sedu. Aku mengucapkan salam kepadanya. Dia melemparkan surat itu ke arahku seraya berkata, “Ini adalah surat gubernur Madinah; Muhammad bin Sulaiman. Di dalamnya tertulis bahwa Ja’far bin Muhammad [Imam Shadiq as] telah meninggal dunia. Sesungguhnya, apakah bisa ditemukan orang seperti Ja’far bin Muhammad?!”
Iya. betapa banyak orang yang melakukan penghormatan di hadapan keagungan posisi Imam Shadiq as dan mengakuinya, tapi yang lebih penting adalah bila musuh bebuyutan yang mengakuinya. Sebagaimana dalam pepatah Arab disebutkan, “Keutamaan adalah bila musuh mengakuinya.”
Menyempurnakan Hujjah
Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq as, “Untuk apa Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya agar membimbing masyarakat?”
Imam Shadiq as berkata, “Supaya tidak ada lagi alasan bagi masyarakat setelah dikirimnya para utusan ini. Supaya masyarakat tidak mengatakan bahwa tidak ada pembawa berita gembira [tentang kebaikan dan surga] dan pembawa berita menakutkan [tentang keburukan dan azab ilahi] yang datang kepada kami dan satu lagi adalah agar hujjah Allah selesai bagi umat manusia.”
Kemudian beliau berkata, “Apakah engkau tidak mendengar bahwa Allah dalam al-Quran berfirman, “Para penjaga neraka bertanya kepada para penghuni neraka, “Tidakkah datang kepada kalian pembawa berita menakutkan? Mereka menjawab, “Iya, telah datang pembawa berita menakutkan kepada kami, tapi kami telah mendustakannya dan kepada para utusan itu kami mengatakan, “Tuhan tidak mengirim sesuatu, dan kalian berada dalam kesesatan yang besar.”
Dengan demikian, Allah telah menyempurnakan hujjah-Nya kepada masyarakat dan tidak ada alasan sama sekali bagi mereka pada Hari Kiamat.
Makna “Oh”
Salah seorang budak Imam Shadiq as yang sudah dibebaskan telah menderita sakit. Setelah mendengar kabar bahwa dia sakit, Imam Shadiq as bersama salah satu sahabatnya menjenguknya. Imam duduk di samping tempat tidurnya dan menanyakan kondisinya. Karena saking sakitnya, budak itu berkali-kali mengucapkan, “Oh...Oh...”
Pendamping Imam berkata kepada sang budak. “Saudaraku, ingatlah Allah dan berlindunglah kepada-Nya.”
Pada saat itu Imam Shadiq as berkata, “Ketahuilah bahwa kata “Oh” adalah salah satu nama Allah. Dengan demikian, orang yang mengucapkan “Oh” berarti telah berlindung kepada kepada Allah.”
Jerih Payah Untuk Mencari Rezeki
Abu Umar Syaibani mengatakan, “Saya melihat Imam Shadiq as sedang memakai pakaian yang kasar dan bekerja dengan cangkul dan keringatnya bercucuran.”
Saya berkata, “Jiwaku sebagai tebusanmu. Berikanlah cangkul itu padaku. Biarkan saya yang mengerjakan sebagai pengganti Anda.”
Imam Shadiq as menjawab, “Aku suka bertahan menghadapi panasnya matahari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sebab Penamaan Qom
Almarhum Shaduq dalam buku ‘Ilal as-Syarayi’ menukil dari Isa bin Abdullah Asy’ari bahwa Imam Shadiq as menukil ucapan dari Rasulullah Saw:
“Ketika malam Mi’raj, Allah membawaku ke langit. Jibril menaikkan aku di atas bahunya yang sebelah kanan. Pandanganku tertuju pada sebagian bumi yang berwarna merah. Sedemikian terangnya warna itu sehingga lebih merah dari warna safran dan baunya lebih harum dari bau misk.
Di tempat itu ada seorang tua duduk dan memakai topi yang tinggi. Aku berkata kepada Jibril, “Tempat merah itu apa? Warnanya lebih merah dari safran dan baunya lebih harum dari bau misk?
Jibril menjawab, “Tempat itu adalah tempat tinggal para pengikutmu dan pengikut penggantimu; Ali as.”
Aku berkata, “Siapakah orang tua dengan topinya yang tinggi itu?
Jibril berkata, “Itu adalah Iblis [bapaknya para setan].”
Aku berkata, “Apa yang dia inginkan di sana?”
Jibril berkata, “Dia ingin menghalangi masyarakat di sana dari wilayah Amirul Mukminin as dan menyeret mereka pada keburukan dan penyimpangan.”
Aku berkata, “Hai Jibril! Bawalah aku ke tempat itu.”
Jibril membawaku ke tempat itu dan sampai di sana secepat kilat. Aku berkata pada orang tua itu:
“قُمْ یَا مَلْعُوْن”
“Bangkit dan pergilah dari sini, hai yang terlaknat!”
Pergilah ke tengah-tengah para musuh masyarakat negeri ini dan bergabunglah dengan harta, anak-anak dan istri-sitri mereka!
Karena pengikutku dan pengikut Ali sedemikian rupa sehingga engkau tidak bisa menguasai dan menggodanya.
Karena Rasulullah Saw bersabda, “Qum ya mal’un” maka daerah ini dinamakan Qom. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as