Partner Pembunuh
-
Imam Shadiq as
Muhammad bin Arqath mengatakan, “Aku menemui Imam Shadiq as dan beliau berkata, “Engkau sering pergi ke Kufah?”
Aku berkata, “Iya.”
Imam Shadiq as bertanya, “Apakah di Kufah engkau melihat para pembunuhnya Imam Husein as?”
Aku berkata, “Tidak satupun dari mereka yang tersisa, semuanya sudah mati.”
Imam Shadiq as berkata, “Menurutmu, apakah pembunuh adalah orang yang membunuh seseorang atau sebagai penyebab terbunuhnya seseorang? Apakah engkau tidak mendengar firman Allah dalam al-Quran yang ditujukan kepada Rasulullah Saw; ‘Katakan kepada orang-orang Yahudi, para nabi sebelum aku telah menyampaikan dalil-dalil yang jelas kepada kalian, lalu mengapa kalian bunuh mereka, bila kalian benar?”
Padahal orang-orang Yahudi di masa kita tidak ada yang membunuh seorang nabi pun. Karena sejak masa Nabi Isa as sampai Nabi Muhammad Saw tidak ada seorang nabi. Dan bila al-Quran dalam ayat tersebut mengenal orang-orang Yahudi di zamannya Rasulullah Saw sebagai pembunuh, alasannya karena mereka rela dengan cara kakek moyang mereka. Untuk itu, orang-orang yang ada di Kufah yang rela dengan cara kakek moyang mereka atas pembunuhan Imam Husein as terhitung sebagai pembunuh.
Dengan demikian kita menyimpulkan bahwa rela atas dosa orang lain, menjadikan seseorang terhitung sebagai partnernya dan salah satu derajat nahi munkar adalah seseorang jangan sampai rela atas dosa orang lain.
Dalam riwayat lainnya Imam Shadiq as secara terang-terangan mengatakan, “Bila seseorang di bagian Timur bumi dibunuh, dan seseorang yang berada di bagian Barat bumi mendengarnya dan rela atas pembunuhan itu, maka ia terhitung sebagai partner pembunuh.”
Hak Seorang Mukmin Atas Saudara Mukmin Lainnya
Kami bersama sejumlah orang bertemu dengan Imam Shadiq as. Pada saat itu Imam Shadiq as bersin. Kami saling berbisik, apakah kita harus mendoakannya, yakni semoga Allah merahmati Anda?”
Imam Shadiq as menghadap kepada kami dan berkata, “Apakah kalian tidak mau mendoakan?” Ketahuilah bahwa Ada empat hak seorang mukmin atas saudara mukmin lainnya;
1. Ketika dia bersin, maka hendaknya didoakan.
2. Ketika di mengundang, maka hendaknya dipenuhi undangannya.
3. Ketika dia sakit, maka hendaknya disambangi.
4. Ketika dia meninggal dunia, maka hendaknya diiringi penguburan jenazahnya.
Pesan Untuk Para Penjual Barang
Imam Shadiq as berkata, “Pada masa Rasulullah Saw, ada seorang wanita penjual minyak wangi bernama Zainab. Tentunya karena membawa minyak wangi, dia sendiri berbau wangi. Suatu hari dia datang menemui para istri Nabi Muhammad Saw. Sesaat kemudian, Rasulullah Saw datang ke rumahnya dan bau harum sampai ke penciumannya.
Beliau tahu bahwa Zainab ada di situ. Kepadanya beliau berkata, “Ketika engkau datang ke rumah kami, engkau membuat rumah kami menjadi harum.”
Zainab menjawab, “Rumah Anda lebih bersih dan dan lebih harum karena keberadaan Anda.”
Kemudian Rasulullah Saw menyampaikan pesan ini kepadanya seraya berkata, “Ketika engkau menjual minyak wangi, juallah dengan baik dan jangan menipu seseorang dalam menjual. Bila engkau melakukannya, maka untuk kesucian dan ketakwaan di sisi Allah serta untuk ketetapan dan kelanggengan kekayaanmu, itu lebih baik.”
Upaya Tidak Mengingkari Nikmat
Imam Shadiq as berkata, “Ketika makan, aku menjilati jari-jariku, tapi aku khawatir pembantuku melihatnya dan mengatakan bahwa aku pelit, tapi alasannya lain lagi dan itu adalah pada zaman dahulu, ada sebuah kaum yang diberi banyak nikmat oleh Allah. Tanah-tanahnya penuh dengan sumber mata air dan semuanya segar dan subur. Mereka membuat roti sendiri dari gandum. Tapi karena saking banyaknya nikmat, mereka membersihkan tempat buang air besar anak-anaknya dengan roti. Sampai roti-roti itu menggunung.
Suatu hari seorang lelaki yang baik lewat di sisi seorang perempuan. Perempuan itu sedang melakukan pekerjaan sebagaimana tersebut di atas. Kepada wanita itu lelaki ini berkata, “Hai wanita, celakalah engkau. Takutlah kepada Allah. Engkau telah mengganti nikmat ilahi dengan paceklik dan kelaparan.”
Dengan segala kesombongannya, wanita itu menjawab, “Lihatlah, orang ini mengancam kita dengan kelaparan. Selama ada ladang yang luas dan sungai-sungai yang mengalir, kami tidak takut akan kelaparan.”
Tidak lama kemudian, Allah murka terhadap mereka dan selama beberapa waktu tidak menurunkan hujan untuk mereka. Paceklik telah melanda mereka sampai pada batas dimana mereka membutuhkan roti-roti yang dipakainya untuk membersihkan tempat buang air besar anak-anak mereka. Yang menarik adalah mereka berbaris antri untuk mendapatkan roti-roti tersebut dalam ukuran tertentu.
Berprasangka Baik Kepada Allah
Imam Shadiq as menukil ucapan Rasulullah Saw, “Ketika seorang hamba pendosa mendengar firman Allah yang mengatakan bahwa dia akan dibawa ke neraka, tiba-tiba dia perhatian kepada Allah secara khusus.
Pada saat itu Allah memerintahkan, “Kembalikan dia, kembalikan dia dan kepadanya mengatakan, “Mengapa engkau perhatian pada-Ku?”
Hamba itu menjawab, “Ya Allah, bukan ini persangkaanku tentang diri-Mu.”
Allah berfirman, “Apa persangkaanmu?”
Hamba pendosa berkata, “Ya Allah! Persangkaanku adalah Engkau memaafkan dosa-dosaku dan Engkau menempatkan aku di surga.”
Allah berfirman kepada para malaikat, “Tidak. Demi kekuasan, kebesaran dan keagungan-Ku! Bila hamba-Ku sesaat saja berprasangka baik pada-Ku, maka Aku tidak akan menakut-nakutinya dengan api neraka. Tidak! Sama sekali tidak! Padahal dia bohong dan mengatakan bahwa saya di dunia berprasangka baik pada rahmat Allah, anggaplah benar, dan masukkanlah dia ke surga.”
Kemudian Rasulullah Saw berkata, “Bila seorang hamba berprsangka baik pada Allah, maka ia akan mendapatkan hasilnya yang baik.”
Dan Imam Shadiq as berkata, “Allah ada pada prasangka hamba-Nya. Bila [prasangkanya] baik maka hasilnya baik. Bila [prasangkanya] buruk, maka hasilnya buruk.” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as