Senjata Kimia, Dalih AS Hancurkan Negara-negara Penentangnya
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i36020-senjata_kimia_dalih_as_hancurkan_negara_negara_penentangnya
Bashar al-Assad, Presiden Suriah dalam wawancara dengan AFP, Kamis, 13 April 2017 menegaskan bahwa serangan kimia mencurigakan di wilayah Khan Shaykhun, Selatan Idlib, Suriah pada 4 April 2017 adalah dibuat-buat.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 14, 2017 16:45 Asia/Jakarta
  • Senjata Kimia, Dalih AS Hancurkan Negara-negara Penentangnya

Bashar al-Assad, Presiden Suriah dalam wawancara dengan AFP, Kamis, 13 April 2017 menegaskan bahwa serangan kimia mencurigakan di wilayah Khan Shaykhun, Selatan Idlib, Suriah pada 4 April 2017 adalah dibuat-buat.

Hanya tiga hari pasca serangan kimia mencurigakan di Khan Shaykhun, yaitu pada tanggal 7 April 2017, AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perang USS Porter dan USS Ross yang bersiaga di Laut Mediterania ke pangkalan udara al-Shayrat di timur Homs, Suriah.

 

AS melancarkan serangan tersebut setelah negara itu menuding Suriah melakukan serangan kimia di Khan Shaykhun. Tuduhan tersebut ini telah berulang kali dibantah oleh para pejabat Suriah dan bahkan negara-negara seperti Rusia dan Republik Islam Iran.

 

Presiden Suriah dalam wawancara dengan AFP juga menyebut serangan kimia di Khan Shaykhun sebagai 100 persen buatan untuk membenarkan serangan rudal AS ke pangkalan udara Suriah di Homs.

 

Setelah berlalunya sepekan dari serangan rudal AS ke Suriah, muncul pertanyaan penting bahwa mengapa penggunaan senjata kimia menjadi dalih utama untuk menyerang Suriah?

 

Pertanyaan tersebut penting mengingat dalam krisis Suriah dan krisis-krisis lainnya di kawasan Timur Tengah, serangan kimia dijadikan dalih terpenting untuk mengambil langkah internasional atau perang terhadap negara-negara yang menggunakan atau dituduh menggunakan senjata pemusnah massal itu.

 

30 tahun lalu, yaitu tahun 1988, rezim Saddam Irak menggunakan senjata kimia untuk membantai warganya sendiri di Halabja, namun Barat pendukung Saddam alih-alih mengecam kejahatan rezim Baath tersebut, namun justru menuding Iran telah menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga Irak.

 

Ibrahim al-Jaafari, Menteri Luar Negeri Irak pada 12 April 2017 mengatakan, beberapa hari lalu salah satu Menlu dari negara Eropa bertanya tentang pendapatku mengenai penggunaan senjata kimia oleh Suriah dan saya pun menjawabnya, "Anda perlu waktu 15 tahun untuk menemukan bahwa kejahatan di Halabja dilakukan oleh Saddam, dan pemerintah Iran bukan pelakunya."

 

Pemerintah AS pada tahun 2014 juga menciptakan kampanye besar anti-Suriah dan menuding pemerintah Damaskus telah menggunakan senjata kimia, bahkan AS telah mempersiapkan serangan militer ke Suriah, namun dengan berlalunya sekitar tiga tahun dari tudingan tersebut, ternyata tidak ditemukan bukti bahwa pemerintah Damaskus menggunakan senjata terlarang itu.

 

Selain menuding Suriah menggunakan senjata kimia, pemerintah AS juga menuduh Rusia terlibat dalam kejahatan tersebut. Tudingan-tudingan ini dianggap tidak berdasar oleh banyak kalangan, pasalnya pemerintah Suriah pada tahun 2014 telah memindahkan senjata kimianya keluar negeri melalui  Organisasi Pelarangan Senjata Kimia PBB (OPCW) dan sudah tidak ada lagi senjata kimia di negara ini.

 

Selain itu, jika Suriah menggunakan senjata kimia untuk menumpas oposisi, itu sama halnya dengan bunuh diri. Sebab, masyarakat internasional akan mengecamnya dan AS dan sekutunya akan memiliki dalih untuk mengagresi Suriah dan menggulingkan pemerintahan Assad. Jika serangan seperti itu dilakukan Suriah, maka posisi pemerintah Damaskus akan makin terjepit.

 

Senjata kimia dijadikan dalih terbaik untuk menyerang atau mengambil langkah internasional terhadap sebuah negara disebabkan dampak buruk kemanusiaan yang ditimbulkan oleh senjata pemusnah massal ini.

 

Pada dasarnya, penggunaaan senjata kimia menciptakan pemandangan dan peristiwa memilukan, di mana masyarakat akan mudah terpengaruh jika melihat dampak dari serangan senjata terlarang ini. Oleh karena itu, AS menggunakan serangan kimia di Khan Shaykhun sebagai pembenaran atas serangan rudalnya ke pangkalan udara militer Suriah dengan harapan masyarakat internasional akan mendukung tindakannya itu.

 

Ivanka Trump, putri Donald Trump, Presiden AS mengklaim bahwa ayahnya ketika melihat anak-anak dan wanita korban serangan kimia di Khan Shaykhun langsung memutuskan untuk menyerang Suriah guna menunjukkan kemanusiaannya.

 

Faktanya, senjata kimia hanyalah dalih dan alat bagi pemeritah AS dan sekutunya untuk mencapai tujuan-tujuan politik di negara-negara penentang kebijakannya dan negara-negara yang menjadi target kepentingannya termasuk di Suriah. (RA)