Migrasi Terbalik, Mimpi Buruk Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i39236-migrasi_terbalik_mimpi_buruk_israel
Kementerian Penyerapan Migrasi rezim Zionis Israel mengaku khawatir atas eskalasi fenomena migrasi dari bumi Palestina pendudukan, khususnya di antara etnis Yahudi Rusia.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jun 10, 2017 14:41 Asia/Jakarta

Kementerian Penyerapan Migrasi rezim Zionis Israel mengaku khawatir atas eskalasi fenomena migrasi dari bumi Palestina pendudukan, khususnya di antara etnis Yahudi Rusia.

Departemen Penyerapan Migrasi Israel seraya mengumumkan data terbaru melaporkan, selama 14 tahun lalu sebanyak 290.300 warga Israel meninggalkan bumi Palestina pendudukan dan tidak kembali. Departemen ini juga menyatakan, selama 14 tahun lalu, 24 persen warga Yahudi yang meninggalkan rezim ini dan tidak kembali adalah imigran asal Rusia.

Larangan administrasi untuk lapangan kerja bagi Yahudi Rusia, pembatasan keras di bidang agama dan urusan pemerintahan khususnya pernikahan, ritual pemakaman serta krisis ekonomi mendorong Yahudi asal Rusia di Palestina pendudukan menghadapi diskriminasi baik di bidang publik maupun pemerintahan. Hal ini menjadi alasan utama mereka meninggalkan Palestina pendudukan dan tidak kembali.

Migrasi Yahudi ke Palestina pendudukan termasuk strategi utama dan mendasar rezim Zionis Israel. Rencananya dengan pembentukan wilayah Israel yang ideal dengan menduduki Palestina, imigran Yahudi tidak akan menghadapi kendala seperti pengangguran, instabilitas dan kemiskinan serta peluang investasi dan pendidikan unggul serta kesejahteraan mereka akan dipersiapkan tanpa ada diskriminasi.

Namun imigran Yahudi yang pergi ke Palestina pendudukan dan disebut-sebut sebagai surga yang dijanjikan, akhirnya menyadari sikap diskriminatif Zionis serta kondisi buruk politik, keamanan, sosial serta ekonomi marak di rezim ini. Sebuah rezim ilegal dan senantiasa menghadapi kendala sosial serius serta wilayah. Padahal dua hal ini menjadi unsur penting bagi pembentukan sebuah negara. Oleh karena itu, Israel dengan berbagai metode mendatangkan Yahudi dari berbagai wlayah dunia yang praktisnya tidak memiliki kesamaan ke Palestina pendudukan.

Dari sisi sosial, sebuah masyarakat yang dibentuk Israel melalui migrasi Yahudi ke bumi Palestina pendudukan tidak memiliki identitas, tercerai-berai dan kontradiksi. Dengan demikian secara praktis masyarakat seperti ini tidak akan langgeng. Secara global, kondisi masyakarat Israel seperti ini dan dibarengi dengan pandangan diskriminatif rezim ini terhadap imigran Yahudi termasuk isu yang memicu ketidakpuasan pemukim Zionis.

Israel sebuah maysarakat yang bertumpu pada strata sosial dan kelas. Dengan sendirinya hal ini mengindikasikan esensi Isreal sebuah rezim apartheid dan rasis. Ini tampak jelas di perilaku Israel terhadap warga Palestina di bumi pendudukan. Sikap rasis Israel bukan saja diterapkan terhadap bangsa Palestina secara luas, bahkan perilaku Tel Aviv terhadap imigran Yahudi juga sama dan senantiasa diwarnai aksi diskriminasi.

Pembagian Yahudi menjadi Yahudi Ashkenazi (keturunan Barat) yang termasuk kelas pertama dan Yahudi Sephardi (keturunan timur) yang dinilai sebagai masyarakat kelas dua merupakan cermin perilaku diskriminatif rezim Zionis. Perilaku rasis ini kian menguak esensi sejati masyarakat Israel yang diperlakukan secara tidak adil.

Istilah surga yang dijanjikan Israel kepada warga Yahudi ternyata berubah menjadi neraka jahanam dan mendorong migran Yahudi lari dari bumi Palestina pendudukan. Berlanjutnya proses ini telah menjadi mimpi buruk bagi petinggi Zionis terkait masa depan yang kelam rezim ilegal ini. (MF)