Maraknya Kunjungan Delegasi Arab ke Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i42764-maraknya_kunjungan_delegasi_arab_ke_irak
Setelah kunjungan menteri luar negeri Arab Saudi, Mesir, Aljazair dan Yordania ke Irak, kini giliran menlu Bahrain berkunjung ke Baghdad dan berunding dengan pejabat negara ini.
(last modified 2026-02-19T14:40:33+00:00 )
Aug 14, 2017 19:34 Asia/Jakarta

Setelah kunjungan menteri luar negeri Arab Saudi, Mesir, Aljazair dan Yordania ke Irak, kini giliran menlu Bahrain berkunjung ke Baghdad dan berunding dengan pejabat negara ini.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir di bulan bulan Februari, Menlu Mesir Sameh Shoukry di bulan Juli, Abdelkader Messahel, menlu Aljazair pada 8 Agustus dan Ayman al-Safadi, menlu Yordania pada 10 Agustus berkunjung ke Baghdad dan berunding dengan petinggi Irak.

Sementara itu, Menlu Bahrain, Sheikh Khalid bin Ahmad Al Khalifa Ahad (13/8) juga dilaporkan berkunjung ke Baghdad dan juga rencananya Ketua Parlemen Arab Mishaal bin Fahm al-Salami Senin (14/8) melawat Irak. Artinya, selama satu pekan tercatat tiga menlu Arab dan ketua parlemen Arab berkunjung ke Baghdad.

Urgensitas peningkatan kunjungan delegasi resmi ke Baghdad semakin besar dari sisi bahwa kunjungan Adel al-Jubeir merupakan kunjungan pertama menlu Arab Saudi ke Irak setelah 27 tahun. Kunjungan menlu Bahrain ke Irak juga merupakan kunjungannya yang pertama ke negara ini setelah beberapa tahun terakhir serta lawatan menlu Yordania dimaksudkan untuk mempersiapkan pembukaan kedubes negara ini di Baghdad.

Namun pertanyaan penting di sini adalah, mengapa kunjungan ini dilakukan saat ini, apa motifnya?

Jawaban pertama atas pertanyaan ini adalah Irak memiliki pengalaman penting di perang kontra terorisme dan tengah memasuki fase pasca Daesh. Dengan kata lain, atmosfir Irak sedikit banyak mulai reda dari kegaduhan politik dan instabilitas keamanan. Negara-negara Arab mengejar tujuan penting di fase baru Irak.

Arab Saudi berusaha memperkuat pengaruhnya di Irak melalui kunjungan diplomatik serta mengundang tokoh-tokoh seperti Muqtada Sadr. Dalam hal ini, isu pembukaan konsulat Arab Saudi di Najaf mulai digulirkan. Negara seperti Yordania dan Bahrain juga ingin menarik Irak baru ke kamp mereka. Mengingat bahwa Irak tahun depan akan menghadapi pemilu parlemen, lawatan delegasi Arab ini juga dapat dicermati sebagai upaya untuk mempengaruhi pemilu mendatang.

Tujuan penting kedua adalah menarik kepentingan ekonomi. Misalnya, Mesir berusaha menjamin kebutuhan minyaknya dari Irak. Arab Saudi juga di periode baru, yakni rekonstruksi Irak, mulai merambah ke negara ini melalui investasi ekonomi dan memperluas pengaruhnya.

Tujuan ketiga adalah meraih dukungan Irak di tensi terbaru dengan Qatar. Irak di tensi terbaru Arab memilih sikap netral, tidak mendukung Arab Saudi cs atau Qatar. Oleh karena itu, mengingat bahwa operasi anti terorisme berakhir, solidalitas politik di Irak juga kian bertambah dan Arab Saudi berserta sekutunya berusaha meraih dukungan Baghdad terkait tensi dengan Doha dengan memberi konsesi ekonomi.

Adapun tujuan keempat dari lawatan delegasi Arab ini adalah mempengaruhi atmosfer internal Irak dan ini tujuan jangka panjang. Misalnya, Bahrain dan Arab Saudi berusaha memaksa pemerintah Irak untuk tidak memandang transformasi negara-negara tersebut dengan sudut pandang agama khususnya perilaku rezim Al Khalifa terhadap ulama seperti Sheikh Isa Qassim.

Dengan kata lain, negara-negara tersebut berusaha mengedepankan identitas etnis (Arab) bagi Irak sebagai lawan dari identitas mazhab (pemerintah Syiah). Untuk merealisasikan tujuan ini, negara-negara tersebut bersedia menentang isu referendum pemisahan diri Kurdistan dari wilayah Irak, sehingga membuktikan kepada pemerintah Irak bahwa mereka memprioritaskan status Arab. (MF)