Hizbullahfobia, Strategi Baru Israel Patahkan Perlawanan
Avigdor Lieberman, Menteri Peperangan rezim Zionis Israel pada Selasa, 10 Oktober 2017 mengatakan bahwa dalam perang mendatang, Israel akan berhadapan dengan dua front sekaligus, Hamas dan Hizbullah. Menurutnya, sekarang militer Lebanon seluruhnya sudah bergabung dengan Hizbullah dan berada di bawah komando kelompok itu.
Statemen yang sama juga disampaikan oleh beberapa analis politik dan intelektual Israel seperti Uri Bar Joseph. Ia meyakini bahwa perang Israel melawan Hizbullah akan menimbulkan kerusakan besar yang tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan jauh lebih besar dari yang dibayangkan Tel Aviv.
Meski saat ini Hizbullah lebih kuat dari sebelumnya, namun statemen Menteri Peperangan Israel itu dapat menjadi indikasi bahwa Tel Aviv sekarang sedang berusaha menggunakan strategi Hizbullahfobia. Pertanyaannya mengapa Israel berusaha menjalankan strategi Hizbullahfobia?
Tujuan pertama Israel adalah untuk memulai babak baru hukuman terhadap Hizbullah terutama oleh pemerintah Amerika Serikat. Terdapat sejumlah spekulasi bahwa pemerintahan Donald Trump, Presiden Amerika akan menjatuhkan sanksi baru terhadap Hizbullah untuk menekan kelompok ini dan sekutu terpentingnya yaitu Republik Islam Iran.
Terkait hal ini, situs surat kabar Al Akhbar, Lebanon dalam salah satu analisanya mengatakan, "poros kejahatan" yang terdiri dari Amerika, Arab Saudi dan Israel sudah menyusun program anti-Hizbullah yang meliputi lima langkah, dan blokade finansial atas Hizbullah dimasukkan dalam langkah kelima.
Al Akhbar menulis, Donald Trump terlihat ingin segera mengesahkan undang-undang penjatuhan sanksi baru atas Hizbullah dan tujuannya untuk memberikan tekanan kepada kelompok itu.
Tujuan kedua adalah untuk memprovokasi militer Lebanon agar bermusuhan dengan Hizbullah. Di masa lalu, sempat muncul friksi antara militer Lebanon dan Hizbullah. Realitasnya, sebagian kalangan di Lebanon menentang Hizbullah yang bersenjata. Akan tetapi saat ini, ketegangan Hizbullah dengan militer Lebanon mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Petinggi Israel, dengan menyampaikan statemen-statemen provokatif seperti yang disampaikan Lieberman soal bergabungnya seluruh tentara Lebanon dengan Hizbullah, adalah upaya menghidupkan kembali ketegangan tersebut. Disulutnya kembali ketegangan ini dimaksudkan untuk menciptakan kebuntuan politik lain di Lebanon.
Hal itu karena Lebanon tahun 2018 akan menggelar pemilu parlemen. Di satu sisi, Israel berusaha mengadu domba Hizbullah dengan kelompok-kelompok lain untuk mengganggu pemilu parlemen Lebanon, dan di sisi lain dengan kerja sama Saudi, Israel berusaha mengurangi bobot politik Hizbullah dalam pemilu tersebut.
Penurunan posisi politik dan popularitas Hizbullah di Lebanon juga merupakan salah satu target terpenting Israel dalam kerangka strategi Hizbullahfobia. Masalah lainnya adalah, Israel kecewa karena Bashar Al Assad, Presiden Suriah sampai detik ini, belum juga terguling karena bantuan sekutu-sekutunya termasuk Hizbullah.
Israel sekarang berusaha memancing sensitivitas para penguasa Arab soal ini terutama penguasa Saudi dengan memunculkan isu kekuatan militer Hizbullah di Lebanon. Israel mengumumkan bahwa Hizbullah adalah sekutu terpenting Iran di kawasan dan kekuatan besar Hizbullah berarti kekuatan Iran.
Dengan kata lain, Israel yang berusaha menyebarluaskan isu Hizbullahfobia, sebenarnya juga ingin memperkuat hubungan Tel Aviv dengan negara-negara Arab. (HS)