Lawatan Regional PM Irak dan Berbagai Acuannya
Haider al-Abadi, Perdana Menteri Irak telah merampungkan kunjungan dua harinya ke tiga negara Arab Saudi, Mesir dan Yordania.
Al-Abadi pada Sabtu 21 Oktober 2017, tiba di Riyadh, ibukota Arab Saudi. Dan keesokan harinya, al-Abadi bertolak menuju Mesir kemudian Yordania.
Meski lawatan regional al-Abadi dilakukan setelah pemerintah Irak berhaisl mengontrol kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Daesh (ISIS), akan tetapi kunjungannya ke Riyadh harus dipisahkan dari lawatannya ke Kairo dan Amman.
Ini merupakan kunjungan kedua al-Abadi sejak Juni 2017 ke Riyadh. Masalah ini menunjukkan bahwa hubungan Riyadh dan Baghdad sedang melalui fase baru. Arab Saudi dan Irak selama beberapa dekade terakhir tidak mencatat hubungan harmonis. Bukti-bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat memainkan peran penting dalam pemulihan hubungan Arab Saudi dengan Irak. Mengingat bersamaan dengan kunjungan al-Abadi, Menlu AS Rex Tillerson juga berkunjung ke Riyadh dan bahkan hadir dalam sidang pertama dewan kerjasama kolektif antara Arab Saudi dan Irak.
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kedekatan hubungan Riyadh-Baghdad adalah bahwa Irak saat ini sedang memasuki periode pasca Daesh dan dalam kondisi tersebut, Baghdad sangat membutuhkan investasi dari Riyadh. Irak sedang bermain sebagai mediator untuk mereduksi tensi yang terjadi antara Arab Saudi dan Republik Islam Iran. Pada saat yang sama, Arab Saudi juga sedang berupaya mengurangi pengaruh Republik Islam Iran di Irak, demi memperkokoh perannya di kawasan.
Kunjungan al-Abadi ke Mesir dan Yordania adalah dalam rangka memperkokoh hubungan Irak dengan negara-negara tersebut. Hubungan Irak dan Mesir dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Berbeda dengan Arab Saudi, Mesir secara tegas memihak Irak dalam konflik yang muncul antara pemerintah pusat Baghdad dan wilayah otonomi Kurdistan. Mesir menekankan kedaulatan teritorial Irak. Pada saat yang sama Mesir dalam dua tahun terakhir mengimpor minyak dari Irak dan menutupi kebutuhan energi fosilnya dari Baghdad.
Yordania adalah tujuan ketiga lawatan regional al-Abadi. Meski Yordania dan Irak dalam beberapa tahun terakhir tidak memiliki hubungan yang mesra, akan tetapi kedua negara juga tidak memiliki perbedaan pendapat serius. Dengan kunjungannya kali ini, al-Abadi berusaha memperkuat hubungannya dengan negara-negara tetangga, di mana hubungan tersebut akan lebih terfokus pada pengamanan perbatasan negara serta pencegahan masuknya anasir teroris Takfiri Daesh ke Irak.(MZ)