Senjata Israel untuk Kuasai Teluk Persia
-
Israel dan Saudi
Rezim Zionis Israel dikabarkan sudah memulai pembangunan jalur kereta api dari wilayah Palestina pendudukan ke Arab Saudi. Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, Senin (15/1) menulis, langkah pertama yang dilakukan kabinet Israel dalam membangun jalur kereta api ke Saudi ini, adalah memasukkan usulan dana senilai 4,5 juta dolar dalam anggaran belanja nasional tahun 2019 untuk melaksanakan kajian terkait pembangunan ini.
Arab Saudi dan Israel terutama dalam rentang waktu setahun ke belakang, mempercepat proses pemulihan hubungan kedua belah pihak. Israel saat ini tengah menggunakan berbagai jenis senjata untuk meraih tujuannya, salah satunya dengan membangun jalur kereta api di kawasan.
Salah satu tujuan Israel menginfiltrasi dan menguasai titik paling strategis di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara termasuk Teluk Persia, adalah karena kawasan ini memiliki kapasitas ekonomi tinggi dan posisi geografi yang strategis. Target ini dapat dibaca dalam kerangka tujuan pendudukan Israel atas wilayah yang membentang dari Sungai Nil hingga Eufrat.
Kebijakan yang merupakan konspirasi besar Israel di kawasan ini, mencakup wilayah yang sangat luas, mulai dari Irak, Suriah dan negara-negara Arab pesisir Teluk Persia, hingga ke Afrika Utara termasuk Mesir dan beberapa negara Afrika lainnya.
Israel karena terus menerus kalah dari gerakan perlawanan masyarakat kawasan, secara praktis sudah terpuruk dan jangkauan kekuasaannya atas wilayah Palestina pendudukan dan beberapa wilayah negara Arab yang dikuasainya, sudah semakin sempit.
Pada kondisi seperti ini, Israel berusaha menjalankan kebijakan ekspansionisnya menggunakan senjata ekonomi dan dengan menyusun rencana-rencana yang diklaimnya sebagai perdamaian dan penipuan-penipuan lainnya. Penguasaan atas sumber energi kawasan Timur Tengah, termasuk sumber minyak, merupakan tujuan lain Israel dalam kerangka perluasan hubungan dengan Saudi, dan secara umum dengan negara-negara Arab pesisir Teluk Persia.
Selain itu, Israel memandang kawasan Timur Tengah sebagai jembatan untuk memasarkan produk-produknya ke berbagai wilayah di Asia. Israel yang sedang terkucil di kawasan, dengan berbagai cara berusaha mencari celah untuk keluar dari kondisi ini dan memperluas hubungan dengan para penguasa Arab termasuk Saudi.
Pada saat yang sama, para penguasa Arab mendukung kebijakan pendudukan Israel karena ketamakannya untuk meraup keuntungan besar di bidang ekonomi termasuk dengan menggunakan pelabuhan-pelabuhan di wilayah Palestina pendudukan untuk tujuan ekspornya. Langkah ini secara praktis adalah bentuk penegasan atas pendudukan Israel di Palestina.
Dukungan para penguasa Arab terhadap Israel membuat rezim penjajah itu semakin berani melakukan kejahatan-kejahatannya terhadap rakyat Palestina. Kerja sama Israel dan Saudi dalam menghadapi gerakan perlawanan telah dijalin sejak lama.
Di bulan Juni 2010, surat kabar Inggris, The Times mempublikasikan berita yang menyebutkan bahwa rezim Al Saud mengizinkan Israel menggunakan zona udaranya untuk menyerang negara-negara poros perlawanan di kawasan. Masalah ini menunjukkan target terorisme dan haus perang Israel di kawasan Teluk Persia adalah menciptakan kekacauan.
Situs internet The National Interest beberapa waktu lalu dalam laporannya menegaskan, kebijakan-kebijakan Amerika dan Israel hanya membuat kawasan Teluk Persia tidak aman dan kacau.
Hal yang perlu diperhatikan dalam situasi seperti ini adalah, Israel dan beberapa negara Arab termasuk Saudi yang tengah memulihkan hubungannya, untuk menjustifikasi langkahnya ini, berusaha membawa isu Iranfobia. Kebijakan Iranfobia yang dijalankan Saudi dan Israel di kawasan bersamaan dengan meningkatkan intervensi dan pendudukan Israel di Timur Tengah yang dilakukan untuk memperluas instabilitas, kekerasan dan terorisme di seluruh wilayah kawasan. (HS)