Hizbullah Peringatkan Israel Soal Pecahnya Perang Baru
-
Hizbullah
Anggota senior gerakan perlawanan Islam Lebanon, Hizbullah mengatakan, jika perang baru antara gerakan perlawanan Palestina dengan rezim Zionis Israel pecah, dampaknya akan menjadi bencana bagi Israel.
Stasiun televisi Alalam (19/1) melaporkan, Hassan Hoballah, anggota senior Hizbullah menuturkan, hari ini gerakan perlawanan Palestina, pasca perang 22 hari tahun 2008 melawan Israel, sudah jauh lebih kuat.
Perang 22 hari Gaza pecah pada 27 Desember 2008 dan berakhir pada 17 Januari 2009 setelah gerakan perlawanan Palestina memberikan perlawanan gigih atas serangan Israel.
Terkait keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengakui Al Quds sebagai ibukota Israel, Hoballah menerangkan, keputusan ini telah mempersatukan seluruh warga Palestina lebih dari sebelumnya.
Ia menegaskan, saat ini kelompok-kelompok perlawanan Palestina sudah semakin solid, oleh karena itu meski keputusan Trump itu tidak adil dan congkak, namun memberikan dampak positif pada persatuan warga Palestina dan kerja kolektif mereka untuk melawan pendudukan Israel.
Hoballah menjelaskan, sekalipun langkah Trump menuai protes dari negara-negara dunia dan sejumlah banyak negara Muslim, akan tetapi beberapa negara terlanjur menjual dirinya kepada Amerika dan Israel.
Menurut anggota senior Hizbullah itu, perubahan sikap Saad Hariri, Perdana Menteri Lebanon yang berbalik mendukung Hizbullah, disebabkan karena ia menyadari peran gerakan perlawanan dalam melindungi Lebanon, kawasan dan umat Islam. (HS)