Pemimpin PSP: Saya Tidak akan Menerima Undangan Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i51089-pemimpin_psp_saya_tidak_akan_menerima_undangan_saudi
Pemimpin Partai Sosialis Progresif (PSP) Lebanon mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menerima undangan Arab Saudi untuk berkunjung ke negara ini.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Feb 06, 2018 13:39 Asia/Jakarta
  • Walid Jumblatt.
    Walid Jumblatt.

Pemimpin Partai Sosialis Progresif (PSP) Lebanon mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menerima undangan Arab Saudi untuk berkunjung ke negara ini.

Walid Jumblatt menegaskan hal itu dalam wawancara dengan surat kabar Lebanon, al-Akhbar baru-baru ini.

Pemimpin Komunitas Penganut Druze itu menambahkan bahwa jika ia diundang ke Arab Saudi untuk menghidupkan kembali gerakan 14 Maret atau mendorongnya untuk masuk ke pemilu secara individual, ia tidak akan pernah berkunjung ke negara itu.

Menurut Walid Jumblatt, sebelumnya ia tidak mengunjungi Arab Saudi karena ia tidak ingin berada dalam satu poros yang anti-poros lainnya, dan hari ini ia juga tidak akan melakukannya.

Ia menyebut hubungannya dengan Arab Saudi sebagai stagnan. Menurutnya, ia disalahkan karena sejumlah posisinya terkait dengan perang tak berguna di Yaman, penyerahan perusahaan minyak Aramco, reaksi terhadap pengunduran diri Saad al-Hariri, Perdana Menteri Lebanon dan tidak bersedia berkunjung ke Riyadh.

Pemimpin PSP lebih lanjut menyinggung meningkatnya sanksi Amerika Serikat terhadap Hizbullah Lebanon dan menyebut sanksi itu sebagai langkah keji.

"Sanksi ini mempengaruhi pergerakan ekonomi, sebab ini adalah sebuah rangkaian yang saling terkait. Sanksi itu juga merugikan rakyat Lebanon," pungkasnya.

Pemerintah Trump menjatuhkan sanksi kepada enam orang dan tujuh entitas bisnis yang terkait dengan Hizbullah. Sanksi ini disebut sebagai gelombang pertama dalam sebuah kampanye tekanan yang meningkat sepanjang tahun.

Sanksi tersebut bertujuan untuk menekan pemodal Hizbullah Adham Tabaja, yang sudah ditunjuk oleh Amerika Serikat (AS) sebagai teroris global, dengan membekukan jaringan perusahaan di Lebanon, Ghana, Liberia dan tempat lain. (RA)