Di Balik Tabir Sanksi Amerika terhadap Pemimpin Hizbullah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i56984-di_balik_tabir_sanksi_amerika_terhadap_pemimpin_hizbullah
Amerika hari Rabu (16/5) menerapkan sanksi baru terhadap sejumlah anggota senior Hizbullah Lebanon termasuk Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah dan wakilnya Syeikh Naim Qassem.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 17, 2018 10:13 Asia/Jakarta
  • Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon
    Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon

Amerika hari Rabu (16/5) menerapkan sanksi baru terhadap sejumlah anggota senior Hizbullah Lebanon termasuk Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah dan wakilnya Syeikh Naim Qassem.

Menurut Badan Kontrol Kekayaan Orang Asing Departemen Keuangan Amerika, enam orang telah dimasukkan dalam daftar teroris global atau Specially Designated Global Terrorists (SDGT), dimana lima orang tersebut merupakan anggota senior Hizbullah.

Meskipun sebelumnya pemerintah AS telah memasukkan beberapa pemimpin Hizbullah, termasuk Sayid Hassan Nasrullah pada daftar sanksi, tapi langkah kemarin menandai tahap baru dalam strategi pemerintah Trump terkait Hizbullah dan poros Muqawama, dimana dari sisi waktu aksi ini sangat penting.

Donald Trump, Presiden Amerika

Masalah pertama adalah sanksi baru terhadap pemimpin dan anggota senior Hizbullah diterapkan hanya 10 hari setelah pemilihan parlemen Lebanon. Dalam pemilu legislatif ini, aliansi Hizbullah berhasil meraih 67 kursi untuk mayoritas parlemen yang akan datang di Lebanon. Kemenangan besar ini berarti meningkatnya pengaruh aliansi Hizbullah pada struktur kekuasaan di Lebanon. Langkah pemerintah AS menerapkan sanksi terhadap anggota-anggota senior Hizbullah adalah reaksi terhadap hasil pemilu dan secara terbuka menyatakan ketidakpuasan dengan hasil ini dan upaya menciptakan ketegangan dalam urusan internal Lebanon.

Masalah kedua, tindakan pemerintah AS dilakukan hanya dua hari setelah pemindahan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Quds. Langkah itu terjadi pada saat tentara Israel mereaksi demonstrasi akbar yang dilakukan memperingati Hari Nakba, yang bersamaan dengan pemindahan Kedubes AS, yang menyebabkan lebih dari 65 warga Palestina gugur syahid dan sekitar 3800 cedera. Langkah itu bertujuan untuk menekankan dukungan AS terhadap rezim zionis Israel, termasuk kejahatan terbarunya.

Tindakan pemerintah AS ini juga dilakukan hanya berselang sepekan setelah negara ini keluar dari kesepakatan nuklir dengan Republik Islam Iran. Salah satu tujuan paling penting dari penarikan diri Amerika Serikat dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) adalah untuk mencegah penguatan gerakan Muqawama di kawasan Asia Barat. Sanksi terhadap pemimpin dan anggota senior Hizbullah Lebanon juga dilakukan untuk menekan Hizbullah, sekutu terpenting Republik Islam Iran di kawasan tersebut.

Setelah Donald Trump mengumumkan penarikan diri Amerika Serikat dari JCPOA, rezim zionis Israel melancarkan serangan rudal terhadap Suriah, yang kemudian direaksi oleh tentara Suriah. Sesuai dengan yang disampaikan Sayid Hassan Nasrullah dalam pidatonya pada Senin (14/5) menyebut pasukan Suriah membalas dengan menembakkan 55 rudal ke Dataran Tinggi Golan yang diduduki Zionis Israel.

Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel

Sekjen Hizbullah kemudian memperingatkan rezim zionis Israel dan menekankan bahwa mitos tak terkalahkan Zionis Israel dan kekuatan udaranya sudah hancur. Sayid Hassan Nasrullah mengatakan, bila agresi Israel ke Suriah terus berlanjut, balasan berikutnya akan mennghantam Palestina pendudukan dan bukan lagi Golan.

Langkah pemerintah Amerika menerapkan sanksi terhadap pemimpin dan anggota-anggota senior Hizbullah Lebanon dilakukan tepat dua hari pasca peringatan tegas Sayid Hassan Nasrullah. Ini menunjukkan aksi tegas dan cerdas Sekjen Hizbullah Lebanon.