Seriuskah Barat Hentikan Perang Yaman ?
-
Yaman porak-poranda akibat agresi koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud
Sejak Maret 2015 lalu hingga kini koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud melancarkan agresi militer terhadap Yaman yang menelan ribuan orang korban jiwa dan cedera dari pihak warga sipil Yaman serta menghancurkan negara tetangga Arab Saudi itu.
Negara-negara Barat memainkan peran sangat besar dalam mengobarkan perang berkepanjangan yang masih berlanjut hingga kini. Mereka memberikan bantuan logistik, intelejen, dan teknis hingga pasokan senjata dan alutsista terhadap Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang menjadi pemain kunci dalam perang Yaman.
Negara-negara Barat menikmati keuntungan besar , terutama ekonomi dari penjualan senjata dan alutsista yang dipergunakan rezim Al Saud untuk menyerang Yaman.
Dukungan pemerintahan negara-negara Barat terhadap rezim penyulut perang Al Saud menyulut gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat di negaranya sendiri, termasuk menekan parlemen Eropa supaya mengeluarkan resolusi kecaman terhadap serangan militer tersebut dan menyerukan penghentian perang.
Parlemen Eropa Kamis malam (4/10) mengeluarkan resolusi yang mengecam berlanjutnya perang di Yaman dan pelanggaran terhadap hak warga sipil dalam perang tersebut. Selain itu, parlemen Eropa juga menyerukan penghentian penjualan senjata dan alutsista dari negara-negara Eropa kepada koalisi Arab, terutama rezim Al Saud dan Uni Emirat Arab yang dipergunakan membantai rakyat Yaman.
Di kalangan negara-negara Eropa, Inggris menjadi negara yang terbesar menjual senjata dan alutsistanya terhadap Arab Saudi. Selama dua tahun sejak perang Yaman meletus, Inggris menjual senjata dan alutsista senilai 2,6 miliar pound. Ironisnya, meskipun terdapat bukti-bukt kuat yang menunjukkan terjadinya kejahatan perang yang dilakukan rezim Al Saud dan sekutunya di Yaman, tapi pemerintah London justru mengeluarkan izin penambahan jumlah penjualan senjata Inggris kepada Arab Saudi.
Pemimpin Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn menyerukan supaya pemerintah London menghentikan penjualan senjata kepada Riyadh demi mengakhiri penderitaan rakyat Yaman.
Tapi seruan moral demikian tidak berarti. Langkah London juga diikuti Jerman yang baru-baru ini menyetujui penjualan empat sistem navigasi artileri kepada Arab Saudi.
Spanyol sejak 2015 hingga 2017 telah menjual senjata kepada Arab Saudi senilai 932 juta euro. Selain itu, saat ini memberikan izin penjualan senjata dan alutsista senilai 235 juta euro. Italia juga masih melanjutkan penjualan bom yang digunakan oleh rezim Al Saud untuk membombardir rakyat Yaman.
Meskipun organisasi-organisasi internasional telah megeluarkan seruan supaya negara-negara Eropa menghentikan penjualan senjata dan alutsista kepada pihak agresor dalam krisis Yaman, tapi seruan tersebut tidak pernah digubris. Padahal negara-negara Barat tersebut selama ini mengklaim sebagai pengusung hak asasi manusia dan demokrasi di dunia. Tapi faktanya, langkah yang mereka ambil jauh panggang dari api.
Tidak heran jika analis politik internasional semacam Barbara Valey menyebut AS dan Inggris sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas terjadinya bencana dan kejahatan perang di Yaman.
Tanpa dukungan logistik, terutama senjata dan alutsista yang mengalir tanpa henti, tidak mungkin rezim agresor semacam Arab Saudi bisa melanjutkan kejahatannya terhadap rakyat Yaman.(PH)