Transformasi Timur Tengah, 28 September 2019
-
MBS dan Jamal Khashoggi
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya penyataan terbaru Putera Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman yang mengaku bertanggung jawab atas kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.
Selain itu, mengenai pernyataan Sekjen Hizbullah bahwa menghadapi AS sebagai keputusan paling berani Rahbar, Menlu Lebanon tolak tekanan AS mengenai Hizbullah, Hamas siap mengikuti pemilu nasional Palestina, dan Ansarullah Yaman bersabar menanti itikad baik Saudi.
MBS Bertanggung Jawab atas Kasus Khashoggi
Sekitar setahun berlalu dari pembunuhan brutal Jamal Khashoggi, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman akhirnya mengaku bertanggung jawab atas kejahatan terhadap jurnalis Arab tersebut, meskipun membantah keterlibatan dirinya.
Dalam sebuah wawancara dengan jaringan media AS, PBS, Mohammed bin Salman mengatakan dirinya bertanggung jawab atas pembunuhan Kashoggi karena itu terjadi di bawah kepemimpinannya. Meski demikian, Bin Salman bersikeras tidak mengetahui sama sekali masalah tersebut, dan membantah keterlibatannya dalam kasus pembunuhan berdarah itu.
Jamal Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post menghilang pada 2 Oktober 2018, ketika mengunjungi Konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk urusan administrasi, tetapi tidak pernah keluar dari gedung dalam keadaan hidup. Pasukan keamanan rezim Al-Saud yang tiba di Istanbul dengan jet pribadi membunuh Khashoggi dan memutilasi tubuhnya untuk menghilangkan jejak, meski akhirnya terbungkar juga.
Tampaknya, alasan paling penting dari langkah Bin Salman mengenai kuatnya bukti mengenai keterlibatan pihak kerajaan Arab Saudi dalam kasus pembunuhan Khashoggi, dan Mohammed bin Salman tidak dapat menyangkal semua fakta tersebut.
Kini, Bin Salman menerima tanggungjawab kasus ini meskipun masih menyangkal perannya dalam kejahatan tersebut. Dengan cara ini, ia berupaya menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang menerima tanggung jawab. Tentu saja Ben Salman perlu membersihkan wajahnya yang bersimbah darah untuk mencapai kursi raja Saudi, dan menunjukkan wajah yang lebih tenang, moderat dan bertanggung jawab.
Masalah lain yang ingin ditampilkan Putra Mahkota Saudi ini bahwa dirinya ingin menyampaikan pesan bahwa di Arab Saudi dan juga di negara-negara lain, mungkin terjadi peristiwa yang tidak disadari oleh pihak berwenang. Selama setahun terakhir, Bin Salman berusaha untuk melakukan perubahan politik Arab Saudi demi kepentingannya mengisi kursi orang nomor satu di negara Arab itu.
Tapi, langkah rekayasa ini tetap tidak dapat membebaskan Bin Salman dari kejahatan yang dilakukannya tersebut, karena pelapor khusus PBB Anis Kalamar baru-baru ini mengumumkan bukti yang kredibel tentang keterlibatan pejabat senior Saudi, termasuk Putra Mahkota Mohammed bin Salmandalam pembunuhan Jamal Khashoggi.
Sekjen Hizbullah: Hadapi AS, Keputusan Paling Berani Rahbar
Sekjen Hizbullah Lebanon menilai keputusan paling berani Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar dalam konstelasi regional adalah menghadapi secara aktif agresi total dan penuh kemarahan Amerika Serikat di Asia Barat pasca insiden 11 September 2001.
Fars News (27/9/2019) melaporkan, bagian kelima dan terakhir wawancara eksklusif Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya-karya Ayatullah Sayid Ali Khamenei, dengan Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah ditayangkan TV3 televisi nasional Iran.
Sayid Hassan Nasrullah dalam wawancara itu menganggap keputusan paling berani Ayatullah Khamenei dalam konstelasi regional adalah melawan secara aktif agresi total dan penuh kemarahan Amerika ke kawasan Asia Barat pasca insiden 11 September.
Sekjen Hizbullah menjelaskan, pasca insiden 11September, presiden Amerika kala itu, George Bush mengatakan, hanya ada dua pilihan, dunia bersama kami atau melawan kami. Ia mengerahkan pasukan Amerika ke negara-negara sekitar Iran. Siapapun yang berani berhadapan dengan Amerika, ia akan dimusnahkan.
Menurut Sayid Hassan Nasrullah, salah satu yang saya yakini merupakan karakteristik khusus Ayatullah Khamenei adalah keyakinannya yang begitu tinggi terhadap Allah Swt. Maksud saya bukan hanya statemen tentang keyakinan ini, tapi menumbuhkan keyakinan itu di hati dan akal orang lain seperti Hizbullah Lebanon.
Soal Hizbullah, Lebanon Tolak Permintaan AS
Menteri Luar Negeri Lebanon Gebran Bassil, mengatakan Gerakan Hizbullah bukan organisasi teroris.
Dia menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan televisi LBC Lebanon di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Selasa (24/9/2019).
"Lebanon menentang permintaan AS untuk menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris," tegasnya.
"Hizbullah adalah pelindung keamanan dan wilayah Lebanon," kata Bassil mengacu pada pembalasan Hizbullah terhadap serangan drone rezim Zionis Israel ke Dahieh, Beirut.
Saat ditanya tentang serangan Arab Saudi di Yaman, dia menandaskan bahwa pemerintah Lebanon mengecam serangan Saudi terhadap fasilitas publik di Yaman.
Senjata Buatan AS dan Israel kembali Ditemukan di Suriah
Pihak berwenang Suriah pada hari Rabu (25/9/2019) menemukan sejumlah besar senjata dan amunisi buatan AS dan rezim Zionis Israel di wilayah selatan.
Senjata-senjata tersebut ditinggalkan oleh para teroris di selatan Suriah. Demikian dilansir kantor berita Suriah (SANA).
Ketika militer Suriah menyisir daerah-daerah yang telah dibebaskan dari teroris, sejumlah senjata dan amunisi buatan Israel ditemukan di ruang bawah tanah rumah dan ladang pertanian.
Senjata itu termasuk rudal grad, ratusan mortir, senapan mesin PKC, senapan sniper, senapan serbu buatan AS, sebuah drone dan lebih dari 200 ribu amunisi dengan berbagai kaliber. Perangkat komunikasi dan teropong malam-hari buatan rezim Zionis juga turut ditemukan.
Sementara itu, ratusan pengungsi Suriah telah kembali ke daerah asalnya setelah militer menumpas para teroris dan memulihkan situasi keamanan.
Hamas Siap Mengikuti Pemilu Nasional di Palestina
Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengumumkan bahwa mereka siap untuk mengikuti pemilihan umum yang komprehensif di wilayah Palestina.
Pemimpin Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB mengatakan bahwa ia akan mengadakan pemilu Palestina segera setelah kembali ke Tepi Barat.
"Mengingat niat Abbas untuk mengadakan pemilu segera setelah ia kembali ke Tepi Barat, kami mengumumkan kesiapan kami untuk bergabung dengan pemilihan umum yang komprehensif," kata Hamas dalam sebuah rilis seperti dilaporkan Pusat Informasi Palestina, Jumat (27/9/2019).
"Kami memutuskan berpartisipasi dalam pemilu untuk menyatukan upaya dalam menghadapi tantangan berbahaya saat ini, terutama Kesepakatan Abad, sebuah prakarsa Amerika Serikat," tambahnya.
Hamas juga meminta pemerintah Otorita Ramallah untuk mengakhiri proses kompromi dengan rezim Zionis Israel.
Pemilu terakhir presiden diadakan pada tahun 2005, sementara pemilu parlemen Palestina pada 2006. Abbas terpilih sebagai pemimpin Otorita Ramallah dan Hamas memenangkan pemilu parlemen.
Ansarullah Yaman Bersabar Menanti Itikad Baik Saudi
Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman, Mahdi al-Mashat mengatakan berlanjutnya agresi Arab Saudi akan menjadi noktah hitam bagi masyarakat internasional dan ancaman untuk perdamaian dan keamanan dunia.
Al-Mashat dalam sebuah komentar hari Rabu (25/9/2019), menganggap respon Saudi atas tawaran gencatan senjata oleh Yaman, tidak bertanggung jawab.
Dia memperingatkan bahwa inisiatif gencatan senjata harus dipatuhi oleh kedua pihak dan Yaman akan bersabar untuk beberapa hari ke depan.
Dewan Tinggi Politik Yaman pada Jumat lalu, mengumumkan penghentian bersyarat serangan drone dan rudal ke Saudi, dan berharap langkah ini ditanggapi positif oleh koalisi agresor.
Namun, koalisi Arab Saudi pada Ahad lalu, justru melakukan serangan ke Provinsi 'Amran dan Hajjah yang membunuh lima warga sipil dan menciderai puluhan lainnya.
"Berlanjutnya agresi Arab Saudi di Yaman merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB serta bertentangan dengan hukum dan norma internasional," tegas al-Mashat.
Ia menambahkan, kapan Qatar membantu Hashd Al Shaabi, negara ini dikenal sebagai pendukung teroris, dan menyusun berbagai program untuk merusak Irak.(PH)