Transformasi Asia Barat 7 Maret 2020
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i79331-transformasi_asia_barat_7_maret_2020
Transformasi Timur Tengah selama beberapa hari terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai gencatan senjata di Idlib antara Turki dan Rusia.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 07, 2020 15:48 Asia/Jakarta
  • Presiden Rusia dan Turki
    Presiden Rusia dan Turki

Transformasi Timur Tengah selama beberapa hari terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai gencatan senjata di Idlib antara Turki dan Rusia.

Selain itu, militer Suriah menembak jatuh dua drone musuh di Latakia, 150 teroris dukungan Turki tewas di Idlib, Hamas menyatakan bahwa Syahid Soleimani, Poros Perjuangan Palestina, dua pangeran Saudi Rival Muhamed bin Salman ditangkap, komando pasukan Koalisi Saudi di tangan penasihat militer Inggris dan menlu Irak menyatakan bahwa Baghdad menentang eskalasi ketegangan regional.

 

Vladimir Putin dan Recep Tayyip Erdogan

 

Gencatan Senjata di Idlib Dimulai

Gencatan senjata di Idlib, utara Suriah sesuai dengan kesepakatan yang diraih antara Rusia dan Turki mulai diberlakukan sejak Jumat (06/03) dini hari.

Presiden Rusia, Vladimir Putin Kamis (05/03) sore saat jumpa pers bersama sejawatnya dari Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, kedua pihak mencapai kesepakatan terkait penerapan gencatan senjata di Idlib.

Menurut Putin, Moskow dan Ankara menekankan dilanjutkannya kerja sama dalam koridor proses Astana (Dialog damai Astana) soal Suriah serta mencapai kesepakatan untuk melakukan patroli bersama guna mengawasi zona penurunan tensi di distrik di dekat Idlib.

Selain itu disepakati di sepanjang jalan tol M4 Suriah dibentuk koridor keamanan sejauh 4 km antara utara dan selatan serta isu-isu lainnya akan diputuskan selama sepekan mendatang.

 

Bouthaina Shaaban

 

Penasihat Assad: Erdogan Berkoordinasi Penuh dengan Israel

Penasihat Presiden Suriah urusan media dan politik mengatakan, kesepakatan gencatan senjata di Idlib, menguntungkan Suriah, dan Turki bersama rezim Zionis Israel melakukan koordinasi penuh dalam menyerang Suriah.

Bouthaina Shaaban menganggap gencatan senjata yang disepakati Turki dan Rusia di Idlib, menguntungkan Suriah.

Seperti ditulis SANA, Shaaban menuturkan, Suriah akan melanjutkan perang melawan terorisme, dan kesepakatan Moskow tercapai berkat pengorbanan pasukan Suriah yang telah berhasil membebaskan lebih dari 2000 kilometer wilayah negara ini, serta menjaga penerapan kesepakatan Sochi di Idlib.

Ia menambahkan, pengorbanan pasukan Suriah menyebabkan dicapainya sebuah kesepakatan yang membuka kembali akses jalan raya M-4, dan M-5 serta berlanjutnya perang melawan terorisme.

Shaaban menegaskan, kesepakatan Moskow bersifat sementara, dan menguntungkan militer serta rakyat Suriah dalam memerangi terorisme, dan menyempurnakan kesepakatan Sochi, sebuah kesepakatan yang menunjukkan bahwa Presiden Turki berada dalam situasi krisis, dan dunia mulai menyadari bahaya kebijakannya dalam mendukung terorisme, dan kemunafikannya.

 

Militer Suriah Tembak Jatuh Dua Drone Musuh di Latakia

Sistem pertahanan udara Suriah, Jumat (6/3/2020) malam menembak jatuh dua pesawat nirawak asing di Provinsi Latakia, barat laut Suriah.

Kantor berita resmi Suriah, SANA (7/3) melaporkan, dua drone asing yang terbang dari Provinsi Idlib itu, ditembak jatuh di wilayah Al Jableh, Provinsi Latakia.

Dalam beberapa minggu terakhir, situasi Idlib, utara Suriah tidak stabil akibat pergerakan kelompok teroris, agresi militer Turki ke provinsi ini, dan pertempuran melawan pasukan pemerintah Suriah.

Sampai sekarang militer Suriah dan sekutunya terlihat lebih unggul dalam pertempuran di Idlib melawan teroris yang didukung pasukan Turki.

Merasa tersudut di Idlib, Presiden Turki segera bertolak ke Rusia untuk berbicara langsung dengan Presiden Vladimir Putin, dan mendesak pemberlakuan gencatan senjata di Idlib, Suriah.

 

Pasukan Suriah

150 Teroris Dukungan Turki Tewas di Idlib

Militer Suriah berhasil menggagalkan serangan yang dilancarkan dua kelompok teroris yang didukung pemerintah Turki di distrik Saraqah, provinsi Idlib.

Kantor berita Sputnik melaporkan, tentara Suriah dalam pertempuran yang berlangsung hari Rabu berhasil membunuh 150 milisi teroris Jabhat Al-Nusra dan Ajnad Al-Kavakaz.

Para teroris mundur ke posisi mereka di distrik Afs dan Al-Nirib yang terletak di wilayah utara dan barat daya Saraqab setelah gagal melancarkan serangan tersebut.

Rakyat dan pemerintah Suriah selama sembilan tahun berjuang melawan kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh negara-negara Arab dan Barat yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan menyengsarakan jutaan lainnya.

Militer Suriah dan sekutunya sedang membersihkan negaranya dari keberadaan kelompok-kelompok teroris yang masih tersisa, tetapi militer Turki mencoba untuk menghentikannya demi menyelamatkan kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan Ankara di Idlib.

 

Sistem pertahanan udara Suriah

 

Militer Suriah Tangkis Serangan Udara Rezim Zionis

Militer Suriah berhasil menangkis serangan udara rezim Zionis yang dilancarkan Kamis dini hari di provinsi Quneitra di wilayah selatan negara Arab ini.

Kantor berita resmi Suriah, Sana, melaporkan sistem pertahanan anti-udara angkatan bersenjata Suriah berhasil mencegat dan menghancurkan roket rezim Zionis di  Quneitra.

Dilaporkan, rudal-rudal ini ditembakkan dari dataran tinggi Golan yang diduduki Israel.

Sebelumnya, surat kabar Zionis Haaretz mengutip statemen para pejabat militer Israel yang mengklaim serangan roket ini sebagai balasan terhadap aksi penembakkan dari Quneitra ke arah wilayah pendudukan.

Rezim Zionis selalu menargetkan posisi tentara, rakyat dan infrastruktur Suriah demi mendukung para teroris yang beroperasi di berbagai wilayah Suriah.

Krisis di Suriah dimulai pada 2011 dengan masuknya kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh Arab Saudi, AS, dan sekutu mereka untuk mengubah perimbangan kekuatan regional demi kepentingan rezim Zionis.

Militer Suriah bersama Iran dan Rusia berhasil menumpas sebagian besar kelompok teroris di negaranya, dan saat ini sedang melanjutkan aksi penumpasan di sebagian kecil wilayah yang masih dikuasai kelompok teroris dukungan sejumlah negara asing.

 

Ismail Haniyeh

 

Hamas: Syahid Soleimani, Poros Perjuangan Palestina !

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh menyebut komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Syahid Qassem Soleimani memainkan peran penting dalam mendukung perjuangan Palestina.

Ismail Haniyeh dalam statemennya yang disampaikan hari Rabu mengatakan,  "Iran adalah negara yang sangat penting dalam mendukung perjuangan Palestina melawan rezim agresor Israel, dan Letnan Jenderal Qassem Soleimani yang syahid memainkan peran kunci dalam mendukung perjuangan Palestina."

"Amerika Serikat dan Zionis mengira dengan membunuh tokoh-tokoh penting dapat menghentikan perlawanan di kawasan, Tetapi sebaliknya, setelah setiap pembunuhan, perlawanan justru akan meningkat dan para pemimpin baru akan melanjutkan langkah mereka," tegas kepala biro politik Hamas.

Haniyeh dalam kunjungannya ke Moskow menggambarkan situasi krisis di Jalur Gaza, dengan mengatakan bahwa Hamas telah menyampaikan usulan kepada Rusia tentang bagaimana membantu mengatasi krisis di daerah ini.

 

 

Mohammed bin Nayef

Dituduh Berkhianat, Dua Pangeran Saudi Rival MBS Ditangkap

Salah satu surat kabar Amerika Serikat mengabarkan penangkapan saudara Raja Arab Saudi dan mantan putra mahkota, oleh aparat keamanan negara itu.

Surat kabar The Wall Street Journal, Sabtu (7/3) dinihari menulis, pejabat Saudi menangkap Pangeran Ahmed bin Abdulaziz, dan Pangeran Mohammed bin Nayef, mantan putra mahkota.

Menurut koran Amerika itu, kedua pangeran Saudi tersebut ditangkap karena dituduh telah melakukan pengkhianatan besar kepada negara.

Surat kabar New York Times, Jumat (6/3) pagi mengabarkan, Nawaf bin Nayef saudara terkecil Mohammed bin Nayef, juga ikut digelandang aparat keamanan Saudi.

Penangkapan Jumat pagi oleh pengawal Istana Kerajaan Saudi berseragam hitam-hitam itu dilakukan di rumah masing-masing pangeran, dan setelah menangkap mereka menggeledah kedua rumah tersebut.

Ahmed bin Abdulaziz dan Mohammed bin Nayef merupakan rival terbesar Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dalam persaingan menduduki puncak kekuasaan di Saudi.

 

Mohammed Ali Al-Houthi

 

Komando Pasukan Koalisi Saudi di Tangan Penasihat Militer Inggris

Ketua Dewan Tinggi Revolusi Yaman menjawab pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris dan mengatakan, para penasihat militer Inggris dan Amerika Serikat, memegang komando operasi pasukan koalisi di Yaman.

Mohammed Ali Al Houthi di laman Twitternya menjawab pernyataan Menlu Inggris Dominic Raab yang menuntut penurunan ketegangan di Yaman.

Mohammed Ali Al Houthi mengatakan, Dominic Raab menempuh jalur yang keliru, untuk menurunkan ketegangan di Yaman, ia harus bertemu dengan pakar Inggris dan Amerika di pusat komando perang bersama yang selalu digunakan meningkatkan ketegangan.

Ia menambahkan, Menlu Inggris seharusnya menerima laporan tentang jet tempur Tornado yang ditembak jatuh pasukan Yaman di Provinsi Al Jawf.

Ketua Dewan Tinggi Revolusi Yaman menegaskan, kami mencapai kesepakatan dengan Menlu Inggris seputar penghentian agresi militer ke Yaman, bukan penurunan ketegangan, dan inilah perbedaan kami.

 

Pertemuan Liga Arab

Menlu Irak: Baghdad Tolak Eskalasi Ketegangan Regional

Menteri Luar Negeri Irak, Mohammed Ali Al-Hakim mengatakan, Baghdad tidak akan mendukung langkah-langkah dan kebijakan yang mendorong eskalasi ketegangan di kawasan.

Menteri Luar Negeri Irak Mohammed Ali al-Hakim dalam pertemuan tingkat menlu Liga Arab ke-150 yang berlangsung di Kairo hari Rabu (4/3/2020) mengungkapkan bahwa negaranya berpegang teguh pada posisi independennya dengan tidak mendukung upaya pihak-pihak tertentu yang ingin meningkatkan ketegangan regional.

Selain itu, Menlu Irak juga menegaskan posisi Baghdad yang mendukung berdirinya negara merdeka Palestina dengan ibu kota Baitul Maqdis.

Pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri Liga Arab di Kairo yang dipimpin Oman berfokus pada sikap bangsa-bangsa Arab tentang Kesepakatan Abad.

Pada pertemuan yang juga dihadiri Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit, Irak menyerahkan kepemimpinan Dewan Liga Arab kepada Kesultanan Oman.(PH)