Yaman: Penghentian Perang dan Blokade, Prasyarat Dialog
-
Juru bicara Gerakan Rakyat Yaman (Ansarullah) Mohammad Abdussalam.
Juru bicara Gerakan Rakyat Yaman (Ansarullah) Mohammad Abdussalam mengatakan, dimulainya segala bentuk perundingan bergantung pada penghentian agresi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman dan pencabutan blokade atas negara ini.
"Solusi atas krisis Yaman adalah, yang pertama, difokuskan pada penghentian perang dan pencabutan blokade, dan setelah itu, dilakukan negosiasi politik yang serius, di mana Yaman selalu menekankan dua poin tersebut," kata Abdussalam dalam pernyataan terbaru seperti dilansir IRIB, Minggu (8/3/2020).
Dia menambahkan, segala bentuk permintaan yang keluar dari dua hal tersebut akan menyebabkan semakin lamanya agresi dan blokade terhadap Yaman.
"Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Yaman (Martin Griffiths) harus menjaga ketidakberpihakannya ketika menghadapi pelaksanaan rencana yang mencurigakan," pungkasnya.
Sebelumnya, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Yaman Martin Griffiths mengunjungi Ma'rib pada hari Sabtu dan menegaskan dimulainya dialog politik untuk mencapai gencatan senjata guna melanjutkan perundingan damai di Yaman.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan sejumlah negara lainnya yang didukung penuh oleh Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Yaman sejak Maret 2015.
Hingga sekarang, belasan ribu warga Yaman tewas dan puluhan ribu lainnya terluka dalam agresi militer koalisi pimpinan Arab Saudi tersebut. Sementara, jutaan warga Yaman juga terpaksa mengungsi.
Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi juga memblokade Yaman dari darat, laut dan udara sehingga rakyat di negara ini kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. (RA)