AS-Saudi, Bermain Api di Aleppo
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i8179-as_saudi_bermain_api_di_aleppo
Dewan Keamanan PBB telah menggelar sidang membahas Aleppo, Suriah dan para peserta pertemuan itu menyampaikan kekhawatiran tentang situasi kritis di sana serta mendesak penghentian pertempuran dan kekerasan di Aleppo.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 05, 2016 10:36 Asia/Jakarta
  • AS-Saudi, Bermain Api di Aleppo

Dewan Keamanan PBB telah menggelar sidang membahas Aleppo, Suriah dan para peserta pertemuan itu menyampaikan kekhawatiran tentang situasi kritis di sana serta mendesak penghentian pertempuran dan kekerasan di Aleppo.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin dalam sidang tersebut mengatakan bahwa situasi buruk di Aleppo dipicu oleh serangan kelompok-kelompok bersenjata dan ini mengundang kekhawatiran serius, sementara militer Suriah sedang mencegah serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata.

 

Pada sidang itu, Kepala Misi Kemanusiaan PBB, Stephen O’Brien juga mengatakan kehidupan masyarakat di Aleppo berada dalam bahaya dan mereka menghadapi ancaman setiap hari.

 

Sementara itu, Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Politik, Jeffrey Feltman menuturkan bahwa sebuah gencatan senjata yang kokoh dan akses yang lebih besar untuk distribusi bantuan kemanusiaan dapat menjadi penjamin babak baru perundingan damai Suriah, yang direncanakan digelar pada bulan ini di Jenewa.

 

Menurut Feltman, jika tidak mencapai kemajuan dalam hal ini, proses politik Suriah kemungkinan akan menghadapi kegagalan.

 

Gencatan senjata di Suriah dimulai sejak 27 Februari lalu menyusul kesepakatan antara Amerika Serikat dan Rusia. Kesepakatan ini tidak berlaku untuk kelompok teroris Daesh dan Front al-Nusra. Kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Front al-Nusra sejak hari pertama gencatan senjata telah melanjutkan serangannya di Aleppo dan militer Suriah juga menghalau serangan mereka untuk melindungi warga sipil dan menumpas terorisme.

 

Serangan kelompok bersenjata atau "oposisi pemerintah Suriah" meningkat sejak beberapa hari lalu setelah delegasi oposisi menarik diri dari perundingan Jenewa. Mereka adalah kubu yang didukung oleh Arab Saudi, Qatar, dan Turki.

 

Menurut sumber-sumber media, serangan rudal dan mortir kelompok bersenjata dan teroris di Aleppo sejak 10 hari lalu telah menewaskan sekitar 120 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. Serangan terbaru dilakukan terhadap sebuah rumah sakit kota Aleppo yang menewasakan 30 orang.

 

Kelompok teroris Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham afiliasi Front al-Nusra, sengaja menggempur Aleppo dengan tujuan menyalahkan pemerintah Suriah atas pelanggaran gencatan senjata dan kematian warga sipil. Aksi ini sejalan dengan keputusan politik oposisi pro-Saudi yang meninggalkan meja perundingan di Jenewa.

 

Arab Saudi, Qatar, Turki, dan AS menjadikan perundingan Jenewa sebagai media untuk mengakhiri kekuasaan Bashar al-Assad dan oleh karena itu, mereka melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka menuding Assad memperpanjang pertempuran di Aleppo, padahal rudal yang mendarat di rumah sakit Aleppo Selasa lalu berasal dari daerah yang dikontrol oleh kelompok bersenjata.

 

Situasi di Aleppo tampaknya senjaga diseting untuk misi tertentu. Sebelum ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan perang di Suriah tidak akan terhenti selama Bashar al-Assad masih berkuasa.

 

Oposisi dukungan Arab dan Barat juga tidak terlalu serius dalam mengikuti perundingan Jenewa. Sementara pemerintah Suriah menekankan partisipasi serius di Jenewa dan berkomitmen dengan gencatan senjata di Aleppo. Itikad baik ini tentu saja bukan menghentikan perang terhadap terorisme, karena rakyat dan pemerintah Suriah bertekad untuk menggagalkan konspirasi yang dirancang dari luar perbatasan negara itu. (RM)