Transformasi Asia Barat 26 September 2020
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i85624-transformasi_asia_barat_26_september_2020
Transformasi Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai sikap Qatar yang menolak menggantikan posisi Palestina di Liga Arab yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Sep 26, 2020 12:12 Asia/Jakarta
  • Liga Arab
    Liga Arab

Transformasi Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai sikap Qatar yang menolak menggantikan posisi Palestina di Liga Arab yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Selain itu, Israel menentang penjualan F-35 ke UEA, padahal baru saja menandatangani perjanjian kompromi, Pejabat Irak membeberkan bukti bahwa Saudi, UEA dan Israel merancang kerusuhan di negaranya, Ansarullah menyebut Saudi dan UEA menjadi proksi rezim Zionis di Yaman, statemen Hamas menegaskan bahwa Kesepakatan Abad akan semakin pererat persatuan faksi-faksi Palestina, dan ibadah umrah akan dibuka empat Oktober 2020.

 

Emir Qatar

 

Qatar Tolak Gantikan Palestina di Liga Arab

Pemerintah Qatar menolak menerima kepemimpinan saat ini di Liga Arab untuk menggantikan posisi Palestina.

Seperti dikutip laman Arabi 21, pemerintah Qatar dalam sebuah keterangan pada Jumat (25/9/2020) mengumumkan bahwa Qatar tidak dapat menggantikan posisi Palestina, yang telah mundur dari kepemimpinan Liga Arab sebagai reaksi atas normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan rezim Zionis.

Pemerintah Palestina pada Selasa lalu, menarik diri dari kepemimpinan periodik Liga Arab sebagai protes atas normalisasi hubungan antara rezim Zionis dan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain serta dukungan Liga Arab atas keputusan itu.

Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dalam pidato yang disampaikan pada KTT ke-75 Majelis Umum PBB mengecam tindakan rezim Zionis terhadap Palestina dan menyerukan aksi komunitas internasional menghadapi sikap keras kepala Israel.

Kesepakatan antara Bahrain dan UEA dengan rezim Zionis yang ditandatangani di Gedung Putih pada 15 September 2020 dikecam oleh beberapa negara Arab. Namun, posisi Emir Qatar yang diungkapkan dalam pertemuan Majelis Umum PBB dapat dianggap sebagai salah satu yang paling tegas dibandingkan negara Arab lainnya.

Emir Qatar mengkritik ketidakadilan perjanjian tersebut, karena berlangsung di tengah kegagalan mengakhiri blokade Jalur Gaza dan pelanggaran terhadap resolusi internasional yang dilakukan Israel. Sheikh Tamim juga menekankan perlunya mengakhiri pendudukan Israel terhadap Palestina dalam jangka waktu tertentu dan pembentukan negara merdeka Palestina dengan ibu kota Baitul Maqdis, serta keluarnya agresor Israel dari semua wilayah pendudukan. Pada saat yang sama, ia juga meminta masyarakat internasional demi memenuhi tanggung jawabnya dan mengambil langkah serius untuk mengakhiri blokade Jalur Gaza.

 

Jet tempur F-35

 

Meski Berdamai, Israel Menentang Penjualan F-35 ke UEA

Komandan Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Amikam Norkin mengatakan penjualan jet tempur F-35 kepada Uni Emirat Arab (UEA) akan merusak perimbangan strategis di kawasan.

Mayjen Norkin Jumat (25/9/2020) menyampaikan kekhawatiran atas penjualan jet tempur F-35 kepada UEA.

"Langkah ini akan menimbulkan konsekuensi yang buruk bagi kawasan dalam jangka panjang," ujarnya.

Setelah memutuskan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, UEA bersikeras untuk membeli jet tempur Amerika, F-35 dan menyerukan penghapusan hambatan di pihak Israel.

Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash mengatakan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel harus menghapus segala hambatan yang dihadapi AS bagi penjualan jet tempur F-35 kepada Abu Dhabi.

 

 

Parlemen Irak

 

Pejabat Irak Beberkan Bukti Saudi, UEA dan Israel Rancang Kerusuhan

Seorang anggota parlemen Irak mengatakan Arab Saudi, UEA dan rezim Zionis merancang plot untuk menyulut kerusuhan di Irak.

Abdul Amir Taiban, anggota fraksi Sadiqun hari Senin (21/9/2020) mengatakan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan rezim Zionis mendukung sejumlah pihak di kota Nasiriyah, ibu kota provinsi Dhi Qar, demi menciptakan ketegangan dan kerusuhan di daerah ini.

"Peristiwa di Nasiriyah dan keberadaan penjara Al-Hout, yang mencakup tahanan Saudi dan UEA, menimbulkan kekhawatiran di daerah tersebut," ujar anggota parlemen Irak ini.

"Agen yang berafiliasi dengan Arab Saudi, UEA, dan rezim Zionis mengirim uang kepada para perusuh untuk mendukung aksi mereka di kota Dhi Qar," tegasnya.

Berbagai kota di Irak, terutama Baghdad, Basra dan Nasiriyah dilanda aksi unjuk rasa dalam beberapa bulan terakhir untuk memprotes pengangguran dan kemiskinan.

Beberapa perusuh membakar ban di depan Perusahaan Minyak Dhi Qar pada hari Senin untuk mencegah karyawan perusahaan memasuki tempat kerja.

 

 

Mohamad Abdul Salam

 

Ansarullah: Saudi dan UEA Jadi Proksi Rezim Zionis di Yaman

Juru Bicara Ansarullah Yaman, Mohammad Abdul Salam menyatakan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menumpahkan darah di Yaman, tapi tidak pernah sekalipun berperang dengan rezim Zionis, bahkan bertindak sebagai proksi Tel Aviv.

"Selama rezim Saudi dan UEA berperang atas nama rezim Zionis di Yaman dengan menghabiskan jutaan dolar, pertumpahan akan terus berlanjut," ujar Abdul Salam hari Selasa (22/9/2020).

Televisi Al-Masirah melaporkan, Mohammad Abdul Salam menilai normalisasi hubungan yang dilakukan sejumlah negara Arab dengan rezim Zionis sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

"Bangsa Palestina telah lama menjadi sasaran rezim yang menormalisasi hubungan mereka dengan Israel," ujar jubir Ansarullah Yaman.

Menyikapi agresi koalisi Saudi terhadap negaranya yang terus berlanjut higga kini, Abdul Salam mengatakan, "AS bersama Arab Saudi dan UEA memilih opsi perang dan agresi militer karena mereka menyadari bahwa Yaman sedang bergerak menuju kemerdekaan,".

"Jika bukan karena revolusi 21 September, Amerika akan memasukkan Yaman di antara negara-negara yang akan mencoba menormalisasi hubungan dengan Zionis," tegasnya.

Tanggal 21 September 2014, rakyat Yaman melancarkan aksi perlawanan terhadap kediktatoran Ali Abdullah Saleh.

 

 

Hamas

 

Hamas: Kesepakatan Abad Pererat Persatuan Faksi-faksi Palestina

Anggota Biro Politik Hamas, Husam Badran mengatakan Kesepakatan Abad dan tindakan melawan rakyat Palestina telah menjadi faktor yang memperkuat persatuan di antara faksi-faksi Palestina.

Badran, seperti dikutip Farsnews, Jumat (25/9/2020) menuturkan perlawanan Palestina harus bersifat komprehensif dan berada di bawah kepemimpinan tunggal.

Dia memandang pertemuan antara delegasi Fatah dan Hamas di Turki dalam beberapa hari terakhir sebagai langkah positif.

"Gerakan Fatah dan Hamas telah menyepakati visi yang komprehensif dan akan segera mengabarkan semua faksi lain tentang butir-butirnya," ujar Badran.

Pada Selasa lalu, delegasi Fatah dan Hamas melakukan dialog di Istanbul, Turki untuk mempercepat proses rekonsiliasi nasional Palestina.

Di akhir pertemuan Istanbul, kedua pihak menekankan kelanjutan upaya dan tindakan kolektif untuk membela hak-hak dan kepentingan bangsa Palestina serta melawan ancaman yang dihadapi Palestina sampai berdirinya negara merdeka Palestina dengan ibu kota al-Quds al-Sharif.

 

Baitullah

 

Arab Saudi: Umrah akan Dibuka Empat Oktober

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Saudi mengumumkan bahwa ibadah umrah akan dibuka secara bertahap mulai empat Oktober 2020 dengan mengikuti protokol kesehatan di tengah penyebaran pandemi Covid-19.

Kantor berita resmi Saudi mengutip seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Saudi melaporkan, pelaksanaan keputusan pembukaan umrah akan dilakukan dalam beberapa tahap.

Pada tahap pertama, warga dan individu yang berada di dalam Arab Saudi akan diizinkan untuk melaksanakan ibadah umrah setiap hari mulai 4 Oktober 2020 dengan kapasitas 6.000 orang, atau 30 persen dari kapasitas yang ditentukan dalam situasi pendemi virus Corona.

Pada tahap kedua, mulai 18 Oktober 2020 untuk warga dan individu di Arab Saudi, yang mencakup 15.000 jemaah umrah dan 40.000 jemaah shalat setiap hari, yang merupakan 75 persen dari kapasitas yang ditetapkan.

Tahap ketiga, mulai 1 November 2020, hingga pengumuman resmi berakhirnya Corona, warga dan orang yang berada di dalam Arab Saudi atau di luar negeri akan diizinkan mengunjungi Baitullah setiap hari dengan kapasitas 20.000 jemaah umrah dan 60.000 jemaah shalat. Jumlah ini 100 persen dari kapasitas yang ditentukan.

Penerimaan jemaah umroh dari luar Arab Saudi juga akan dilakukan secara bertahap dari negara-negara yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Saudi tidak ada risiko Covid-19.(PH)