Dampak Blokade Gaza pada Penanganan Corona
-
Penanganan penyebaran Corona di Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengumumkan bahwa laboratorium pusat Gaza telah menghentikan tes infeksi virus Corona karena kehabisan bahan dan alat di tengah blokade rezim Zionis Israel.
Virus Covid-19 adalah pandemi global yang menyebar dengan cepat, di mana telah mempengaruhi sekitar 67,5 juta orang di seluruh dunia dan membunuh 1,5 juta pasien.
Palestina – seperti negara lain di dunia – menghadapi wabah Corona dengan angka lebih dari 98.000 warga Palestina dinyatakan positif dan 828 orang meninggal dunia. Dari jumlah ini, 25.121 pasien Corona berada di Gaza dan sekitar 140 orang meninggal dunia, serta 170 lainnya kritis.
Perbedaan penting antara Jalur Gaza dan Tepi Barat adalah bahwa Gaza telah diblokade ketat oleh Israel sejak 2006 dan tidak memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan, termasuk bantuan medis dan obat-obatan.
Kemenkes Palestina di Gaza menyatakan bahwa blokade dan larangan pengiriman peralatan medis dari luar telah membuat sistem kesehatan Gaza lumpuh. Ini sebabnya mengapa pemeriksaan spesimen Covid-19 di laboratorium sentral Gaza dihentikan.
Blokade panjang Gaza memiliki konsekuensi yang luas bagi warganya dan Jalur Gaza telah menjadi penjara terbesar dengan angka kemiskinan yang tinggi dan jumlah pasien penyakit kronis terus bertambah. Menurut pengakuan Sekjen PBB Antonio Guterres, Gaza menghadapi sebuah tragedi kemanusiaan yang parah.
Namun, wabah Corona punya kisah yang berbeda karena kekuatan penularan dan angka kematian yang tinggi. Minim atau tidak adanya fasilitas kesehatan untuk mendiagnosis atau mengobati pasien Covid-19, dapat menghambat upaya pencegahan penyakit ini dan memperburuk bencana kemanusiaan di Gaza.
Penasihat Menteri Kesehatan Palestina, Dokter Fathi Abuwarda mengatakan, “Situasi kesehatan di Jalur Gaza sangat parah, jumlah pasien Covid-19 dan angka kematian di rumah sakit-rumah sakit Gaza terus bertambah. Kita akan menyaksikan sebuah tragedi besar di daerah itu.”
Di tengah situasi tragis di Gaza, pemerintah Palestina masih terlibat dalam pertikaian politik dengan faksi-faksi politik di Gaza dan tidak memenuhi kewajibannya untuk Jalur Gaza.
Negara-negara kaya Arab, terutama yang memiliki hubungan normal dengan Israel serta kekuatan-kekuatan dunia, tetap diam dan tidak menunjukkan reaksi apapun dalam hal ini. Padahal, juru bicara Kemenkes Palestina di Gaza, Ashraf al-Qedra menyerukan intervensi segera dari pihak domestik, regional dan internasional serta pengiriman bantuan medis darurat ke Gaza.
Situasi Gaza khususnya di tengah pandemi Corona saat ini, membuktikan bahwa isu hak asasi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan telah menjadi slogan semata, sementara moralitas telah memudar dalam kebijakan dunia. (RM)