Adu Domba antara Asaib Ahl al-Haq dan Pemerintah Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i88702-adu_domba_antara_asaib_ahl_al_haq_dan_pemerintah_irak
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Zona Hijau Baghdad menjadi sasaran serangan roket pada 20 Desember lalu. Tindakan ini memicu kritikan terhadap kelompok-kelompok perlawanan Irak dan menyebabkan ketegangan antara kubu perlawanan dan pemerintah Baghdad.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Des 27, 2020 17:29 Asia/Jakarta
  • Anggota kelompok Asaib Ahl al-Haq.
    Anggota kelompok Asaib Ahl al-Haq.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Zona Hijau Baghdad menjadi sasaran serangan roket pada 20 Desember lalu. Tindakan ini memicu kritikan terhadap kelompok-kelompok perlawanan Irak dan menyebabkan ketegangan antara kubu perlawanan dan pemerintah Baghdad.

Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi dan Menteri Dalam Negeri Osman Ghanimi, kemudian mengatakan bahwa para pelaku serangan tersebut telah ditangkap dan mereka anggota Asaib Ahl al-Haq. Langkah ini memantik gesekan antara Asaib Ahl al-Haq dan pemerintah Irak.

Sejumlah anggota Asaib Ahl al-Haq berkumpul di depan gedung Dinas Intelijen Irak di Baghdad dan mengeluarkan ultimatum agar anggota mereka yang ditahan segera dibebaskan.

“Kami tidak akan menyerah pada tindakan sewenang-wenang dan tidak masuk akal dan kami siap menghadapi konfrontasi yang menentukan jika perlu,” twit Mustafa al-Kadhimi dalam mereaksi ultimatum itu.

Komandan Dinas Kontra-terorisme Irak, Abdul Wahab al-Saadi juga menegaskan pasukan kontra-terorisme siap melindungi Irak dan rakyatnya, serta menunggu perintah dari Panglima Angkatan Bersenjata Mustafa al-Kadhimi.

Ketegangan ini akhirnya mereda setelah para tahanan dibebaskan, tetapi pertanyaannya adalah faktor apa yang memicu ketegangan ini, yang terjadi beberapa kali sebelum ini?

Pemicu utama ketegangan ini adalah kelambanan pemerintah Baghdad dalam melaksanakan resolusi parlemen Irak pada 5 Januari 2020. Parlemen telah menyetujui sebuah resolusi tentang penarikan pasukan AS dari Irak.

Meskipun sebagian tentara AS akan meninggalkan Irak, namun pemerintah al-Kadhimi tidak menuntut penarikan penuh. Padahal, kelompok-kelompok perlawanan Irak mendesak penarikan penuh pasukan AS dan pemeliharaan kedaulatan negara.

Gedung Kedubes AS di Zona Hijau Baghdad.

Setelah muncul konflik antara kubu perlawanan dan pemerintah Baghdad, Sekjen Asaib Ahl al-Haq, Qais al-Khazali menekankan komitmen organisasinya terhadap pemerintah dan lembaga-lembaganya, tapi juga menuntut penarikan penuh pasukan AS dari Irak.

Faktor lain pemicu konflik adalah serangan dan propaganda media-media oposisi di luar Irak. Sebagian media Arab Saudi dan Amerika menyebarkan propaganda untuk mengesankan kelompok perlawanan khususnya Asaib Ahl al-Haq sebagai komunitas anti-rakyat Irak.

Anggota Biro Politik Asaib Ahl al-Haq, Mahmoud al-Rubaie mengatakan media-media Amerika dan Saudi sedang menargetkan kelompok Hashd al-Shaabi dan Asaib Ahl al-Haq serta mencitrakan mereka sebagai kelompok anti-Irak.

Pendekatan media ini, dan tentu saja pendekatan resmi yang diambil oleh pemerintah AS terhadap kelompok perlawanan, menunjukkan adanya sebuah rencana terorganisir untuk menyudutkan kubu perlawanan Irak. Langkah ini didukung oleh beberapa tokoh dan bahkan para pejabat pemerintah Irak.

Menurut Mahmoud al-Rubaie, Kedubes AS di Baghdad memainkan peran utama dalam menyusun renana terorganisir tersebut. “Kedubes AS memainkan peran spionase dan destruktif di Irak,” ujarnya.

Peran destruktif ini dilakukan dengan mencoreng citra kelompok perlawanan dan merusak hubungan mereka dengan pemerintah Baghdad. (RM)