Mengapa Ketegangan antara Palestina dan Israel Meningkat Lagi ?
Ketika militer Zionis Israel terus melakukan kejahatan dan kekerasan terhadap Palestina, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) sekali lagi memperingatkan konsekuensi dari tindakan ini.
Rezim Zionis Israel dan kelompok Perlawanan Palestina telah menyaksikan konflik militer sejak 10 Mei, yang berakhir 12 hari kemudian dengan mediasi aktor asing. Dengan berakhirnya perang, kekerasan dan kejahatan Zionis Israel terhadap Palestina diperkirakan akan berakhir, terutama di al-Quds yang diduduki dan Tepi Barat, tetapi dalam praktiknya skalanya justru meningkat.
Pertanyaannya adalah mengapa Zionis Israel terus melakukan kekerasan dan kejahatan terhadap Palestina meskipun ada gencatan senjata?
Alasan utama kembali ke kondisi internal di Wilayah Pendudukan.
Sekarang ada dua perkembangan besar di Wilayah Pendudukan yang mempengaruhi keputusan politik dan keamanan kabinet Israel. Yang pertama adalah kekalahan dari kelompok Perlawanan Palestina dalam perang 12 hari, yang telah mempertanyakan citra militer dan kebanggaan rezim ini.
Terkait hal ini, Mohammad Hamadeh, Juru Bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di kota al-Quds menekankan bahwa tindakan rezim Zionis dalam meningkatkan kejahatan dan kekerasan terhadap warga Palestina bertujuan untuk memperbaiki wajah rezim ini yang telah tercoreng, wajah tersungkur dan harga diri mereka telah hancur, sementara orang-orang berlindung di tempat penampungan.
Peristiwa penting lainnya adalah kesepakatan para pesaing Benjamin Netanyahu untuk membentuk kabinet dan mencopot Netanyahu dari kekuasaan setelah 12 tahun. Persepsi tokoh dan pejabat Israel adalah bahwa Netanyahu dapat melakukan gerakan subversif untuk menggagalkan para pesaingnya dalam membentuk kabinet.
Dalam hal ini, beberapa sumber Israel menulis bahwa Naftali Bennett, pemimpin Partai Yamina, yang pertama akan mengambil alih jabatan perdana menteri bergilir dengan Yair Lapid, telah diancam akan dibunuh.
Mengabaikan kemungkinan peringatan Hamas oleh Zionis Israel dan Netanyahu yang menyabotase jalur perombakan kabinet dapat menyebabkan perang lain dengan Palestina.
Yonah Jeremy Bob, dalam analisis yang dipublikasikan situs surat kabar The Jerusalem Post menulis, "Nadav Argaman, kepala Shin Bet (Badan Keamanan Israel), mengeluarkan peringatan publik yang tidak biasanya pada hari Sabtu yang menunjukkan situasi saat ini yang provokatif dapat menyebabkan pertumpahan darah yang tragis di Israel. Meningkatnya retorika kekerasan mendorong Shin Bet untuk memulai pengamanan bagi pemimpin partai Yamina Naftali Bennett. Argaman mengatakan, akhir-akhir ini kita melihat wacana kekerasan dan hasutan semakin meningkat dan intensif, terutama di media sosial. Sebagai ketua organisasi yang bertanggung jawab untuk memastikan supremasi hukum dan institusi demokrasi, saya memperingatkan bahwa retorika ini dapat ditafsirkan oleh kelompok atau individu tertentu sebagai melakukan aktivitas kekerasan dan ilegal yang bahkan dapat menyebabkan kerugian bagi individu."
Karena situasi internal yang tidak menentu ini, militer Israel terus dan bahkan meningkatkan kekerasan dan kejahatan terhadap warga Palestina. Kekerasan meningkat ke titik di mana Hamas pekan lalu menyerukan demonstrasi di Tepi Barat pada hari Jumat, dan menyebutnya sebagai hari kemarahan di mana pasukan Zionis Israel menyerang pengunjuk rasa dan melukai sekitar 300 orang.
Menyusul tindakan provokatif ini, rezim Israel berencana mengadakan pawai yang disebut "Pawai Bendera" pada hari Kamis (10/06/2021). Para zionis menggelar Pawai Bendera menuntut pengusiran warga Palestina dari al-Quds, dan ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tingkat ketegangan dengan warga Palestina.
Oleh karena itu, Juru Bicara Hamas Mohammad Hamadeh di al-Quds mengatakan, "Kami memperingatkan rezim pendudukan tentang menggunakan Quds sebagai sarana untuk melarikan diri dari krisis internal dan kegagalannya untuk menyelesaikan masalah politik, dan rezim penjajah harus tahu bahwa pertempuran untuk mempertahankan Quds dan masjid al-Aqsa tidak berhenti dan setiap anggota bangsa kita adalah pedang Quds."
Mengabaikan kemungkinan peringatan Hamas oleh Zionis Israel dan Netanyahu yang menyabotase jalur perombakan kabinet dapat menyebabkan perang lain dengan Palestina.