Turki dan Tuduhan Pemanfaatan Tentara Anak oleh AS
-
Hubungan Turki dan AS
Penambahan nama Turki di list negara-negara pengguna tentara anak di perang Suriah dan Libya, sepertinya akan meningkatkan ketegangan antara Turki dan Amerika Serikat.
Sekaitan dengan ini, pemerintah Turki menunjukkan respon negatif atas penambahan nama Ankara di list negara-negara pendukung pemanfaatan anak sebagai tentara.
Pemerintah Ankara di responnya atas langkah Amerika ini merilis statemen yang menyatakan, “Laporan Deplu AS contoh standar ganda dan perilaku penipuan negara ini.”
Di statemen Kemenlu Turki dijelaskan, “Turki menolah penuh klaim yang dialamatkan kepadanya dan terkait dukungan terhadap hak anak, Ankara adalah anggota organisasi internasional termasuk PBB dan menunjukkan sikap transparan dan bersih soal kasus ini.”
Deplu Amerika Rabu lalu merilis laporan tahunannya terkait “Penyelundupan Manusia (TIP)” dan menambahkan nama Turki dan 15 negara lain di list “Undang-undang Perlindungan Anak”. Fakta ini tidak boleh dilupakan bahwa Amerika untuk pertama kalinya mencantumkan nama salah satu sekutunya di NATO (Turki) ke dalam list negara pengguna tentara anak.
Tak diragukan lagi bahwa langkah Amerika ini akan memperparah ketegangan di hubungan Ankara-Washington.
Meski petinggi Gedung Putih di laporan tahunan Deplu negara ini senantiasa memperhatikan kepentingan nasional dan mitranya, sepertinya sejumlah dakwaan Barat terhadap Turki tidak boleh diabaikan. Militer Turki melancarkan sejumlah operasi di luar perbatasan, khususnya di bumi Suriah, Irak dan bahkan Libya dengan dalih memerangi terorisme.
Tinjauan tentang hubungan lama yang kacau antara dua sekutu NATO, Turki dan Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kurangnya rasa saling percaya dan kecurigaan telah menjadi ciri interaksi bilateral Turki-AS, terutama selama dekade terakhir di kedua negara telah memainkan peran dalam membentuk krisis saat ini.
Terkait hal ini, Amanda Sloat, pakar politik dari Brookings Institution mengatakan, “Kepercayaan antara Turki dan Amerika Serikat telah musnah. Konflik antara Ankara dan Washington khususnya di era pemerintahan Donald Trump terkait pembelian senjata buatan Rusia mendorong kedua negara semakin menjauh.”
Hubungan Turki dengan Amerika mengalami ketegangan sejak tahun 2014 dan setelah Amerika terlibat kerja sama dengan Kurdi, khususnya di urusan internal Suriah untuk melawan Daesh (ISIS).
Di samping dukungan Amerika terhadap Kurdi Suriah, pembelian sistem anti rudal S-400 oleh Turki sebagai anggota aktif NATO dari Rusia, petualangan Turki di Mediterania Timur serta konflik internal di Libya, termasuk faktor yang meningkatkan friksi antara Ankada dan Washington.
Partisipasi di perang internal Suriah yang disertai dengan penentangan AS dan negara Eropa lainnya, serta pengiriman pasukan ke Suriah, serangan ke Irak dengan alasan menumpas anggota Partai PKK yang melarikan diri ke negara ini serta berbagai kasus lain, juga harus ditambahkan di faktor peningkatan ketegangan Turki dan AS selama satu dekade terakhir.
Terkait hubungan Turki dan AS setelah kudeta gagal bulan Juli 2016, harus dikatakan bahwa kedua negara setelah kudeta gagal ini mengalami hubungan yang naik turun.
Isu intervensi Washington di kudeta gagal 15 Juli 2016 di Turki dan ekstradisi Fethullah Gülen, sebagai dalang utama kudeta oleh pemerintah Washington, disebut-sebut sebagai dua faktor yang memicu eskalasi ketegangan kedua negara.
Kesimpulannya adalah kondisi AS dan Turki yang saling menjauh terjadi ketika Ankara sangat bergantung kepada Washington dan negara Barat lainnya. Meski ada tensi, tapi sepertinya pejabat Ankara belum sepenuhnya pesimis atas perluasan hubungan dengan pemerintah Barat dan berbagai organisasi di bawah Barat, khususnya Amerika, Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Pejabat Ankara berharap meski negaranya menunjukkan sikap independen dan melawan kebijakan Amerika dan Eropa di Asia barat, mereka akan melanjutkan hubungan dengan Barat. (MF)