Isu Fasisme dan Tantangan Mendatang Pemilu Prancis
https://parstoday.ir/id/news/world-i110500-isu_fasisme_dan_tantangan_mendatang_pemilu_prancis
Kurang dari enam bulan menjelang penyelenggaraan pemilihan presiden Prancis, suhu politik di negara itu telah berubah dan ketegangan politik meningkat dengan pengumuman resmi nama-nama kandidat dari berbagai partai. Di awal kampanye pemilu pertama di negara ini sudah disertai dengan kekerasan dan protes.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Des 07, 2021 08:08 Asia/Jakarta

Kurang dari enam bulan menjelang penyelenggaraan pemilihan presiden Prancis, suhu politik di negara itu telah berubah dan ketegangan politik meningkat dengan pengumuman resmi nama-nama kandidat dari berbagai partai. Di awal kampanye pemilu pertama di negara ini sudah disertai dengan kekerasan dan protes.

Eric Zemmour, kandidat sayap kanan dalam pemilu presiden Prancis yang secara resmi mengumumkan pencalonannya untuk pilpres 2022 pada pekan lalu mengatakan bahwa dirinya ingin menarik Prancis keluar NATO.

Dia mengumumkan statemen ini pada rapat umum di pusat pameran Villepinte di pinggiran Paris. Menurutnya, bangsa Prancis tidak akan pernah menjadi boneka Uni Eropa dan mengumumkan pembentukan gerakan politik yang disebut Reconquete.

Zemmour juga menjadi penentang keras penerimaan imigran di Prancis.Bahkan menyarankan agar semua imigran ilegal dideportasi dari Prancis, dan pencabutan kewarganegaraan Prancis bagi kriminal dari negara lain yang datang ke negaranya.

Salah satu tokoh paling kontroversial kubu sayap kanan ini selalu mengambil garis keras terhadap Muslim dan imigran, sehingga ia disebut sebagai "Trump Prancis".

Jurnalis Prancis ini secara signifikan memasuki arena politik pada bulan September dengan meluncurkan bukunya yang berfungsi sebagai kampanye  terselubung.

Langkah zig-zag Zemmour telah memicu banyak kontroversi di Prancis, termasuk munculnya demonstrasi pada hari Minggu yang memprotes pencalonannya dalam pemilu presiden Prancis mendatang. Pada saat yang sama, para pendukungnya juga turun ke jalan, sehingga memicu konflik. Setidaknya 45 pendukung dan penentang Eric Zemmour ditahan selama protes, dan banyak yang terluka, bahkan beberapa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

 

Emmanuel Macron

 

Juru bicara kelompok anti-fasis, Simon D mengatakan, "Kami tidak bisa memberikan ruang bagi mereka di mana pun. Pikiran mereka tidak jernih dan penuh kebencian. Kami berkumpul melawan kebencian dan dendam mereka untuk menunjukkan bahwa kami berjuang untuk kesetaraan, hak-hak perempuan dan pencari suaka,".

Pemilu yang akan datang menjadi momentum yang penting dan krusial bagi Prancis dan Eropa secara keseluruhan. Sejumlah isu seperti penanganan Covid-19, pertumbuhan ekonomi yang menurun, pengangguran dan kemiskinan yang meningkat, masuknya pencari suaka, tumbuhnya kelompok-kelompok ekstremis anti-Islamisme, dan tumbuhnya gerakan protes menjadi salah satu isu utama dalam pemilu presiden Prancis mendatang.

Isu-isu ini juga telah mengurangi popularitas petahana Presiden Prancis Emmanuel Macron, sekaligus mengurangi partisipasi politik di negara itu.

Selama beberapa bulan terakhir, popularitas Macron anjlok. Penanganan krisis Corona dan komentarnya yang keliru tentang berbagai masalah, termasuk terhadap umat Islam, yang telah memicu kecenderungan rasis dan anti-Islam di Prancis dan Eropa, telah membuatnya lebih kecil kemungkinan untuk memenangkan pemilu presiden mendatang.

Pada saat yang sama, Macron belum mengumumkan pencalonannya untuk pemilu presiden mendatang di Prancis yang akan digelar pada April 2022.

Sementara itu, jajak pendapat terbaru menunjukkan Eric Zemmour dan Marine Le Pen, dua tokoh sayap kanan Prancis, akan menjadi saingan utamanya, jika mereka maju pada pilpres mendatang. Masalah ini telah menimbulkan keprihatinan serius antara faksi tradisional Prancis dan arus pemersatu di seluruh Eropa.(PH)