Menimbang Posisi Ukraina di Mata AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i110694-menimbang_posisi_ukraina_di_mata_as
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden Rabu (8/12/2021) kepada wartawan saat menjawab pertanyaan, apakah pasukan AS akan dikerahkan untuk melawan serangan potensial Rusia ke Ukraina, mengatakan,"Untuk saat ini opsi tersebut belum ada di atas meja."
(last modified 2026-03-10T11:25:59+00:00 )
Des 09, 2021 20:57 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Joe Biden
    Presiden AS Joe Biden

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden Rabu (8/12/2021) kepada wartawan saat menjawab pertanyaan, apakah pasukan AS akan dikerahkan untuk melawan serangan potensial Rusia ke Ukraina, mengatakan,"Untuk saat ini opsi tersebut belum ada di atas meja."

Ia menekanan."Kami sepenuhnya komitmen untuk membela sekutu kami di NATO jika diserang, tapi komitmen ini tidak mencakup Ukraina." Presiden Amerika menambahkan, negara ini tidak akan menggunakan militernya melawan Rusia secara sepihak dan juga tidak akan menempatkan pasukan Amerika sebagai alat represi untuk mencapai solusi di konfrontasi Rusia dan Ukraina.

Sikap Biden ini sebuah bentuk sikap mundur dari sikap Washington sebelumnya dan juga NATO terkait jawaban militer potensial atas setiap serangan militer Rusia ke Ukraina. Faktanya berdasarkan butir kelima anggaran dasar NATO, organisasi militer Barat ini berkewajiban membela bersama setiap anggotanya jika mendapat serangan militer. Meski demikian, meski ada kerja sama dekat NATO dan Ukraina, khususnya selama dua tahun terakhir, tapi aliansi militer ini dari sisi hukum tidak dapat membela Ukraina jika diserang oleh Rusia.

Sebelum statemen terbaru Biden, pejabat NATO khususnya Sekjen organisasi ini, Jens Stoltenberg dan juga sejumlah pejabat senior militer dan pertahanan Amerika seperti Menteri Pertahanan Lloyd Austin menekankan untuk melakukan perlawanan militer atas segala bentuk serangan potensial Rusia terhadap Ukraina. Sementara di dalam tubuh NATO sendiri ada friksi yang jelas terkait mekanisme membalas Rusia jika Moskow menyerang Kiev.

Konflik Ukraina dan Rusia

Paling tidak sebelum sikap terbaru Biden, Amerika Serikat, Inggris dan Kanada menuntut respon tegas militer terhadap masalah ini, sementara Jerman dan Prancis sebagai negara pertama dan kedua terbesar di Eropa anggota NATO menolak masalah ini dan tidak menghendaki konfrontasi militer dengan Rusia.

Masalah lain yang diumumkan Biden sehari setelah panggilan video dengan Presiden Rusia Vladimir Putin adalah pengumuman pertemuan dengan Rusia dan anggota NATO untuk mengatasi kekhawatiran Moskow, terutama mengenai ekspansi NATO ke timur. Ini menunjukkan bahwa Biden tampaknya telah menyimpulkan bahwa tuntutan Rusia harus diperhatikan untuk mengurangi ketegangan saat ini antara Rusia dan Barat, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam periode pasca-Perang Dingin. Moskow telah berulang kali menyatakan bahwa keanggotaan negara-negara tetangga Rusia di NATO, yang dikenal sebagai "Zona Luar Dekat," adalah garis merah dalam keamanan nasional Rusia dan akan ditangani dengan tegas.

Poin penting lainnya adalah bahwa tidak ada konsensus teoretis di antara para anggotanya tentang masalah keanggotaan Ukraina di NATO. Sementara Amerika Serikat ingin memperluas NATO lebih jauh ke timur dan keanggoataan negara tetangga Rusia yakni Ukraina dan Georgia, sejalan dengan tujuan yang lebih besar untuk mengontrol Rusia. Sementara anggota utama NATO Eropa, terutama Jerman dan Prancis, tidak memiliki pandangan positif. Kedua negara yang juga merupakan anggota terpenting Uni Eropa ini sangat menyadari bahwa Rusia akan bereaksi keras terhadap masalah ini.

Masalah lain terkait keanggotaan Ukraina di NATO adalah pada dasarnya negara Eropa timur tidak memiliki syarat yang ditentukan di anggaran dasar NATO untuk menjadi anggota aliansi militer ini.

Mantan sekjen NATO, Anders Fogh Rasmussen mengatakan,"Ukraina butuh untuk merealisasikan sejumlah tolok ukur jika ingin bergabung dengan NATO. Sementara butuh waktu panjang untuk melaksanakan tolok ukur tersebut." (MF)